Jumat, 16 Mei 2014

Suara-Suara Angin (episode 2)

Rintik hujan menari-nari di keheningan malam. Menyisakan dingin yang menusuk-nusuk hingga tulang. Usai menunaikan kewajiban, Mala merebahkan tubuh ke kasur yang belum genap setahun menjadi bagian dari kamarnya itu. Kasur pemberian Saman sebagai salah satu syarat pernikahan. Mala menatap kamarnya penuh dan haru. Telapak tangan kanannya meraba tempat tidur dengan lembut. Aroma kain seprai masih baru. “Hmmh…andai saja!” bisiknya lirih. Lalu sesaat kemudian, suasana kembali basah. Membanjiri wajah Mala hingga sarung bantalnya ikut basah.
“Assalamu’alaikum, Mala, makan malam sudah siap, Nak! Makan dulu yuk!”
sapa Ibu. Tak ada jawaban. Maka diulang sekali lagi, “Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam, bu. Duluan aja! Mala belum kenyang.”
Ibu menghembuskan nafas dalam-dalam. “Mala, jangan begitu! Siang kamu tak makan, bagaimana bisa kenyang?”
“Mala tadi makan di luar, Mak!” Mala bohong.
Kreeek.. ! Ibu akhirnya membuka pintu. “Mala, makan sedikit saja yuk, Nak!”
“Enggak, Mak! Mala nggak selera. Jangan paksa Mala!”
Ibu mendekati Mala. Ditatapnya Mala tengah berusaha menutupi mata yang lembab. “Mala, Ibu tahu kamu sangat terpukul, namun bukan berarti kau jadi lemah terus-menerus begini. Mau sampai kapan, Mala? Kamu harus yakin bahwa ini ujian dari Allah. Kamu pasti bisa melewatinya. Bangkit lah sayang!”
Hening. Tak sepatahpun kata terlontar dari mulut Mala. Hanya air mata yang terus mengalir dan mengalir dari mata Mala. Air mata itu seolah keluar dari bendungan yang pecah karena tak mampu menanggung beban air yang terlampau besar.
          Pagi kembali menyapa bumi Serambi Mekkah. Hari ini ahad. Ayah dan Ibu telah menyiapkan segala keperluan untuk berakhir pekan. Pelabuhan Kuala Langsa adalah tujuan utama. Sejak dulu Mala dan keluarga memang senang berlibur. Tempat yang dikunjungi pun beragam, dari tempat yang dekat hingga jauh sekalipun. Langsa, Medan, Lhokseumawe, Banda Aceh hingga jalur pesisir Meulaboh, Tapak Tuan, hingga Takengon semua telah dijelajahi oleh keluarga pecinta traveling ini. Hanya saja, kali ini Fauzan, adik Mala tidak ikut serta karena tengah menjalani pendidikan di Banda Aceh.
“Mala, udah siap, Nak? Yuk!” Mala keluar kamar. “Loh, Mala kenapa belum siap? Kan udah daritadi Mak dan Bapak tunggu?” “Mala gak enak badan, Mak, Pak. Mala enggak ikut, ya!” Bapak menempelkan punggung tangannya di dahi Mala. “Iya, Bu. Badan Mala Panas.” Ibu pun turut menempelkan telapak tangannya di dahi Mala. “Ya Allah! Panas badanmu, Nak!”
“Yasudah, jalan-jalannya kita tunda saja dulu,” saran Bapak. “Loh, kok gitu Pak? Jangan dong! Kan Mak sama Bapak aja yang pergi, biar Mala yang jaga rumah,” sahut Mala merasa tidak enak. Bapak menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kita rekreasi kan buat Mala. Nah, kalo Mala tak ada, untuk apa?” Ujar Bapak. Ibu mengeluarkan kotak-kotak berisi makanan dari keranjang makanan. Mala yang merasa usahanya gagal segera melengos ke dalam kamar. Diraihnya sebungkus air hangat dari atas meja lalu dilemparnya ke lantai. Sesaat kemudian ia sadar akan kebodohannya.      
***

          Pepohon bergoyang-goyang diterpa angin sore. Langit mendung. Jalanan sepi. Sebentar lagi air ditumpahkan dari langit. Mala menatap langit dari teralis jendela kamarnya. Ia ingin sekali menangis. Tapi, orang tua Mala tentu tidak akan tinggal diam bila itu terjadi. Ibu maupun bapak Mala segera menghibur dan berusaha menghentikan tangis Mala. Namun, hal itu justru membuat Mala terusik. Mala sungguh ingin menumpahkan air matanya sebanyak mungkin. Mala ingin menangis sepuas-puasnya. Tanpa ada yang mengusik. Hingga ia lelah sendiri. Hingga air matanya mampat tak mampu keluar lagi. Dan, mungkin itu akan sedikit mengurangi beban Mala yang begitu berat. Dan, mungkin itu akan mengalihkan perhatiannya dari bayang-bayang Saman, walau sejenak. Dan, mungkin itu akan menghapus jejak-jejak kisah kasihnya bersama Saman, kendati sedikit saja.

bersambung...

Senin, 12 Mei 2014

HIPISA (Himpunan Pelajar SMA Negeri 1 Langsa)

HIPISA (Himpunan Pelajar SMA Negeri 1 Langsa)
(Begitu sederhana, bersahaja, apa adanya)
Ada yang bertanya padaku baru-baru ini. Pertanyaan itu disampaikan dengan intonasi yang menunjukkan bahwa ia merasa heran. Pertanyaannya yang pertama adalah, sebenarnya HIPISA itu seperti apa sih? Sembari tersenyum, kujawab, “ HIPISA itu adalah organisasi keislaman sekolah yang belum ada tandingannya dengan organisasi manapun baik  organisasi umum maupun keislaman pula. Itu terbukti dari beberapa pengakuan alumni.”
Lantas ia kembali bertanya, “Tapi, aneh, mengapa sekarang anggota HIPISA lain, tidak seperti dulu?” Aku mengernyit, “Maksudnya?”  
“Ya, contohnya saja yang akhwat, belum lama, kulihat anggota HIPISA cewek yang sekarang, jilbabnya tak sebesar waktu angkatanmu dahulu?”
“Ouh, itu biasa. Belum waktunya. Toh, angkatan di atasnya yang baru tamat besar-besar juga jilbabnya. Tuh, letting Me….”
“Ouh, ya.. yang kumaksud kan yang leting di bawahnya”
“Mungkin, kamu cuma lihat sebagian saja”
“Lagian, memang ada masanya, kok! Dulu adik-adik leting di bawahku juga jilbabnya tidak sebesar letingku, tapi tetap ada kelebihan mereka, yang tidak dimiliki leting lain. Intinya, masing-masing leting ada kelebihan dan kekurangannya.”
“Jadi, mengapa yang alumni, saya lihat sudah banyak yang berubah. Bahkan ada yang dulu selalu aktif bahkan pernah menceramahiku tentang pacaran, dia sendiri sekarang pacaran.”
“Ouh, itu karena iman manusia suka keluar masuk.”
“Jadi, kemana arti kalimat dakwahnya dulu?”
“Makanya, HIPISA itu adalah organisasi paling keren menurutku. Ia begitu kuat pengaruhnya. Bagi yang tengah berada dalam naungannya, bisa dipastikan ia terjaga dengan aturan HIPISA. Namun, bila keluar dari itu, siapa yang bisa menjamin? Bukan karena HIPISA itu organisasi keramat, namun sistem yang dimiliki HIPISA, kekeluargaan yang melekat pada jati diri HIPISA begitu kuat, prinsip yang dipegang HIPISA pun bukan semata buatan manusia, namun Al-Quran. Kalau banyak anggota yang telah futur setelah  keluar/lulus dari HIPISA, itu kembali pada diri masing-masing. Toh, tetap ada yang istiqomah dengan pelajaran yang ditanamkan HIPISA lalu Berjaya. HIPISA hanya wadah, alat, jembatan untuk memperbaiki diri, sedangkan anggota HIPISA, hanya konsumen, yang bebas memilih, tetap berpegang teguh dengan prinsip yang diajarkan, dilatih, atau ditanamkan selama di HIPISA atau memilih jalan berbeda yang menurutnya itu baik. Jadi, jangan serta merta menjustifikasi HIPISA itu negatif, hanya gara-gara perubahan segelintir anggota/alumni .”
“Mengenai politik?”
“HIPISA itu organisasi dakwah sekolah, bukan partai politik.”
“Yakin?”
“Yakin, kalaupun ada pihak politik yang dekat dengan HIPISA, itu adalah saudara bagi kami. Ya, meskipun, tak sedikit pula, anggota/alumni yang kemudian memilih jalan politik untuk melanjutkan misi dakwahnya. Cara orang kan beda-beda, yang penting halalan toyyiban.”
“Oh, begitu.”
“Ya, ada yang memilih jalan politik, ada yang melalui karya tulis, bisnis, pendidikan, dan , lain-lain.”
“HIPISA tetaplah HIPISA.
HIPISA tetap putih, tidak pernah berubah warna.
HIPISA tetap tempat menjadi kompas  bagi siswa SMANSA LANGSA .
Mau disadari atau tidak, anggota HIPISA bahkan alumninya tetap menjadi selebriti sensasional.
Terbukti, ada fans yang masih saja memperhatikan HIPISA, bahkan begitu dalam sepertinya.
Itu pertanda bahwa efek HIPISA begitu besar melekat di bahu anggota/alumni HIPISA
Itulah HIPISA. Mau anggota/alumninya berubah warna seperti bunglon sekalipun, HIPISA tetap mempunyai warnanya sendiri. Putih, dan bersinar.”

Cerita ini base on true story dengan sedikit banyak penambahan.

Lamprit, Mei 2014

Suara-Suara Angin (episode 1)

Sulur-sulur daun kelapa menjuntai tertiup angin sore.  Jalanan tampak ramai oleh anak-anak maupun muda-mudi yang tengah menikmati akhir pekan. Tampak pula di salah satu sudut seorang wanita muda tengah duduk termenung sendiri. Tatapannya lurus ke depan, namun kosong. Wajahnya pucat serupa lilin lebah.  Jilbabnya kusut, sekusut pikirannya saat ini. Bayangan itu pun muncul kembali. Selalu saja manakala sunyi melanda diri.

Malam yang gerimis. Angin kencang. Petir menyalang. Lelaki itu menggedor pintu seperti orang kesurupan. Perempuan muda yang baru saja menuntaskan rakaat akhirnya lantas buru-buru membuka pintu. “Maaf, mas. Saya baru selesai shalat ,“ ucapnya sembari menutup pintu lalu menguncinya kembali.  Lelaki itu diam saja. Tubuhnya basah kuyup. “Mas, mau kumasakkan air hangat dulu untuk mandi atau langsung mandi?” Lelaki itu tak menjawab. Ia lantas segera melesat ke kamar mandi lalu membersihkan tubuh. Perempuan muda bernama lengkap Nurmala pun terdiam. Ia hanya merasa bahwa ada yang aneh pada diri lelaki yang telah hampir setengah tahun menikahinya itu.

Malam kian larut. Nurmala menanti suami di ruang makan. Namun, tak jua ia mendengar telapak kaki sang suami menghampirinya seperti biasa. “Sayang….masak apa hari ini?” Kalimat yang telah amat dihafal oleh Mala. Lalu sesaat kemudian sang suami akan memeluknya erat dan hangat. Dan terobati lah rasa rindu di hati Mala setelah seharian berpisah. Namun, malam ini sepertinya berbeda. Entah oleh sebab apa. Lantas Mala pun berniat menjemputnya. Sayang, ternyata lelaki itu telah tertidur pulas. Mala hanya bisa tersenyum. Getir. Pasalnya lelaki itu tak pernah lantas tidur walau selelah apapun. Paling gak dia memberi kabar agar Mala tak perlu menunggu lama. Sudahlah, mungkin dia sedang menghadapi masalah besar di kantornya….husnudzon, Mala! Husnudzon! Mala lantas menyantap makanan seorang diri malam itu. Dan, itu adalah awal dari kehancuran mahligai yang baru saja dibangun dengan susah payah oleh sepasang kekasih itu. Mala dan Saman. Awal dari alasan mengapa Mala dan Saman harus berpisah. Menyisakan serpihan-serpihan kenangan yang sesekali membuat Mala tersenyum, lalu sesaat membuatnya meneteskan air mata.
Siang nan terik. Mala tahu ini adalah hari yang baik untuk ia dan Saman pergi berlibur. Kalau perlu berbulan madu singkat. Betapapun, kesibukan beberapa pekan ini lumayan mengganggu kemesraan hubungan mereka berdua. Maka, tepat ketika Saman selesai menghabiskan sarapannya, Mala pun angkat bicara, “Bang, keluar yuk! Refreshing! Kita kan udah lama gak jalan-jalan berdua! Aku kangen… ,” bujuk Mala, manja. Saman tak menyahut sepatahpun. Ia justru beranjak dari kursi lalu melesat ke ruang kerja.
“Bang, kenapa tak menjawab? Gak mau ya?” 
“Aku capek, Mala. Ini hari libur. Lebih baik kita isi stamina kita masing-masing untuk seminggu ke depan. Pekerjaanku di kantor menumpuk! Tahu!”
“Ooh, begitu ya? Tapi, apa abang mesti menjawabnya dengan kasar begitu? Tak bisa ya kalau bicaranya biasa aja?” Air mata Mala mengalir begitu saja di pipi putihnya.
“Kamu ini kenapa? Akhir-akhir ini sensi aja kerjanya? Bentar-bentar bilang aku kasar lah…terus nangis lah!”
“Tanyakan sendiri pada dirimu, Bang! Aku capek!” Mala tak sanggup. Ia lari ke kamar. Meninggalkan Saman dengan ekspresi yang berubah. 

***

Ini sudah bulan kesembilan pernikahan. Saman tetap belum berubah. Ia masih kaku, bahkan semakin kaku sejak tiga bulan lalu. Hingga saat ini, Mala pun belum jua dapat menemukan penyebab perubahan sikap suaminya. Ia bersyukur, masih ada banyak orang di sekeliling yang mampu menghiburnya. Mereka pun belum tahu perihal keretakan hubungannya dengan Sam. Namun, bau-bau ketidakwajaran sesekali tercium oleh sahabat dekatnya, Jamila. “Kau kenapa Mala? Matamu sembab seperti habis nangis gitu?” Jika ditanya begitu Mala hanya menjawab singkat, “Tak apa-apa. Semalam nonton film india. Sedih banget filmnya. Jadi, aku nangis gitu saking terbawanya. Hehe.” Jamila tau bahwa sahabat sejak SMP-nya itu sangat senang dengan film India. Namun, apa mungkin hampir setiap malam Mala menangis karena nonton film India? Memangnya Mala cuma punya stok film India yang berjenis tragedi? Setahu Jamila film India tak semuanya bersifat galau. Justru di zaman modern ini harusnya banyak yang lebih ceria. Ah, Allahu’alam! Mudah-mudahan saja tak terjadi hal-hal buruk terhadap Mala. Aamiin.  Jamila hanya bisa berdoa dalam hati. Nyaris setiap hari.
***

Mala mengambil mushaf. Matanya berlinangan air mata. Pipinya lembam. Ia tahu bahwa Saman lelaki shaleh. Tapi, ia tak menyangka bahwa Saman akan sampai hati memukulnya dengan kalap hanya gara-gara Mala tak mau melayaninya. Mala sungguh bukan tak mau. Mala hanya meminta untuk menunda setelah ia beristirahat sebentar. Malam itu Mala memang sangat lelah. Sepulang dari sekolah ia langsung ke supermarket membeli segala macam keperluan dapur dan juga bahan-bahan untuk dimasak hari itu. Ia yakin sekali bahwa malam itu Saman akan pulang lebih awal dan berubah kembali seperti beberapa bulan lalu. Begitu ia setiap hari berharap dan berdoa. Pasalnya, tiap kali bersitegang, Saman tak pernah menjawab satu pertanyaan Mala, “Apa salah Mala, Bang? Mengapa Abang berubah?” Mala pun pulang membawa beberapa barang kemudian disusul sebuah becak mesin yang membawa sisa barangnya yang berat dan banyak itu.    
Usai membersihkan rumah. Mulailah Mala sibuk sendiri di dapur. Ia masak banyak sekali makanan. Ada sayur pliek, sayur rebus, sambal belacan, ayam tangkap, dan ikan digulai Aceh. Tak lupa ia masak kue bolu khasnya yang menjadi kesukaan Saman sewaktu baru-baru menikah. Mala tak perlu khawatir bahwa Saman akan bersikap dingin lagi padanya. Karena, untuk urusan makan, Saman selalu lebih memilih di rumah. Ia tak begitu suka makanan di luar. 

Makanan pun telah terhidang dengan cantik. Secantik rupa dan penampilan Mala saat itu. Ia menanti sejak bakda isya hingga pukul sebelas lewat, Saman belum juga muncul. Sayup-sayup mata mala terpejam. Ia mulai merasakan lelah melingkupi tubuhnya. Pegal-pegal mulai terasa, di bagian tangan, kaki, lalu badan. Kelelahan membuatnya mengantuk. Hingga tertidur selama beberapa menit, lalu terbangun oleh suara ketukan pintu. “Abang pulang..” Mala bangkit dengan jalan tergopoh. 

Usai mandi Saman segera menghabiskan makanan. Ia begitu manis malam ini. Mungkin karena ia sadar, istrinya telah berupaya memasak dan berdandan cantik untuknya malam ini. Mala pun tampak berbinar saat Saman meminta tambah nasi. Begitu pula saat Saman mengucapkan terima kasih dengan lembut. Walau tak selembut beberapa bulan lalu. “Sama-sama, abang..” Mala bersyukur banyak-banyak dalam hati. Ia berharap itu bukan mimpi. Namun, semua itu berakhir kala Saman mendekatinya lalu hendak menciumnya. Mala berkata, “Bang, aku tidur setengah jam aja dulu boleh ya? Biar lebih fit. Aku capek banget soalnya. Takutnya nanti abang kecewa.” Seketika itu pula ekspresi Saman kembali seperti semula. Mala merasa tak enak hati. Ia menyesal, lalu mengejar Saman yang berlalu ke kamar tanpa bersuara. “Bang, aku minta maaf, baiklah kalau….” Langkah Saman terhenti, “Tak usah, abang sudah tak bergairah!”
“Bang….maafkan adek!” Saman melesat ke kamar, lalu menghempaskan tubuh ke kasur.  Mala merasa tak puas, ia terus berusaha. “Bang, Ayok! Aku mau! Adek gak jadi tidur!” Saman tak bergeming. “Bang…..hiks!” Saman bangkit, “Dengar, kalau kamu memang tak mau bilang saja! Tak usah pakai alasan segala! Lagian saya kan sudah bilang, tak bergairah lagi! Dengar!”  Mala menggigit bibit. Saman kembali membaringkan badan. Mala benar-benar menyesal telah merusak suasana. “Bang, abang..maaf….” Saman menutup telinga dengan bantal. “Jangan seperti anak kecil, Mala!” Mala naik pitam, kelelahan yang teramat besar ditambah kesedihan mendalam karena sikap Saman membuatnya kalap. “Bang Saman, sebenarnya yang seperti anak kecil siapa? Ha? Kau berubah sejak tiga bulan lalu secara tiba-tiba! Tanpa alasan yang jelas kau selalu bertingkah seperti orang lain! Kata-katamu kasar! Sikapmu bahkan lebih rendah dari bocah ingusan! Malam ini, katakan! Katakan bang! Apa salahku hingga kau berubah begini! Katakan jika kau membenciku! Atau sekalian saja ceraikan aku! Talak aku bang! Hiks….hiksss! Mala meraung. Berteriak-teriak seperti orang gila. “Plak!” Satu tamparan keras melayang di pipi basah Mala. Mala terhuyung. Pingsan. Paginya ia menemukan diri terbaring di kasur dengan ditemani sepucuk surat terlipat rapi di sisinya.

Teruntuk Nurmala
Assalamu’alaikum
Maaf, atas segala sikapku yang menyakitimu…
Maaf atas dosaku yang begitu besar hingga membuatmu terzalimi selama beberapa bulan ini. Sungguh, aku telah berupaya agar dapat mencintaimu dengan tulus. Namun, bayangan almarhum Syifa tak pernah lekang dari ingatan. Baru kusadari, selama ini aku hanya terlena karena kemiripan yang ada padamu dengan Syifa. Aku tak dapat mencintaimu, Mala. Aku tahu ini salah. Tapi, kita baru saja menikah. Aku dilema oleh kegelisahan ini. Hingga akhirnya bermuara pada sikapku padamu yang berubah. Aku tak ingin mambuatmu semakin tenggelam dalam harapan palsu. Namun, yang terjadi justru kau tersakiti. Maafkan aku, Mala.
Aku bingung mencari solusi untuk masalah ini. Selama tiga bulan aku merasa dihantui rasa bersalah karena bersikap keras padamu. Tapi, kau terus saja bertahan. Oleh karena itu, semalam aku ingin segera menghentikan semua ini. Aku tak ingin kau lebih lama lagi terluka. Aku sengaja pulang telat tadi malam. Dengan begitu kutahu, kau pasti telah sangat lelah. Kau tentu akan menolak bila aku minta untuk  melakukan itu. Oleh karena itu, aku sengaja melakukannya untuk memancing amarahmu, lalu meminta cerai.  Dan, itu berhasil.
Betapapun, kau tak salah, Mala. Aku yang salah! Aku yang jahat! Aku yang berdosa! Kuharap dengan kita berpisah, kau akan terlepas dari penderitaan bersamaku. Aku yakin, cepat atau lambat, kau akan menemukan kebahagiaanmu. Aku akan selalu mendoakanmu. Wassalam
“Kriiiiing!” Suara telepon genggam itu memecah lamunan Mala. Wajahnya telah bersimbah air mata. Ia tolak panggilan itu. Lalu bangkit dari tempat duduk. Pulang.



Bersambung...
 

Mencari Apa?

Jalanan bagaikan sehelai selendang yang terus bergelombang, membentuk gelombang
Terik mentari menggigit kulit hingga tulang terasa nyeri
Sesekali angin menghampiri, namun sekejap saja lalu pergi
Aku tak perduli
Aku tetap berlari
Menyusuri  sunyi
Mencari erti
Mencari hakikat
Mencari
Mencari
Apa yang harus dicari
Apa?
Apa?


U. K. 2014

Selasa, 06 Mei 2014

Panggil "Kami" dari Syurga (Serial 3PEN)



PAwalnya giliran Jani. Ia pun menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan padanya. Setelah ditimbang, ternyata lebih berat amal kebaikannya. Akhirnya, ia pun dimasukkan ke syurga paling bawah, yakni syurga Khuldi. Betapa bahagia Jani kala itu. Tak lama kemudian, tiba giliran Icud. Ia pun diminta pula pertanggungjawaban atas amal perbuatannya selama di dunia. Dan seperti biasa, dia tak bisa jauh dari kakak tertua. Ia lantas dimasukkan ke syurga Khuldi setelah ditimbang amal baiknya yang lebih berat. SubhanAllah.

Siti, adik termuda. Ia pun akhirnya mendapat giliran. Seluruh pertanyaan yang dilontarkan dijawab oleh empunya perbuatan. Apa yang dibicarakan oleh mulut. Ke mana dilangkahkan kaki. Tangan digunakan untuk apa. Telinga mendengar apa. Dan lain-lain. Semua telah dijawabnya dengan jujur. Oleh karena itu, mana kala ia hendak berbohong tentang kejahilan kakak pertama dan kedua 3PEN selama di dunia, ia tak mampu melakukannya. Mulutnya terus saja menyerocos tentang perbuatan-perbuatan kakak-kakak 3PEN-nya yang begitu sering mendhaliminya selama di dunia. Akhirnya, Jani dan Icud pun yang tengah asik dengan kenikmatan syurga ditransmigrasikan ke neraka. Dan, Siti pun dimasukkan ke syurga.

Hari terus berlalu. Awalnya Siti sangat menikmati kenikmatan syurga, bahkan hingga hari keempat pun ia masih merasa bahagia. Bagaimana tidak? Syurga gitu loh! Tapi, apalah daya. Ikatan cinta 3PEN begitu kuat di hatinya. Hingga ia merasa sangat rindu dan ingin bertemu dengan kedua kakak 3PEN-nya. Ia merasa, bertiga adalah lebih membahagiakan daripada hidup dalam kesendirian tanpa kedua kakaknya. Dalam kerinduannya itu, ia pun mendapat ide. Ia pun menghadap Tuhan untuk merealisasikan idenya tersebut.

Dalam neraka yang gelap, panas, dan ganas itu, Icud dan Jani merasa begitu tersiksa. Mereka merasa lapar, dahaga, kesakitan, dan juga sangat merindukan Siti, adik termuda. Tiba-tiba, sebuah suara memanggil-manggil, menyebut nama mereka berdua. Mulanya mereka tak percaya,“Kakak tertua, coba dengar, bukankah itu seperti suara adik termuda?” Sahut Icud. “Ah, itu Cuma halusinasi kamu saja, adik kedua!” Jawab Jani. “Hmm. Ya, bisa jadi, bisa jadi. Mungkin karena kita amat merindukannya ya Kakak tertua.” Imbuh Icud. “Bisa jadi, bisa jadi”. Dan kemudian suaranya makin jelas. “Kakaaak, Kakaaaaak!” Teriak Siti dari kejauhan sembari berlari menuju arah Jani dan Icud.“Hahh, Siti! Adik termuda! Mengapa kau di sini?” Tanya Jani terkejut tatkala Siti mendekat. “Iya Adik termuda, bukankah tempatmu di syurga?” Sambung Icud keheranan. Siti pun seperti biasa terdiam sejenak. Ia mengatur nafasnya, lalu berfikir panjang. “Adik termuda! Mengapa Kau diam?” Tanya Icud tak sabar. “Hmm. Adik termuda, Kau belum berubah rupanya!” Tambah Jani. Lantas Siti pun bersuara, “Kakak tertua, Kakak kedua, sesungguhnya adikmu ini sangat menikmati syurga yang sangat besar kenikmatannya. Namun, apalah daya, aku merindukan kalian Kakak! Aku merasa akan lebih berbahagia bila terus bersama kalian. Maka, kuputuskan untuk transmigrasi ke sini. Jadi, kita bisa sama-sama terus! Ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Jani dan Icud pun merasa haru. Mereka lantas berpelukan layaknya di film teletubis. “Ohh, adik termuda, kau begitu setia!” Kata Jani. “Kau atau aku belum tentu melakukan ini, Adik kedua!” Imbuhnya. “Hiks, iya kakak!” Timpal Icud. “Hiksssssss” Pelukan mereka kian erat. Hingga tiba-tiba Jani berkata “Tapi, ngomong-ngomong , kalau emang mau bersama-sama terus…” “Kenapa gak minta sama Allah agar kami aja yang ke sana adik termuda? Sambung Icud. Mata Jani dan Icud melotot ke arah Siti. “Hmm. Iya juga ya? Maaf, Siti gak teringat ke situ. Siti kira, Siti mau bikin kejutan buat kakak-kakak. Makanyaa…” Celoteh Siti super polos sembari menggaruk-garuk kepala yang emang gatal karena ketombe. Mendengar itu, Jani dan Icud pun berseru, “Sitiiiiiiiiiiiii……….!” Lalu tiba-tiba semuanya menjadi gelap.



"Apabila penghuni Syurga telah masuk ke dalam Syurga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia. Mereka bertanya tentang Sahabat mereka kepada Allah:


"Yaa Rabb... Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami?"

Maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar zarrah." (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab Az-Zuhd)

Ibnul Jauzi rahimahullah pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis, "Jika kalian tidak menemukan aku nanti di syurga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang diriku, "Wahai Rabb Kami... Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau. Maka masukkanlah dia bersama kami di Syurga-Mu."

Jumat, 02 Mei 2014

Bioritme Sekolah Biru

Bioritme Sekolah Biru

Angin berhembus halus di antara sinar mentari pagi yang hangat. Ya. Hari senin nan sejuk ini terasa lebih sejuk daripada senin-senin sebelumnya. Ini hari pertamaku mengenakan seragam hijau tua yang nantinya akan menyebabkanku ditandai sebagai pegawai negeri. Lebih tepatnya, “Ibu guru”. Hehe. Aku tersenyum lebar, begitu tulus, pada siswa-siswi  yang menatap dan menganggukiku. Wah, aku serasa bagai artis papan atas yang tengah berjalan di red carpet. Wuuhuu! Sungguh aku sangat menikmatinya! Hahahaha
Upacara bendera pun usai. Siswa, siswi, guru, pegawai Tata Usaha, pegawai kesiswaan, dan peserta upacara lainnya berhamburan menuju kandang masing-masing. Tinggallah aku, sendiri. ­­ Dengan hati dag dig dug, kakiku melangkah dengan tidak pasti menuju kelas perdana, yakni kelas yang akan tercatat di lembaran pertama dalam kehidupan mengajarku. Tak…tuk…tak…suara sepatu high heels-ku terdengar begitu jelas, mungkin karena saking gugupnya aku. “Ibuuuuuk!” Aku terkejut setengah mati melihat sesosok anak muncul dari balik jendela. Hanya kepalanya yang terlihat. “Ibuk manis neh, ibuk ngajar di kelas kami kan?” Aku tak menjawab. Bola mataku tertuju ke papan yang tertempel di sisi atas pintu. Kelas VII.5. Ehm. Kakiku berjalan semakin lamban. Tak..tuk..tak..tuk….”Ibuuukkkk” Untuk kedua kalinya aku terkejut. Siswa berbadan gembul dan pendek itu lagi-lagi muncul. Kali ini di balik pintu. “Ibuk manis beneran masuk di sini kan? Bener kan? Jodoh emang gak kemana ya buk. Hehehe.” Bleg! Aku tahu kalau anak seusia itu tengah puber, tapi ini mah kelewatan namanya kalau puber sama guru sendiri. Adoh adohhh! Aku pun tersenyum penuh paksa sembari mengangguk. Lalu masuk.
Mentari mencapai puncaknya. Kuteguk es teh manis gelas kedua. Ah, betul-betul dahaga! Sepertinya, esok harus ada persediaan air satu botol untuk setiap kali mengajar. Kalau tidak? Hmm. Kelas itu memang berjalan lancar, tetapi aku merasa risih sendiri dengan perlakuan anak yang tengah puber-pubernya. Aku juga begitu lelah dengan tingkah seorang siswi yang sibuk memukul-mukul meja saat aku menjelaskan. Sesekali kuamati wajah-wajah mereka yang tak merasa berdosa. Berani-beraninya mereka hanya duduk dan tidak begitu perduli dengan yang kulakukan? Kecuali beberapa saja, mereka yang duduk di deretan paling depan. Haaah!
Sebagai guru baru, aku diamanahkan untuk memegang satu kelas terlebih dahulu. Aku dapat memahami itu karena memang butuh penyesuaian bagi guru baru sepertiku dalam mengajar di sekolah ternama ini. Aku pun tak mau banyak tingkah karena tahu diri masih butuh banyak belajar. Jarum pendek jam tanganku menunjukkan pukul 9. 30 wib. Ini waktunya. Betapapun ini hari kedua. Aku tak boleh cengeng hanya karena gagal di hari pertama. Ah, namanya juga anak-anak. Bocah ingusan yang baru menginjak sekolah SMP. Wajarlah! Aku berusaha menghibur diri sendiri selama perjalanan menuju kelas.  
Ini hari kedua. Segala persiapan lahir dan batin telah kupersiapkan tadi malam. Aku tak ingin lagi kecolongan seperti kemarin. Lihat bocah-bocah manis, akan kubuat kalian jatuh hati padaku! “Untuk bertahan hidup di sini, kau harus pastikan niatmu untuk mendidik, bukan sekadar mengajar. Hal yang kau capai adalah cintanya anak-anak, bukan sekedar gaji di akhir bulan. Sejak awal, kau harus tunjukkan bahwa kau adalah guru dan mereka adalah murid. Jika kau telah berhasil meraih hati mereka, maka tak kan sulit bagimu untuk melaksanakan tugasmu.” Kalimat yang begitu sederhana, namun begitu membiusku. Kalimat itu berasal dari ibuku sendiri. Usai ia menyampaikan kalimat itu, aku baru sadar bahwa ia beberapa tahun lalu baru saja pensiun dari SMA Harapan Bangsa.
Mereka duduk dengan tertib dalam kelompok masing-masing. Aku menatap mereka dengan senyum manis, namun kali ini tulus dari hati. Tak lama si pendek gembul bersuara, “Ibu manis…”
“Amar yang baik hati, boleh Ibu minta tolong?“
“Siap ibu manis!”
“Tolong, panggil Ibu “Bu Aira”, boleh? Ibu akan lebih senang bila Amar panggil dengan sebutan itu.”
“Ohh. Boleh banget dong ibu m-Aira!”
Siswa lain pun tertawa. Aku tersenyum lega. “Terima kasih, Amar.”
Lantas aku menyuruh mereka untuk pergi ke luar kelas untuk mengambil benda yang menurut mereka unik. Setelah itu, aku bagikan kertas HVS warna-warni kepada tiap kelompok.
“Sekarang, tiap kelompok kan telah mempunyai sebuah benda unik masing-masing. Tolong tiap orang dari masing-masing kelompok gambarkan benda unik tersebut! Tapi, gambarnya bukan dengan garis, tapi dengan kata-kata. Paham?”
“Enggak bukk!” jawab siswa serentak.
“Begini contohnya, ibu mempunyai benda unik Amar,” Amar tersipu. Siswa lain terbahak.
“Ibu menggambar Amar dengan kata-kata seperti ini,” seluruh siswa mendengar dengan seksama.
“Amar itu orangnya cakep.” Serta – merta kelas menjadi gaduh. “Amar tingginya sekitar 140 cm. Amar mempunyai bulu mata lentik, hidung mancung, dan pipi yang tembem.” Lagi-lagi siswa gaduh. Kulihat amar hanya tersipu-sipu. “Amar, kulitnya coklat dan senyumnya manis. Ia anak yang pandai. Tepuk tangan dong, buat Amar!” Prok..prok..prok. Semua siswa bertepuk tangan. Kuharap Amar tak lagi merasa kekurangan perhatian.
“Nah, sudah paham?”
“Sudahhh boookkk!” Lantas kulihat mereka begitu bersemangat merangkai kata. Aku pun tak sempat duduk karena asyik berkeliling melihat kinerja mereka. Tak sedikit yang merasa kesulitan, aku pun membantu mereka. Hingga tanpa terasa semua siswa telah selesai melaksanakan tugasnya. Satu persatu kuminta maju ke depan. Untuk menghemat waktu, aku meminta perwakilan dari tiap kelompok saja.
“Ya, kelompok satu!”
Rini maju dengan bangganya. Siswa lain memasang telinga. Ada yang tersenyum-senyum. Seakan telah tahu apa yang akan disampaikan oleh Rini.
“Namanya bunga lonte, dia suka berada di rumput yang semak belukar. Jika aku berjalan melewati rumput semak belukar, bunga lonte pun menempel di rokku. Aduh bunga lonte, kau nakal sekali,” Spontan gelak tawa membahana. Aku yang tak sanggup menahan geli, lantas keluar kelas melepas tawa. Sejenak saja. Lalu kembali masuk dan menenangkan siswa. Kutangkap rona merah di wajah Rini. “Ya, bagus sekali ya! Tepuk tangannya dong buat Rini! Aku dan siswa bertepuk-tangan sembari tersenyum-senyum. Rini kembali ke tempat duduk. Dan, bukan hanya itu. Sang ketua kelas, Rama, pun tak kalah lucu.
“Tubuhmu panjang, berlapis-lapis seperti nanas. Tubuhmu pun begitu keras dan berwarna coklat gelap. Aku menemukanmu di bawah pohon pinus. Terbaring tak berdaya bersama teman-temanmu. Sampai saat ini, siapa namamu? Aku pun tak tahu! Untuk ke sekian kalinya kami tertawa terbahak.
Kelas pun ramai hingga bel berbunyi. Aku lega. Wajar bila kemarin tak seindah hari ini. Bukan salah mereka, tapi salahku sendiri. Bercerita sampai mulut berbuih, sedang mereka hanya sanggup memasang telinga dalam waktu terbatas. Ternyata justru siswa lebih bertahan membuka telinganya bila diiringi dengan indera lain yang ikut bekerja. Karena, hakikatnya anak seusia mereka cepat bosan bila dihadapkan pada situasi monoton. Ouh, terima kasih, Ibu! Andai aku menyadarinya lebih cepat.
Cahaya matahari menembus dedaunan pinus menyinari jalan setapak. Udara kering dan segar. Aku bisa merasakan adrenalinku mengalir begitu teratur. Ini hari kesepuluh. Sesekali memang aku menyiapkan diri untuk situasi yang akan menyulitkanku. Namun, hingga kini, aku masih lebih sering menikmati senyum mereka yang sesaat kemudian nyaris pecah menjadi tawa.
Ulee Kareng, 4 Januari 2014