Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Agustus 2017

Ada Yang

google.co.id




Ada yang sibuk berlutut, bersujud
Manakala malam tiba
sepi jelma
ada yang lelap
mimpi

Ada yang sibuk berzikir pada Ilahi
saat mentari muncul
ke sengat panas
hiruk sibuk kebiasaan

Adalah mutiara dasar bahari
senantiasa bermimpi di awal hari
lalu merajut asa kala sinar bulan kembali sepi
Sebelum mentari kembali pada renjana

dunia hanyalah alpa dan dosa
dan tugas banyak
bahkan segala keindahan yang terhidang
hanyalah sajak dalam nampan kenangan

Ada kembara jalanan
acap dahaga lagi rindu
pada bayang-bayang-Mu

diseret pekat larat masa silam
gulita nista yang rajam
di mana labirin hanya menangkap jeritan dalam desah nafas penghisap tubuhnya
manakala kornea hanya menangkap siluet tubuh telanjang
berenang dalam kubangan peluh sendiri

maka, pada detik selanjutnya selalu ditahmidkan berhasta-hasta syukur
bergunung-gunung puja dan puji
karena seberkas cahaya sudi menghampiri
memang, selaksa tangis dan senyum masih sering beriring
bahkan sesekali hanya senyuman  yang disesaki sesal

Malam ini ia terbaring, namun bukan tidur
hanya ingin menangkap mimpi  berkelanjutan
lalu menumbuk penawar perih
dan melaburkannya di muka luka
hingga akhir membawanya pada ketenangan
negeri Tuhan

Ada yang sibuk berlutut, bersujud
Ada yang sibuk berzikir pada Ilahi

Lintas Abas.com, 14 September 2015



Minggu, 31 Januari 2016

Dia Bisa Apa?

Berusaha membuang debaran
ah, dia bisa apa?
menyimpan rasa dalam genggaman kalbu adalah perjuangan yang keras
trauma akan masa lalu
menjadi dilema untuk menatap masa depan

beruntun, suara hati bersahutan
harapan akan bersama terlintas
namun, sekali lagi

ketakutan mencegah harapan
mengembara bebas
ah, dilema
dia bisa apa?

langkah kian melamban

jarum jam terus berlari
beriringan dengan hati gelisah

nyalinya ciut
tertikam sejuta asa yang mulai terkubur
sementara nurani terus berusaha
membisik, menggelitik ,
bahwa di sudut kalbu
ada rasa yang sedang detak
detak yang perlahan semakin cepat
mana kala bersitatap dengan rupa itu

Oh, dia bisa apa?




Sabtu, 19 Desember 2015

Aku Yang


Aku kitab yang lusuh
ringkih di sudut debu
gumul dengan sepi
ciut dalam sisa harapan yang sia      

Aku tasbih yang rusak
terserak di lorong gelap
tertimpa bangkai
dikerubuni makhluk-makhluk lapar

Aku sajadah yang lembab
baring di lantai lumpur
genangan kering membusuk
menyeruak seisi ruangan

Aku genteng yang bocor
disengat surya
dipagut bayu hingga gigir
hujan sesekali mengobati luka
karat yang kian melebar

Aku jendela yang retak
sebagianku terserak di tanah
sebagian lain bebercak merah
tersentuh kulit si kumis berbulu
kala tengah berburu

Aku lantai yang lumpur
kerikil kecil
bangkai plastik
dedaun kering
ditinggal banjir yang singgah tahun lalu

Aku, cinta yang hilang
tertutup kepulan asap pabrik
terhalang tirai hedonis
tertelan pusaran materialis

Aku, kasih yang pupus
tergerus arus
tertelan virus
mampus

Lampriet, 16 September 2015
Cut Atthahirah, mahasiswa MPBSI Unsyiah, Pegiat FLP Banda Aceh

Dimuat di Serambi Indonesia edisi 11 November 2015












Selasa, 15 Desember 2015

Bukan Soal Kabut



www.theflickr.com


Entah lah!
Entah dari mana dingin ini
sungguh lah!
sungguh gigir
namun, bukan soal gigir
melainkan pemandangan di depan

Entah lah!
entah dari mana kabut itu
sungguh lah!
sungguh pekat
namun, bukan soal pekat
tapi penglihatan di depan

Anak dengan wajah lusuh itu berkata lagi
“Hentikan! Aku mohon hentikan!”
ada getir di ujung getar
tak mampu
ia tak mampu menghentikan
hanya dengan menyentuh udara
setiap detik ia merasa makin dekat dengan kematian
politik yang jijik,
pengusaha picik,
pejabat tuli, buta, bisu, sampah!
agamawan salah arah,
rakyat salah kaprah,
dunia pongah,
udara Seuramoe Mekkah masih dingin
langit Tanoh Rencong masih kabut
gigir!
gelap!

Banda Aceh, 1 November 2015




Sabtu, 21 Februari 2015

Di sini, di HIPISA


Di sini aku belajar mencintai
mencintai sesama
mencintai agama

Di sini aku belajar patuh
patuh terhadap peraturan
patuh terhadap Al-quran

Di sini, aku sempat nelangsa
membuang masa lalu kelam
Di sini, aku mulai terbiasa
mendirikan shalat malam

HIPISA
Katanya pesantren SMA Negeri 1 Langsa
Kerudungnya panjang luar biasa
Duha pada jam istirahat menjadi biasa
Bicara dengan lawan jenis dijaga sebisa
Agar tak timbul rasa-rasa

HIPISA
Katanya majelis ilmu agama SMA Negeri 1 Langsa
Jumat diisi rohis putri, sabtunya untuk putra
ilmunya banyak, uztadnya ceria

HIPISA
katanya tauladan di SMA Negeri 1 Langsa
tutur katanya santun budinya luhur
berjumpa guru tak lupa salam
jumpa teman sejawat selalu senyum

HIPISA
katanya pendakwah sejati
pengukir sejarah islami
dulu, HIPISA pendobrak sejarah penggunaan hijab seragam
dulu, HIPISA pendobrak sejarah penggunaan baju kurung untuk wanita
kini, HIPISA masih berdiri tegak di garda terdepan
kini, HIPISA masih berjaya
mengukir kisah
memahat kasih






Jumat, 28 November 2014

"Tingkah Pengantin"

Detik-detik terus berlalu
Detak-detak jantung pun bertalu
Raut wajah serupa putri malu
Timbul tenggelam di balik pintu
Wajah kini lebih mirip delima ranum
Perlahan melangkah
Tinggalkan persembunyian
Kepala tunduk bukan kehilangan koin
Tangan dingin bukan menggenggam es lilin
Semua pasang mata menyambut
Suara-suara gaduh tak jelas
Aroma sakral merasuk sukma
Hati terbawa suasana
Selamat!
BarakAllah!
SAMARA!
Labirin menangkap
Hati terkesiap
Mulut tergagap
Oh, begitulah...!
tingkah pengantin...
16 November 2014--Rumcay
‪#‎Laskar‬ Syu'ara 227

Senin, 12 Mei 2014

Mencari Apa?

Jalanan bagaikan sehelai selendang yang terus bergelombang, membentuk gelombang
Terik mentari menggigit kulit hingga tulang terasa nyeri
Sesekali angin menghampiri, namun sekejap saja lalu pergi
Aku tak perduli
Aku tetap berlari
Menyusuri  sunyi
Mencari erti
Mencari hakikat
Mencari
Mencari
Apa yang harus dicari
Apa?
Apa?


U. K. 2014

Minggu, 27 April 2014

Jelajah Budaya



PutroePhang”

Di bawah langit biru
Dua negeri telah menyatu
Cinta meretas dengan sempurna
Melukiskan sejarah paripurna
Hingga penghujung generasi yang penuh warna

Putroe Phang
 Dara jelita dari tanah Malaysia
Ia datang dengan cinta
Mengukir kisah
Memahat kasih

Adat bak Poe Teumeureuhom
Hukom bak Syiah Kuala
Qanun nibak Putroe Phang
Reusam bak Laksamana

Kini, Putroe Phang tinggal kenangan
Kini, Putroe Phang hanya menempel pada dinding Gunongan
Kini, Putroe Phang hanya melekat pada sebuah taman
Kini, Putroe Phang hanya sebuah ucapan dan tulisan

Kini, yang ada hanya Putroe “Phang
Yang ada hanya perempuan yang mengangkang
Mengangkang
di belakang hidung belang
Mengangkang
di ruang remang-remang
Mengangkang
di panggung terang benderang
Mengangkang
di atas qanun yang nyaris rumpang

Taman Putroe Phang, Banda Aceh, 2014


Sabtu, 26 April 2014

Ada Kalanya



Ada Kalanya


Ada kalanya siang merindu malam
Begitu gelora, namun teredam oleh hujan yang senja
Adalah suara hati tak dapat terungkap
Hanya diam
Mengutuk diri sendiri

Ada kalanya sahara merindu hujan
Begitu gelora, namun terhempas oleh panas yang kemarau
Adalah lukisan jiwa tak dapat terlihat
Hanya tersimpan
Memaki diri sendiri

Ada kalanya,
Aku merindu kamu.


Ulee Kareng, 26 Novermber 2013

Majalah GesiT, edisi Januari 2014 




Selasa, 22 April 2014

Balada Melalui Malam

Balada Melalui Malam




Lagi. Bulir bening berlinang
Kendati telah kutangguh
Aku tak ingin menangisi
Kepedihanku
Tapi, aku sungguh lapar akan dirimu
Karena, sungguh kita mampu berkata tanpa suara
Namun, tak dapat merengkuhnya
Tak akan pernah

Melalui malam, kita tangkap bintang
Dalam mimpi berkelanjutan
Menumbuk penawar perih
Dan melaburkannya di muka luka
Sebelum fajar kembali
Sebelum fajar pulang
Pada renjana

Dan esok adalah kembali pada siang
Yang mengabarkan
Tentang duka
Tentang takdir
Tentang kita
Yang lagi-lagi saling mengutuk diri

Ah, aku ingin malam!
Aku ingin tiap waktu adalah malam!


2012, Piasan Seni

Senin, 14 April 2014

Rumah Kekasih Tuhan



Rumah Kekasih Tuhan

Sungai-sungai mengalir jernih
Pohon-pohon meneduhkan
Ikan berkecipak riang
Kita adalah orang-orang terpilih
di tempat tenang
Tempat bermesraan tanpa batas
Tempat senandung lagu-lagu pujaan
Tak ada kesukaran
Tak ada beban
Syurga ialah rumah cinta abadi
Dan kekasihnya adalah Tuhan
Kita orang-orang terpilih
Orang-orang pemilih

Ulee Kareng, 2012
Serambi Indonesia