Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Desember 2021

Wanita Paling Cantik (1)

 

Istilah cantik tentu tidak asing di telinga wanita. Menjadi wanita yang cantik adalah impian setiap wanita dan idaman setiap lelaki. Namun, ada istilah yang berkembang sejak lama di masyarakat bahwa cantik itu relatif. Katanya, setiap lelaki memiliki definisi masing-masing mengenai wanita yang cantik. Istilah itu menjadi obat tenang bagi wanita-wanita yang terlanjur patah hati akibat stigmatisasi masyarakat yang berkembang, yaitu cantik adalah wanita yang berkulit putih, mulus, glowing, tinggi, kurus, tidak jerawatan, wajah tirus, hidung mancung, mata besar, buku mata lentik, leher jenjang, bibir seksi, payudara kencang, dsb.

Ya. Stigma itu pun kian merebak dan semakin eksis seiring bertambahnya iklan-iklan produk kecantikan di televisi maupun sosial media. Semuanya menawarkan kecantikan  yang seperti telah tersebut di atas.

Cantik itu relatif, dari segi fisik. Namun, cantik itu mutlak secara akhlak. Ya. Istilah inner beauty tentu sudah akrab pula di telinga kita ya salihah. Cantik dari dalam itu jauh lebih penting. Betapa banyak wanita yang secara fisik kelihatan cantik tapi gara-gara judes laki-laki jadi ogah. Banyak pula yang rupawan fisik tapi belum menutup auratnya bahkan tidak menjaga kehormatannya. Akhirnya, habis manis sepah dibuang. Laki-laki yang menodainya justru menikahi wanita lain yang terjaga kesuciannya. Nauzubillah. Miris memang. Lantas mau menyalahkan siapa? Jangan salahkan laki-laki sepenuhnya! Salahkan diri sendiri terlebih dulu. Mengapa bodoh? Mau memberi harta paling berharga pada yang bukan halal? Mengapa tidak menjaga kehormatanmu sebagai wanita? Mengapa tidak berusaha menjadi wanita salihah? Itu yang diperintahkan oleh Allah yang menciptakan kita. Bukan untuk disia-siakan. Bayangkan saja... Allah sudah menciptakan kita demikian rupa. Sudah fitrah kita sebagai perempuan untuk terjaga. Lebih banyak di rumah. Diam atau berkata yang bermanfaat. Tutup aurat dengan baik. Tak perlu menonjolkan diri karena memang harusnya tersembunyi. Perbanyak malu karena itu lebih menjaga. Namun, malu di tempatnya juga ya. Adakalanya kita harus berani mengambil sikap dalam kondisi tertentu. Intinya malu lah pada tempatnya.

Oh iya. Kembali ke topik utama.
Cantik itu mutlak. Mutlak secara fitrahnya sebagai perempuan. Tidak harus menjadi orang lain, karena karakter memang Allah ciptakan beraneka rupa. Khadijah beda karakter dengan Aisyah. Fatimah beda dengan Asma. Hafshah beda dengan Safiya. Zainab bintu Jahsy beda dengan Hindun. Namun, semuanya adalah wanita-wanita mulia sepanjang zaman. MasyaAllah.

Ngomong-ngomong soal para istri Nabi dan sahabiah. Ada yang tau gak gimana penampilan mereka dulu? Wajah mereka? Ada yang punya gambarnya? Ofcourse No.
Nah, tapi kok mereka bisa terkenal ya sampe sekarang?

Apa sih hebatnya mereka?
Apa mereka pemain filmyg terkenal?
Penyanyi mancanegara?
Desainer ternama?
Koki restauran bintang lima?
Personil grup penyanyi sekaligus penari?
Atau penulis buku best seller?
Bukan semua?

Mereka adalah wanita-wanita salihah sepanjang zaman.

Mereka mengukir sejarah dengan kebaikan akhlak, mencetak prestasi tertinggi yaitu generasi salih para sahabat yang MasyaAllah.

Mereka ikut berperang, mengobati syuhada, mereka tak takut disiksa, mereka tak memiliki fasilitas seperti sekarang tapi mereka ttp bisa berguna bagi umat. Mereka menjadi teladan bagi kita. Nama mereka akan ttp hidup meski mereka telah tiada sejak sekian lamanya.

...

Selasa, 04 April 2017

SAFIR 1

https://www.blogger.com


Langit Serambi Mekkah tak secerah biasa. Hujan terus mengguyur sejak pagi. Sepertinya sudah mulai musim penghujan. Jika begini, tantangan dalam hidup seakan lebih besar. Kehujanan, sakit, malas, becek, gluduk, angin. Sederet hal yang dianggap menjadi masalah. Mereka lupa pada kemarau berkepanjangan. Mereka lupa saat-saat sumur kosong. Saat-saat terik mentari membakar kulit. Bahkan bunga-bunga layu dalam sekejap. Itu lah manusia, lebih sering mengeluh, ketimbang bersyukur.

“Jam berapa dia biasanya pulang, Kak?”
Siat teuk, jam jam 5”
“Sejak kapan dia mengajar di Dayah, kak? Memangnya, ilmunya sudah cukup?”
“InsyaAllah cukup. Sesungguhnya dia itu anak yang pintar. Tak perlu waktu lama untuk memantaskan dirinya menjadi tenaga pendidik di sini, Cut.”
“Ehm, iya kak. Saya juga tahu soal itu. Putri kami memang cerdas. Dan kami lah yang bodoh. Telah menyia-nyiakannya.”
“Sudah lah, Bun…”
“Maafkan bunda, Ayah. Bunda dulu tidak mau mendengar perkataan Ayah. Bunda egois. Jika saja bunda mendengar kata Ayah untuk tidak mengizinkannya merantau ke Jakarta…hiks”
“Istighfar Bun…, aku juga salah. Abang kurang tegas saat itu.”
“Assalamu’alaikum,” Fatima sadar akan kehadiran kedua orangtuanya. Setelah menyalami Miwa, dia pun menghampiri kedua orang yg dikasihi itu. “Salam, Ayah, Bunda”
“Wa’alaikumsalam, Sayang,” jawab Ayah sembari mengelus kepalanya. Sementara Bunda yang sedari tadi memang paling gelisah langsung menghambur ke pelukan Fatima. Tangisnya pecah sampai-sampai kerudung Fatima basah.
“Sudah, Bun, tenang lah. Apa yang Bunda tangisi?”
Jawaban Fatima sangat berbeda dari beberapa bulan lalu saat kedua orangtua Fatima datang berkunjung. Jangankan berkata lembut, bertemu saja enggan. Antara malu dan benci. Dua hal itu yang menjadi alasan kuat Fatima untuk tidak menemui kedua orangtuanya. Namun, kini Fatima telah belajar banyak dari keluarga Miwa, kakak kandung ibunya, dari Pakwa (suami Miwa), dari abang, kakak, dan adik-adik sepupunya, dan yang pasti dari teman-teman pondok dan anak-anak didiknya. dia memperoleh sesuatu yang selama ini ia cari. Tentunya ketenangan, kenyamanan, kebahagiaan yang jujur dari hati yang datang dari sang Maha Penyayang.
“Bunda minta ma maafffh padamu, Sayang”
“Ayah juga”
Fatima menunduk dalam, tak sadar, air matanya menetes pula. Sementara Miwa permisi masuk ke dalam. Memberikan ruang bagi anak dan orang tua itu. “Ayah dan Bunda sangat merindukanmu, Nak! dulu kami banyak menyia-nyiakan waktu kami. Sehingga kamu pergi. Setelah kejadian beberap tahun silam, kami selalu dihantui rasa menyesal. Kami selalu memohon pada Allah agar diberi kesempatan. Kalau pun harta dan jabatan ini harus diambil, kami rela asal permata kami satu-satunya dapat kembali. Itu lah kamuuu…huhuhu,” pertahanan Ayah akhirnya kandas. Fatima lantas segera mendekap lutut ayahnya. Ia menangis dan mencium tangan ayahnya. “Kembali lah pada kami, sayang” kini giliran ibu yang ikut duduk di lantai lalu mendekap putrinya. Ketiga manusia itu pun saling mengeluarkan segala rasa yang lama terpendam. Sementara itu, dua pasang mata tampak beraca-kaca menyaksikan hal itu dari kejauhan.
***
Suara jangkrik memenuhi malam. Udara dingin menusuk usai hujan sejak sore hingga isya tadi. jalanan pun tampak lengang. Sepertinya sebagian besar penduduk lebih senang meringkuk di dalam rumah saat begini. Bahkan anak-anak yang biasanya meramaikan jalanan pun tidak memperlihatkan batang hidung mereka. Sepertinya menonton film serial india bersama ibu atau sekadar bergurau bersama saudara-saudara menjadi jalan alternatif.

Berbeda halnya dengan rumah keluarga tengku Zakaria. Malam ini seluruh keluarga berkumpul. Tengku Zakaria, Umi Saleha alias Miwa, bu Fatma alias ibunya Fatima juga Pak Buyung alias bapaknya Fatima duduk dan berbincang hangat di halaman rumah. Sementara Fatima beserta sepupu-sepupunya yang berjumlah tujuh itu berkumpul di ruang keluarga. Ada Bang Zul, si kembar bang Dun dan bang Din, dek Nurmala, kak Dara, kak Nisa dan si bungsu Fatih. Keluarga macut memang besar, sangat kontras dengan Fatima yang justru hanya anak semata wayang. Dulu, Fatima sempat nyaris menjadi seorang kakak sebelum ibunya keguguran. Dan setelah itu hingga kini, hanya ia lah yang menjadi anak dari kedua orang tuanya.

“Ramai sekali di sini. Pantesan si Fatima betah sekali,” ujar ayah Fatima.
“Yaa, kalau di sana, ketemunya itu lagi, itu lagi, ya Ayah, Ibu, Fatima,” timpal Bunda Fatima. “Apalagi selama Fatima tak pulang, ya hanya berdua lah kami. Sepi sekali.”
“Tapi, bisa mesra tiap hari dong…,” ujar Tengku Zakaria sembari tersenyum lalu disambut gelak tawa oleh yang lain.

Sementara di sudut lain, perbincangan muda-mudi tak kalah serunya.
“Wah, besok kak Fatima balik ke Padang. Tak ada lagi masakan rending buatan kak Fatima yang mangatttt thatttt!” keluh dek Nurmala.
“Loh, loh, kan makcik bisa masak rending juga, kak Dara dan kak Nisa juga. ya, kan?”
“Tapi, tetep aja beda, Kakk, apalagi masakan kak Dara dan kak Nisa, hemmm”
“Hemm apa, hmm?” serbu kak Dara. Sementara ka Nisa hanya mesam mesem.
“Yang jelas, masakan daerah yang dimasak oleh orang daerah asal itu lebih pas, kak Fat,” imbuh si bijak Dun.
“Iya, betul itu. Fatima sangat suka Kuah Pliek atau Sie Reboh masakan kak Nisa dan kak Dara. Mantaappp!”
“Dengar tu, dek Nur!” Goda Dara ke Nurmala. Yang digoda justru bersungut-sungut.
“Jadi, besok pulang ke Padang jam berapa kak?” tanya Din.
“Ehmmm, pesawat pertama, berarti...”
“Sebelum subuh kita berangkat”
“Yap. begitu, lah!”
“Nur mau ikut antar ka Fatima besok! Seru Nur.
“Alaaa, gayanya mau antar. Palingan besok bangunnya kesiangan,” goda din.
“Iiiih. Enggak, pokoknya besok bangunin nur. Nur mau antar kak Fatima!” Rajuknya.
“Yaudah, kalau mau antar, tidur sekarang,” timpal Nisa.
“Ehmmmm bentar lagi dehhh. Baru juga jam sembilaaannn.”
“Mau ikut nganter, gakkk?” Goda Dara.
“Huuu. Mau, tapiiii…kan, lagi asik.”
Akhirnya yang lain serentak menggoda, “Mau ikutt, gaaakk?” Yang digoda langsung cemberut sembari masuk kamar.
“Hahahaha.” Mereka terlhat sangat puas udah mengerjai si cerewet dek Nur.
“Kasian diaaa kak, masih pengen main,” ujar Fatima
“Biar aja, Fat. Kalau dia di sini pun yang ada sibuk layani ocehan dia. Han ek ta dengooo!” Sahut din.
Ucapan Din disambut tawa oleh yang lain. Sementara itu, si bungsu Fatih sudah mulai tertidur pulas di atas tikar depan tivi. Lelah bermain di siang hingga sore.

Malam ini bukan lah malam pertama bagi Fatima merasakan kehangatan sebuah keluarga di rumah tengku Zakaria. Namun, malam ini justru menjadi istimewa karena menjadi malam pertama setelah sekian lama ia merindukan kehangatan kebersamaan bersama Ayah dan Ibunya. Keistimewaan itu pun bertambah lengkap karena mimpi orangtua Fatima yang akhirnya terwujud untuk membawa pulang Fatima ke kampung halaman setelah bertahun-tahun mendapat kekecewaan karena gagal. Walau demikian, ada sedikit duka yang tersirat dari wajah gadis berkaca mata itu. Manakala ia ingat bahwa esok pula ia akan meninggalkan tempat yang sangat berkesan baginya ini, rumah tengku Zakaria, pesantren Darul Jannah, Aceh, beserta segala pernak-pernik dan kehangatannya.


bersambung ke Safir 2



Rabu, 26 Agustus 2015

Di Teras Rumah Yura

Namanya Yura. Nama yang terlalu singkat untuk seorang gadis berbadan bongsor seperti dia. Sejak kecil, orangtua Yura senang memberinya makanan apapun, baik ringan maupun berat. Yura pun akan melahapnya dengan ikhlas dan lapang perut. Eh.

Walau bongsor, Yura beruntung memiliki warisan kulit yang putih dan bersih dari Ibunya. Sementara wajah khas Jepang pun ia peroleh dari bapaknya. Ya. Yura memang keturunan Jepang. Ayahnya adalah lelaki Jepang yang saat mudanya bertugas di Indonesia. Pertemuan bapak dan ibu Yura terjalin saat Bapak Yura pertama kali makan siang di warung tegal milik kakek Yura. Dan, ibu Yura lah yang melayaninya saat itu. Dari mata turun ke hati, bapak Yura pun melamar ibu Yura setahun kemudian setelah sebelumnya belajar islam secara intensif dan masuk islam dua bulan sebelum pernikahan berlangsung.

Yura kini tumbuh menjadi seorang gadis. Ia yang merupakan anak tunggal tentu menjadi kesayangan kedua orangtuanya. Apapun yang ia minta, tentu ia dapatkan. Namun, kedisiplinan juga menjadi syarat utama dari sang bapak. Maka, walau dimanja, ia juga dilatih untuk disiplin dalam segala hal. Dan itu membekas dalam darahnya hingga dewasa. Di balik kedisiplinannyan, Yura juga tumbuh menjadi anak yang hangat dan ceria. Mungkin asupan cinta kasih dari orang tua musababnya. Hingga perubahan pun terjadi dikarenakan suatu hal yang terjadi di kemudian hari.

Suatu sore yang hangat. Yura duduk sendiri di teras rumah sembari menatap kosong ke arah kebun rumah. Sang ibu rupanya menangkap sinyal aneh dari anak semata wayangnya. Yura lantas tak sadar bahwa ibu telah duduk di kursi sebelahnya. Ibu tak lantas menegurnya. Ibu membiarkan Yura menikmati lamunanya. Hingga akhinya… “Ibu?” Ibu tersenyum melihat Yura yang tersadar. “Sejak kapan Ibu duduk di situ?” Ibu lagi-lagi hanya tersenyum.

Esoknya, Yura kembali duduk di teras rumah. Ia kembali menatap kebun. Dilihatnya sepasang kupu-kupu yang terbang kian kemari. Sesekali hinggap di salah satu bunga lalu terbang lagi. Mereka berkejar-kejaran layaknya sepasang kekasih. Sesaat setelah itu, ia merasa bahwa ada orang yang memerhatikanya dari dekat. “Oh ternyata Ibu? Sudah lama Ibu di sini?” Ibu hanya mengangguk pelan sembari tersenyum.


Hari keempatpuluh. Yura seperti merasa keenakan duduk, menghabiskan sore hingga senja di pelataran rumah itu. Pemandangan hijau yang membentang indah di depan mata seolah senantiasa memanjakan mata. Sore itu kebetulan hujan. Yura semakin asyik dengan dua gelas kopi menemaninya. Lantunan musik Jepang tempo doeloe juga menambah sentimental suasana. “Ibu, lihatlah hujan semakin deras, ini kopinya diminum, Bu. Mumpung masih hangat. Aku sendiri yang membuatnya.” Dari kejauhan Ayah Yuri menatap nanar. Ada sekeping luka di hatinya.   

Selasa, 25 Agustus 2015

Femmy, Oh, Femmy...

Senja yang sendu. Udara kering menghempas dedaunan kuning kecokelatan yang terserak di tanah. Jalanan lengang. Di bawah pohon mangga, sebuah kursi taman terpatri dan seorang gadis duduk di atasnya. Muram menggelayut di wajah pucatnya. Gelisah terpancar dari sorot mata kosong. Femmy, begitu ia akrab disapa, belakangan sering sekali menyambangi taman itu. Dan kursi taman berbahan besi itu menjadi favoritnya.

Dua bulan yang lalu ia baru saja datang ke tempat itu. Seperti hari-hari sebelumnya, ia hanya membawa diri dengan satu tas mungil berisikan handphone, bedak, lipstick dan dompet. Saat itu ia memakai baju rajutan berwarna pink lembut, rok payung hitam spandex dan jilbab paris dengan warna senada. Femmy memang senang sekali menyendiri, dan paling sering di tempat itu. Di sana ia dapat mencurahkan segala rupa isi hati. Tak jarang pula ia menelurkan berbagai puisi indah. Di taman itu, ia kerap merasa nyaman dan mendapat kehangatan.

Semua itu sempat hilang, manakala sebuah hari datang. sebuah hari yang senantiasa meneteskan buliran rindu di tiap harinya pada taman itu. Sebuah hari di mana ia terjerat dengan kondisi yang memaksanya untuk tidak dapat berjalan bahkan merangkak ke taman itu. Femmy, gadis berusia delapan belas tahun itu divonis kanker otak stadium empat. Femmy yang kerap tertutup terhadap siapapun menyebabkan penyakitnya itu tak terdeteksi oleh siapapun, termasuk dirinya sendiri. Femmy memang sering merasakan sakit di kepalanya secara tiba-tiba. Namun, ia selalu meredamnya dengan minum pil anti nyeri. Setelah beristirahat sebentar, ia pun merasa bugar kembali. Namun, naas, setiap rasa sakit itu muncul, tak pernah ada orang terdekat berada di sampingnya.

Femmy, sejak kecil memang hidup mandiri. Rumah besar, pembantu banyak tak cukup membuat Femmy bahagia. Kasih sayang lebih yang seharusnya ia dapatkan sebagai putri tunggal justru terenggut oleh kesibukan kedua orangtuanya. Malang nasib Femmy, ia menjadi tertutup sejak kecil. Sekolah pun ia terpaksa  homeschooling, bersebab orangtua tak sempat mengurusi urusan di sekolah formal. Pribadi tertutup pun semakin terbentuk pada diri Femmy hingga ia remaja.

Hari ini, Femmy kabur dari pembaringan. Femmy tak betah lagi berdiam di kamar. Femmy pergi dengan badan lemah. Ia tergopoh dengan kucuran keringat dingin terus mengalir di wajah. Tak perduli, Femmy tetap berjalan hingga ia berhasil duduk kembali di kursi kesayangannya itu. Ditariknya nafas perlahan. Dihirupnya udara begitu segar memenuhi rongga hidung dan tenggorokan. Ia merasakan suatu sensasi kelegaan. Walau bibir itu belum mampu menyunggingkan senyum tapi setidaknya batinnya sedikit terobati.


Tak lama, Femmy merasakan kantuk luar biasa, Femmy pun mengambil posisi untuk tidur pada kursi. Badannya yang mungil cukup nyaman untuk direbahkan pada kursi. Dalam sekejap, Femmy terbang ke dunia lain. Dunia yang ia sendiri tak tahu itu di mana. Dunia yang ia sendiri tak tahu apa namanya. Yang jelas, di sana ia dapat melihat begitu banyak sosok hangat menyambutnya, mengulurkan tangan padanya, dan mengucapkan salam padanya. 

Sabtu, 13 Juni 2015

“SERIAL LAILA, MALA, DAN SELA” (Petualangan Pencarian Jati Diri)


TAK KENAL? MAKANYA, TA'ARUF DULU...,YUK!



Ini merupakan serial yang gak seru, gak keren, yaa.. biasa-biasa aja. Jadi, kok si penulis PD banget, ya,  nge-posting ini cerita? Ya, gak kenapa-kenapa, sih! Suka-suka aja! Masalah buat loe? Kalau mau baca, silahkan! Kalau gak suka, pergi sana! Gukk…gukk…gukk! (Loh?)

Langsung aja dah, kelamaan basa-basi, ntar malah jadi basi beneran lagi!

Serial ini berkisah tentang tiga ababil alias ABG labil yang baru tamat dari SMA dan hendak ngelanjutin pendidikan ke perguruan tinggi. Ya. “Universitas Jantong Hatee” adalah pilihan. Letaknya yang di ujung Sumatera sebelah barat mengharuskan ketiga cewek ini keluar dari sarangnya dan berhijrah ke sana. Sekedar tahu, mereka tidak berasal dari daerah yang sama. Laila berasal dari pelosok Aceh Utara, Mala dari pesisir Aceh Selatan dan Sela, gadis turunan Aceh lahir dan besar di kota metropolitan-Medan.

Nurlaila yang merupakan gadis pertama pemakai kacamata di kampungnya ini sejak SMP jatuh hati dengan pelajaran IPA. Awalnya, ia suka karena guru pelajaran tersebut tidak lain adalah first love dia. (Duileee :D) Yaa…, walau malang nasib Laila sebab cintanya yang bertepuk sebelah tangan sejak kelas 1 SMP hingga kelas dua SMA itu harus pupus karena sang guru mengakhiri masa lajangnya bersama salah satu guru muda yang baru mengajar di SMP-nya saat ia telah duduk di bangku SMA. (Kaciaan… L) Biarpun begitu, Laila sudah terlanjur jatuh hati dengan IPA. Ia kerap menang mengikuti kompetisi cerdas cermat IPA antar dusun, kampung hingga kecamatan. Makanya, saat berhasil membujuk sang ayah untuk bisa kuliah di UJH itu, segera  ia memilih Sains di urutan terdepan.

Sedang Mala alias Cut Malahayati, lahir sebagai gadis pesisir yang telah akrab dengan dongeng-dongeng leluhur sejak kecil. Nenek moyang Mala yang notabene memiliki catatan sejarah sebagai nelayan yang akrab dengan mantra-mantra sebelum datangnya islam berpengaruh pada para cucu hingga cicit. Mulai dari kakek dan nenek, ibu, ayah hingga ia dan sepupu-sepupunya mahir bersyair. Tak heran, satu buku harian Mala penuh dengan puisi dan cerita pendek kental sastra. Kamarnya pun dipenuhi puisi-puisi artistik yang ia kreasikan sendiri. Bersebab tak ada jurusan sastra murni di Aceh lantas tak mendapat izin merantau ke luar Aceh, tak heran, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia menjadi urutan pertama dalam daftar pilihan tes masuk PTN UJH.


Siti Sela Dara Phonna, anak sulung dari tiga bersaudara. Lahir dan besar di Medan. Walau demikian, Ayah dan Ibunya selalu menanamkan nilai-nilai islam dan budaya Aceh terhadapnya dan adik-adiknya. Lantas, usai melaksanakan UN, Ayah langsung to the point, meminta Sela untuk kuliah di UJH, Banda Aceh. Sela si sulung yang memang penurut abis, ya nrimo aja. Lempeng kayak jalanan baru diaspal. Berbeda dengan Laila dan Mala, Sela tak mendapat kepercayaan untuk memilih jurusan yang ia impikan, IT. Bukan karena orang Medan banyak yang suka dengan jurusan Hukum, atau karena kedua orangtua Sela yang keduanya adalah Sarjana Hukum. Hal ini disebabkan karena minimnya kepercayaan orangtua kepada Sela dalam memutuskan sesuatu tentang hidup Sela. Sela…Sela…kasian…kasian… mau jadi apa si sulung pendiam ini kalau nanti ia jadi kuliah di jurusan yang mengharuskan setiap mahasiswanya untuk banyak bicara itu? (-_-") Allahu'a'lam.

Selasa, 24 Februari 2015

Cerbungsing (Insomnina)

Jalanan lengang. Tak ada deru kendaraan hingga desir angin terdengar. Seharusnya malam ini damai. Dn aku dapat istirahat dengan tenang. Namun, pada kenyataannya tidak begitu. Aku justru dilanda kecemasan luar biasa. Tak pernah sebelumnya aku mengalami perasaan seperti ini. Istilah remaja masa kini "galau". Entahlah! Saat ini, aku hanya ingin satu hal, yakni tidur secepat mungkin dan terbangun esok subuh dengan lesapnya kegalauan di pikiran ini. Oh, Allah... mengapa bisa? Lagi-lagi. Pertanyaan itu keluar dari hati sanubari terdalam.

Tuk..tak..tuk.. Suara jarum jam terus berdetak, aku masih belum menemukan gejala dari hal yang menimpaku saat ini. Ini malam kesekian di mana aku telat tidur. Jujur, aku sudah seminggu tidak mengonsumsi kopi sejak kurasa denyut jantungku berdetak kencang sore itu. Malamnya, mataku pun melek hingga subuh. Luar biasa! Maka tak ada jawaban pasti mengapa aku sulit tidur beberapa hari ini. Aku bingung. Dan, kuputuskan untuk membuka laptopku. Lalu...

to be continued...

Kamis, 18 Desember 2014

Umie Rebus dan Ubie Rebus

Jam menunjukkan pukul 12.35 wib.
Umi : Ah, lega! Baju pesta kesayangan Umi sudah selesai dijahit oleh Ibu Romlah
Matanya tiba-tiba melotot ke arah sebuah panci tanah. 
Umi: Abi! Umi kan sudah minta tolong sama Abi, Tolong liatin mi rebus Umi. Kok dibiarin, sih!
Abi : Loh, kan emang udah Abi liatin.
Umi: Ya bukan gitu juga kelles. Diangkat kalo udah matang, Abi!
Abi: Ya salah Umi sendiri. Kasih amanatnya salah
Umi tak menjawab. Diturunkan panci dari tungku. Tiba-tiba bau busuk menyeruak.
Abi: Umi, jagain ubi rebus Abi, ya! 
Umi : Huh! Dasar! Gak berubah-berubah!
Selang beberapa menit.
Abi: Ah, legaa! Keluar juga isi perut yang mengganggu dari semalam!
Didekatinya tungku. 
Abi: Umi, kenapa tidak diangkat? Udah matang ini!
Umi: Emangnya Abi ada suruh Umi angkat? Enggak, kan?
Abi: Kalau sudah begini, sudah kurang mantap rasanya ubi rebus Abi!
Umi: Yasudah, kita makan mi rebus Umi saja!
Abi: Tidak! Kita tetap makan ubi rebus Abi. Setidaknya ini tidak nyonyot kayak mie rebus buatan Umi!
Umi: Lah, Umi juga gak mau makan Ubi buatan Abi!
Abi: Kenapa? Kita bisa makan pakai gula untuk membuatnya lebih nikmat!
Umi: Bukan perkara itu!
Abi: Jadi?
Umi: Abi setiap hari kentut... Abi gak sadar apa? Bau kentut Abi itu mengganggu Umi!
Abi: Hahaha. Bukannya selama ini Umi tidak mempermasalahkan?
Umi: Gak semua hal perlu dibilang, Abi! 
Abi:Yasudah-yasudah, tapi Abi tetap gak mau makan mie rebus Umi
Umi: Kenapa? Mie rebus tidak menimbulkan kentut yang terus-menerus, kan!
Abi: Memang iya, tapi apa Umi gak sadar, badan Umi semakin melar?
Umi: Apa? Bu-bukannya Abi bilang Umi makin cantik gemuk begini? 
Abi: Umi, selama ini Abi bohong demi kesenangan orang tercinta.
Umi dan Abi sesaat terdiam. Mereka seakan baru menyadari sesuatu yang selama ini terpendam begitu lama.


Rabu, 26 November 2014

Aku Jatuh


Aku Jatuh

Kicauan burung menyertai deru suara sepeda motor yang tengah dipanaskan. Awan mulai terlihat jelas bentuknya. Seperti biasa, rutinitas pagi yang monoton, namun tidak membosankan. Ayah masih dengan usahanya mengeluarkan angin dari tubuh, suaranya tak jarang membuatku kehilangan selera makan, tapi… lambat laun itu menjadi akrab di telingaku. Entah bagi tetangga sebelah. Sejauh ini belum ada yang mengeluh, dan semoga saja tak akan pernah ada. Karena, kalau sudah begitu, mau tak mau dinding kamar mandi wajib dipasang kedap suara.
Sementara Mamak, begitu setia melayaniku bak putri raja setiap pagi. Menyediakan makanan plus susu kesukaanku. Padahal, kini aku telah duduk di bangku SMA. Tapi, ya begitulah Mamak. Begitulah aku. Mamak hanya punya anak satu, yakni aku. Sedang aku, hanya punya Mamak satu, dia. So? Ya begitulah. Pikir saja sendiri.
Usai makan, aku bersiap pergi ke sekolah. “Pergi ya Mak, Yah!” Kuciumi satu-satu sepasang punggung tangan mereka. Ya. Dengan sepeda Polygon kesayangan, kukayuh sepeda dengan penuh semangat, penuh energi, dan senyuman merekah tentunya. Mengapa begitu? Apakah karena aku terlahir sebagai gadis yang ceria, supel, dan selalu bersemangat? Ah, bisa jadi. Tapi, bukan itu alasan sebenarnya. “Wah, sudah jam setengah lapan! Nooo!” Kujagak sepeda yang kuncinya memang sudah rusak gara-gara anak tetangga yang terlalu kreatif di halaman warung Nek Mah. Rumah Nek Mah memang terletak di pinggir jalan, alias di ujung lorong, So? Ya, karena kerendahan hatinya, dia rela halamannya dijadikan tempat parkir bebas biaya untukku. Sebelumnya, aku kerap menitip sepeda pada temanku yang rumahnya di pinggir jalan pula, namun, sekali lagi, ternyata anak-anak tetangga temanku lebih kreatif dari anak tetanggaku. Beruntung, sepedaku belum sempat bertambah cacatnya. Baru colek-colek sedikit untuk tahap pengamatan. Begitu pikirku.
Alhamdulillah. Setelah lima menit menunggu, akhirnya nongol juga sudek pahlawan kesianganku. “Jleb!” Kuintip ke dalam, nyaris penuh. “Naik aja, dek, masih muat, kok!” Ujar kenek. Tak menjawab, aku menurut saja perkataannya. Benar saja, tubuhku yang ramping dan toleransi penumpang lain membuatku mampu menambah deretan penumpang lainnya. Ah, lebih tepatnya, menyempil.
Laju sudek terasa lebih lambat dari biasanya. Aku mengeluh dalam hati sepanjang perjalanan. Mengeluh atas kebiasaan burukku yang selalu terlambat ke sekolah. Dan, Ya. Mobil akhirnya berhenti tepat di seberang jalan sekolahanku. “Jleb!” Mataku terbelalak selepas sudek meninggalkanku. Mataku seakan mau lompat dari tempatnya. Pintu gerbang nyaris ditutup. Dan itu artinya... “Cepat-cepat!” Pak Supriyadi tampak bersemangat menyuruh kami berbaris. “Udah rapi? “ Suara Buk Srik menghentak adrenalinku. “Siaapp, Buuk!” Jawab PSST (pasukan siswa sabe telat)  serentak.  Panjang kali lebar Buk Srik memberi petuah. Jujur, aku amat malu. Ya, apa boleh buat? “Sekarang, kalian mau masuk?” Tanya guru fenomenal di sekolahku itu.
“Mauuu!”
“Sekarang kutip sampah sampai bersih satu lapangan ini. Kemudian kumpul lagi di sini. Jangan kembali sebelum lapangan benar-benar bersih!”
“Siapp, Bookk!” PSST segera berpencar, memburu sampah berupa daun kering, plastik, bekas botol air mineral, dan lain-lain. Sekitar lima menit kami muter-muter keliling lapangan. Ada yang sungguh-sungguh mengutip sampah, dan tidak sedikit pula yang wet-wet belaka. Aku tentu termasuk golongan pertama.
Sampah masih di tangan masing-masing. Biasanya langsung dimasukkan ke tong sampah, lantas bebas. Namun, hari ini sepertinya berbeda. “Sekarang, kalian jongkok semua, cepat!” Suara Bu Srik sekali lagi menghentak adrenalinku. Terdengar keluhan-keluhan keluar dari mulut PSST lain. Dalam waktu sekitar lima menit kami berhasil melintasi jalan menuju koridor dalam kondisi berjongkok. Setelah sampai, kami semua seperti tahanan yang baru terlepas dari jeratan hukum. Sampah segera kubuang ke tong sampah yang telah diletakkan di ujung jalan. Kami segera kembali ke pos semula untuk mengambil tas, lantas menyembur ke kelas masing-masing.
“Tok, tok, tok, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam”
Kutundukkan kepalaku ke lantai kelas. Lantas berjalan dengan cepat ke bangku. Aduh! Sungguh memalukan! Kalau sudah begini, lagi-lagi aku merasa bersalah. Bersalah pada diri sendiri. Pada orang tua. Dan, HIPISA (Himpunan Pelajar Islam SMAN 1 Langsa).

***
Awal aku menyandang status sebagai siswa SMAN 1 Langsa ini, saat aku dan teman-teman menjalani masa orientasi sekolah (MOS), lebih tepatnya hari ketiga MOS, masuklah sekelompok kakak leting ke kelasku. Beberapa di antaranya adalah siswi berjilbab lebar dan besar, sebagian lain siswa memakai rompi krem. Sebelum ini, telah masuk pula beberapa delegasi organisasi sekolah lainnya yang melakukan promosi. Namun, jujur, ini merupakan pemandangan baru bagiku. Tak begitu serius aku mendengar ucapan mereka. Aku justru lebih tertarik  melihat penampilan mereka satu-persatu. Entah apa yang kupikir saat itu. Hingga aku tak tahu apapun yang mereka katakan dari awal hingga akhir.
Sedih. Kesal. Itu yang kurasakan saat itu. Betapa tidak? Sebelum megikuti tes masuk sekolah ini pun aku telah bermimpi untuk bergabung di Pramuka atau Sispala. Namun, kenyataan berkata lain. Ayah tidak memberi izin. OSIS? Aku tak cukup berani menanggung resiko harus ketinggalan pelajaran nantinya. PMR? Terlambat. Aku terlalu percaya diri akan mendapat izin masuk Pramuka atau Sispala. Nyatanya PMR menjadi pilihan yang terakhir dan naas, habis formulir. Esoknya, Fika, salah satu teman baruku menawarkan aku untuk masuk sebuah organisasi. “Masuk HIPISA aja, Cut! HIPISA itu bagus, loh! Kalau mau, Cut bisa ambil formulir sama Fika. Abang sepupu Fika anak HIPISA juga soalnya!” Aku tersenyum hambar menyambut tawarannya itu. Merasa tak bergairah.
Siang bertandang ditandai azan zuhur. Aku dan teman-teman sekelas meluncur ke musala. Menghadap Khalik.  Usai meletakkan mukena di dalam, aku melesat ke tempat wudu. Melintasi halaman musala, mataku menangkap dua orang kakak leting memakai kerudung besar dan lebar. Ada tumpukan kertas di atas meja. Salah satu dari mereka menulis sesuatu di sebuah buku panjang. Ada seorang siswa baru juga di depannya. Kelihatan dari bajunya yang masih tampak perawan. Aku tebak ia tengah mendaftar. “Bagah, hai! Bek taheu!” Fitri, teman sebangkuku menegur.
Segar dan sejuk melingkupi jiwa. Seharian letih memburu tanda tangan senior yang tidak gratis itu membuat seragam baru yang kami kenakan basah oleh peluh. Belum lagi gerah dan dahaga. Oh! Tersiram air wudu bikin adem! Gerakan salat melenturkan saraf otot dan otak yang tegang.  Belum lagi selesai kulipat mukena, terlihat kembali meja panjang di luar yang sempat mencuri perhatian tadi. “Fit, ikutan HIPISA, yuk!”
“Apa? Serius Kamu? Emang Ayahmu mengizinkan?”
“Ah, gampang itu! Kalau yang beginian InsyaAllah Ayah kasih, dong! Kan, belajar agama! Kurang banget ilmu agamaku, Fit! Ayoklah!” Yang kupikir saat itu adalah bisa mengemban organisasi, apapun itu.  Daripada gak sama sekali. HIPISA. Yang kutahu adalah pesantrennya SMAN 1 Langsa. Jadi, aku bisa belajar ngaji, tajwid, agama, fiqih, dan  pengetahuan agama lainnya di sini. Aku harap pengetahuan agamaku bisa bertambah nantinya. Itu saja.

***
Hari ini jumat, hari yang suci. Hari yang bersejarah pula bagiku. Untuk pertama kalinya aku mendengar istilah ROHIS dua hari yang lalu dari SMS. Dan, hari ini aku sungguh bersemangat ingin mengungkap tabir penasaranku-apa itu ROHIS?  Sepertinya menarik. Memasuki musala yang teduh ini membuat aku merasa nyaman. Memang letak musala ini sangat strategis. Banyak siswa-siswi maupun guru serta staf sekolah yang kerap menjadikan musala ini sebagai tempat berteduh. Begitu yang kudengar dari teman-teman. Entah mereka memperoleh informasi tersebut darimana.  Kulihat kanan dan kiri. Semuanya tampak ceria. Hawa keakraban begitu kental terasa. Dan kian bertambah hangat saat seorang siswi menegurku. Dia yang duduk tak jauh dari tempatku mendekat dan menyapa dengan begitu hangat. Nanda Marlina namanya. Wah, wajahnya bersinar, tutur bahasanya lembut dan santun. Pakaian dan kerudungnya rapi dan sopan. Baru kali ini kutemui wajah seteduh itu. Senyum dibalik celotehnya begitu memikat. Nanda Marlina, bagiku ia adalah replika HIPISA. Tak perlu kucari tahu lebih banyak, ia telah cukup mewakili dan membuatku jatuh. Jatuh hati. Untuk pertama kali.
Aku memang bukannya mantan preman yang suka memalak pedagang di pasar. Atau bekas kupu-kupu yang suka terbang hinggap di hidung belang pada malam hari. Tapi, aku juga punya banyak dosa. Aku tak jarang membuat Mamak kerepotan sendiri. Aku juga sering kesal bila Ayah menyuruhku ini dan itu. Kerap pula aku membuat mereka kecewa dengan ucapan dan tingkah lakuku saat kemauanku tak dituruti. Mulutku yang masih suka mengeluarkan ucapan tak sepantasnya kepada sesama. Gosip, atau sekedar menggoda yang tanpa kusadari membekas di hati. Aku juga punya kebiasaan buruk yang sulit diobati, suka menjahili teman. Entah mengapa. Ada kepuasaan tersendiri setelah menuntaskan hasrat tersebut. Melihat ekspresi kesal mereka, membuat aku tersenyum bahkan tertawa sangat puas. Dan, salat? Aku pernah menangis sesenggukan karena ketahuan bohong sama Ayah. Aku pura-pura wudu, lantas masuk kamar, mengunci pintu dan tidur! Entah mengapa naluri orang tua begitu kuat. Hingga malam itu aku naas. Bakda maghrib, Ayah mengetok pintu dan menuntut kejujuranku. Nyaris aku harus bersumpah di depan Al-Quran bila tak jujur saat itu. Oh My Allah! Intinya aku ini manusia. Pendosa yang ingin menjadi lebih baik. Dan perlahan, secercah cahaya di langit Langsa itu terlihat.
***
Ini hari terakhir orientasi HIPISA. Banyak sudah mutiara ilmu yang kukutip di taman pendidikan agama ini. Taman pendidikan agama? Ya. Aku lebih senang menyebut seperti itu. Bagiku HIPISA serupa dengan taman yang indah, senantiasa menuai ilmu, dan islami banget. Saat hari pertama, temanku, Amoy sakit tiba-tiba, tak kusangka tanggapan senior HIPISA begitu mengusik kalbuku. Kak Husna begitu cekatan dan penuh perhatian memapahnya ke parkiran lantas mengantarnya ke rumah. Mungkin kedengarannya hanya bentuk perhatian biasa. Namun, bagiku itu hakikat persaudaraan sejati, atau yang mereka sebut-sebut sebagai ukhuwah. Ya. Sekali lagi aku jatuh. Jatuh hati.
Hari berlalu. Minggu berganti. Aku yang tengah senang mengoleksi jeans dan lee, serta baju-baju kemeja ngepas beragam model beralih profesi menjadi pengemis. Pengemis yang minta-minta dibelikan rok sama Mamak. Terkadang sayang melihat jeans dan lee yang masih baru itu. Tapi, aku harus bisa melupakannya. Akan ada yang lebih baik menanti. Rok dan gamis. Aku tersenyum menatap jilbab komputer yang baru kubeli. Untuk saat ini sudah cukup. Besok insyaAllah tambah setengah senti lagi. Ujarku polos dalam hati.
***
“Cuuttt, nyapu halamannya, dong! Udah kotor tuh, nanti kesorean!” Ayah berteriak di ruang keluarga. “Iya, Ayah! Bentar!” Bismillah…kurapikan jilbabku. Kutatap rok dan kaos kebesaran baru yang melekat di tubuhku. “Cut, kamu harus yakin…ini yang kedua kalinya setelah pernah gagal. Tekadmu sudah bulat!” Aku keluar dengan wajah disetel sebiasa mungkin. Sementara hatiku dag dig dug berdoa agar tak ada komentar yang keluar dari mulut Ayah atau Mamak. Alhamdulillah, untuk beberapa menit hening, namun tidak pada menit berikutnya. “Nyapu aja pake dandan segalaa…Cut…Cut!” Mamak bersuara dari dalam. “Ohh, No! Bukan dandan, Mamak!” But, okelah! Apapun itu. Aku tak menjawab. Kulanjutkan pekerjaanku. Seiring tekadku yang semakin bulat. Telingaku sudah cukup sering mendengar tausiah tentang kewajiban menutup aurat di ROHIS. Sepasang mata ini nyaris setiap hari menatap teman akhwat HIPISA yang satu persatu menutup auratnya. Dan, hatiku, sudah lelah untuk selalu berkata ”Aku akan seperti itu, suatu saat nanti”. Dan mulutku telah berbuih untuk terus bermunajat kepada Allah, namun kewajiban yang sangat besar justru kuabaikan, lebih tepatnya kutunda selalu. Aku malu.

***
“Jangan mendekati zina!”
Kak Yusridha dengan ditemani Kak Yulvianda menegur Irham dengan tegas. Seorang anggota HIPISA baru. Ia baru-baru ini memang sering memberi sinyal kepadaku. Dan ternyata sinyal itu terlalu kuat sehingga aku tak mampu menanggung sendiri. Aku mengungkapkannya pada kedua seniorku itu. Hingga terjadilah  peritiwa peneguran hari ini. Aku bersyukur untuk itu. Karena, jika aku tak mengungkapnya, entah apa yang terjadi selanjutnya antara aku dan lelaki yang baru dilantik sebagai ketua Patroli Keamanan Sekolah itu. Syukur, dia bisa menerima dengan sikap dewasa. Tak lama setelah kejadian itu kami disidang dan ia mengundurkan diri. Aku tak tahu hakikat apa yang kurasakan, hanya sedikit merasa kehilangan, namun lebih banyak merasa menemukan. Menemukan saudara. Kukira saudara sendiri belum tentu mau begitu perhatian tentang keselamatan masa depanku, lah ini? Terima kasih, untuk Kak Yus dan Kak Yul, replika HIPISA selanjutnya yang membuatku jatuh. Jatuh hati pada HIPISA. “Cut! Icuttttttttt!” Aku terkesiap. “Absenn, absen…” Ujar Manda. “Ehmm…hadirr Buk!” Sesaat kurasakan angin lembut membelai sukma hingga membuat nafasku terasa segar kembali. Allah…, aku terlanjur jatuh…di singgasana-Mu.




Sabtu, 28 Juni 2014

Misteri Gubuk Petir

Senja melambai belahan bumi, pesisir yang masih menyatu dengan tubuh Serambi Mekkah itu masih saja indah seperti pertama kali kupijak tanahnya. Arah pukul sembilan dari tempatku duduk terdapat sebuah gubuk yang terlihat lumayan seram,  pandanganku dari  luar. Gubuk itu. Ah, ada nyeri di ulu hati acapkali aku melihatnya. Trauma itu ternyata  masih membekas di jiwaku.

Siang itu, kala mentari perlahan berpamitan. Aku yang masih kelas lima sekolah dasar belum juga pulang ke rumah. Aku sedang asyik bermain tanpa sadar hari telah uzur, azan menyadarkan aku dan teman-teman. Lantas aku panik. Orangtuaku tentu akan memarahiku, jika aku telat pulang. Apalagi setelah ayah tak berhasil menemukanku di sekitar rumah. Karena aku bermain di kampung sebelah. Hari ini, pertandingan bola antara tim terbaik kampungku dan kampung tetanggaku. Pun kegelisahanku kian bertambah tatkala petir tanpa diundang tiba-tiba saja datang. Lalu disusul air yang tumpah dari langit.
”MasyaAllah,” ringisku.
Petir pertama dan kedua kulewati. Pada petir berikutnya aku sungguh tak dapat berkutik. Kondisi hujan dan petir membuat suasana langit menjadi gelap. Hanya petir yang sesekali memberi penerangan jalan.
”Oh, bagaimana ini?”.
Tanpa pikir panjang, aku berhenti dan berteduh di sebuah gubuk reot yang dihuni oleh seorang nenek tua.
”Mari, cu, berteduhlah di dalam?,” sahutnya dengan logat daerah yang masih kental.
”Oh, tak usah nek. Aku di sini saja,” tanganku mendekap tubuh kuyup, tak berhasil menutupi getaran tubuh yang menggigir dipagut dingin.
”Tuh, kau bisa-bisa masuk angin dan sakit. Ayo masuk. Jangan takut,”
Kakiku melangkah masuk dan cahaya dari dalam perlahan menerangi pandanganku. Cahaya  teplok dari arah kamar nenek tua itu. Tanpa dipersilahkan, aku segera duduk di lantai tanah beralaskan tikar lusuh di ruang sempit itu. Tak lama ia pun kembali sembari membawa segelas teh hangat serta teplok yang seperti hanya itu miliknya. Meski merasa canggung, teh hangat itu perlahan habis aku seruput. Lantas hujan kian deras terdengar dari luar. Aku dan nenek tua ramah itu berbincang ringan.

Sekitar satu jam lebih aku bernaung di gubuk itu. Namun, hujan tak kunjung reda. Pun kesunyian kian meraja. Keresahan yang sempat tertunda karena perbincangan hangat antara aku dan nenek tua kembali melanda.
”Kau pulang setelah hujan reda saja”
”Tapi, sepertinya hujannya masih sangat lama reda, nek”
”Yasudah, kau pulang besok saja”
”Oh, tak mungkin nek. Aku takut orang tuaku marah.”
”Tak mengapa”
“Nanti biar nenek yang menjelaskan pada mereka.”
Setelah itu aku tak berkata-kata lagi. Diam. Pasrah. Sembari dalam hati berdoa agar langit berbaik hati padaku agar hujan segera berlalu. Dan petir pun lenyap, kendati sebentar saja.

Ternyata doaku belum terkabulkan. Atau memang ada hal lain di balik semua itu. Hujan masih saja turun dengan gairahnya. Hanya petir sesekali baru menyala. Namun begitu pepohonan masih meliuk, membungkuk, nyaris mencium tanah tertiup angin yang kencang. Nenek tua kembali dari kamar lalu memegang tanganku tanpa suara. Kupikir itu merupakan isyarat untukku supaya segera tidur. Anehnya, aku seperti tengah bersama nenekku sendiri. Jadilah aku tidur bersamanya di kamar yang begitu sempit. Di atas kasur usang yang terhampar di tanah.

Mataku perlahan terbuka, kurasakan jantungku berdegub kencang tak karuan. Ada yang aneh. Tubuhku seperti dikerubungi laba-laba. Serasa geli, kubuka perlahan mataku. Dan, sial! Menyadari hal yang tak wajar hendak terjadi. Aku segera berlari menerobos kegelapan. Kudobrak pintu berbahan nipah hingga rusak sebagian sisinya. Tak perduli, berlari menembus rinai hujan yang kian menipis. Antara petir yang masih menyisakan suara-suara menggelegar. Aku berlari sekuat tenaga. Setengah sadar, setiba di rumah tubuhku ambruk, Lalu gelap. Esoknya, gubuk nenek tua itu ramai dikunjungi pelayat. Kabarnya ia mati tersambar petir. Hingga kini gubuk itu dibiarkan begitu saja. Sesekali bila malam minggu tiba anak muda berkumpul dan menghabiskan malam di sana.
”Gluduk”

”Astaghfirullah”


Kutatap langit, bagai suatu jaringan yang di dalamnya terdapat urat-urat yang terungkap secara tak teratur. Dan urat-urat itu memancarkan kilatan cahaya yang sampai ke bumi. Tak lama berselang. ”Byuurr,” aku beranjak dari ambal pasir putih lalu berlari pulang. Tepat, kala tubuhku bersisian dengan gubuk tua itu, kilatan cahaya menyorot ke bumi. Sedetik, sosok nenek tua tersenyum di pintu rumahnya dan hilang bersama gelap yang kembali. Kupercepat langkah, entah seberapa cepat.


Banda Aceh, 2012

Senin, 09 Juni 2014

Elegi Dua Purnama



google.co.id

Lagi. Malam mengintip di balik jubah hitamnya. Malam yang tampak bertuah bagi suatu kondisi, dingin dan penuh angin. Di balik dinding rumah, badai mengamuk. Hujan ditumpahkan dari langit begitu deras, dan untuk sekejap saja raungan senjata tinggal jadi kenangan.
Di satu sudut terpacak sebuah rumah. Aku tinggal di sini bersama orangtuaku. Sementara Ayah menghabiskan waktu demi waktu dengan teman perwira-perwiranya di ruang tamu, Aku dan Ibu mendengarkan dentuman-dentuman longsong peluru di kejauhan di dalam rumah. Aku sungguh lebih suka mendengar kicauan burung saat ini sebab kecamuk perang sangat mengganggu.
Itu dulu. Beberapa waktu lalu. Tepatnya beberapa tahun yang lalu manakala aku tengah duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu untuk terakhir kali sebelum damai berkumandang di daerah ini, aku ingat Ayah dengan langkah seribunya berjalan tanpa menjawab pertanyaanku. Esoknya baru kutahu bahwa semalam Ayah berhasil menangkap tujuh anggota pemberontak. Wajah Ayah siang itu tampak cerah kendati dalam kondisi lelah. Sebenarnya aku tak begitu paham terkait bentrok yang terjadi antara golongan Ayah dan golongan pemberontak. Aku hanya tahu bahwa mereka selalu berselisih. Berbeda dengan saat ini. Aku di usia dewasa ini. Semuanya terpaksa terungkap. Ya. Terungkap dengan sendirinya. Terungkap oleh keadaan.
Dan saat ini. Aku sungguh mengerti. Ternyata keindahan yang telah kualami selama beberapa bulan ini harus berhenti. Mimpi telah berakhir. Dan aku terpaksa bangun, bangkit dari pembaringan ini. Ya. Aku pun akhirnya bangun dan.. ''Khadijah, bangun!'' Kukira ini panggilannya setelah beberapa panggilan sebelumnya. Ah, Ibu! Maafkan aku. ''Hoamm! Ehm!'' Ibu lantas seperti biasa menarik selimutku. Seperti biasa bila aku terlambat bangun. ''Khadijah, mengapa matamu bengkak? Menangis lagi?'' Tuduhnya padaku. ''Hmm. Mungkin Bu. Dijah lupa. Entah menangis dalam nyata atau mimpi. Ah. Mungkin saja mimpi.'' Ia tertegun sejenak. ''Hm. Yasudah. Bangunlah, subuh hampir habis.'' Aku bergegas bangun meninggalkannya yang masih termangu. Berharap ia akan bercerita tentang ini pada Ayah. Ya. Supaya Ayah tahu bahwa aku begitu menderita karena egonya.

***
Aku melihat awan menyebar di langit pucat Serambi Mekah. Aku terlalu lemah untuk mengakui langit itu cerah saat ini. Mungkin karena mataku yang telah memburam. Atau virus yang menggerogot hatiku telah menyebar hingga saraf otak. Dan akhirnya semua menjadi kacau. Au! Hahaha! Ahhhhh! Jeritan batin. Percuma. Tak ada labirin yang menangkap. Kecuali satu. Tuhan. ''Tidiiiitt!'' Ponselku menjerit.
''Dijah, tolong angkat teleponku!'' Kualihkan pandangan ke cermin mungil di jariku. Kudapati diriku tengah berharap mencintai seorang lelaki yang memujaku selama bertahun-tahun. Aku bimbang. Kenangan itu terlalu menyakitkan. Lidahnya kerap membuatku tersenyum, terkecuali hari ini. ''Kriiiing!'' Ponsel itu berderit lagi. Kali ini kutolak. Lalu segera mematikan benda kecil itu. Berharap tak terusik lagi olehnya. Karena, aku selalu lemah bila sekali saja mendengar suaranya.
***
Senyumnya mengembang, lalu pupus oleh sekelebat suara yang membisik di telingaku. ''Aku ingin kau jujur sekarang. Apa yang terjadi?'' Tanya Zulfan dengan sorot mata penuh.
''Aku bosan.''
''Bohong.''
''Terserah. Aku ingin kita berpisah. Mungkin hanya takdir yang dapat menyatukan kita lagi suatu saat. Mengertilah!''
''Tidak! Tak mudah aku medapatkanmu. Jadi, tak mudah pula aku melepasmu.''
''Oya? Yasudah kalau begitu. Terserah Kamu. Aku mau pulang.''
''Silahkan.''
Dan senja menjadi saksi perpisahan sepasang merpati. Sepasang merpati yang harus terpisah karena kematian salah satunya. Mati akibat ditembak oleh seorang purnawirawan. Ditembak tepat di hatinya. Au!
***
''Ayah ingin kau menjauhinya. Ayah membenci pemberontak. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Mengerti?'' Rangkaian kalimat yang menohok. Rangkaian kalimat yang serupa belati menancap di ulu hati. Bengis. Di satu sisi Ayahlah yang telah memberi segenap cintanya, hidupnya untukku. Anak satu-satunya. Namun, di sisi lain Zulfan. Lelaki yang dengan segenap keberaniannya mencintaiku. Memilihku sebagai penghuni hatinya. Kendati butuh banyak kendala. Kendati begitu sulit ia meluluhkan pertahananku. Dan kini, setelah aku jatuh di singgasananya, lalu merasa nyaman, bahkan “terlalu” hingga aku merasa berat untuk beranjak darinya, semua justru harus luluh lantah. Semua harus berakhir dengan keputusan yang harus kutelan sendiri. Seorang diri. Karena, meski Zulfan merasa hancur. Setidaknya tak seberapa dibanding diriku yang harus mati-matian menjaga perasaan kedua orang yang kucintai dengan mengorbankan perasaan sendiri.
Zulfan memang pernah bercerita tentang satu rahasia besar hidupnya. Tentang Ayahnya yang dahulu ialah seorang pemberontak. Sempat mengalami penahanan. Miris. Salah satu dari perwira yang menangkap tak lain adalah Ayahku. Maka, tak heran jika kali pertama Ayah dan Zulfan bersua menjadi kali terakhir pula. Mungkin semua telah terencana oleh-Nya. Namun, siapa yang dapat menerima kenyataan pahit terkait hati dalam tempo yang begitu singkat dan mendadak? Hanya waktu yang dapat menjawab. Benarkah? Entahlah. Lihat saja nanti. Aku hanya ingin menangis tiap malam. Dan berharap Zulfan berhenti mempertanyakan. Karena, selamanya aku tak mampu menjawab.
***
Pagi kembali. Kulihat Ayah begitu cekatan dari biasa. Serupa beberapa tahun silam, Ayah dengan langkah seribunya berjalan tanpa menjawab pertanyaanku. Aku tahu ia telah setahun menjadi purnawirawan. Aku tahu pula bahwa hal itu hanya sedikit mengurangi kelincahannya. ''Ayah mau pergi kemana Bu?'' Bisikku. Ibu hanya menggeleng. Aku mendesah. Dan petangnya kutangkap aura lelah di wajahnya. Ah, tidak. Aku tak tahu bagaimana cara melukiskan kondisinya. Mungkin lebih dari itu. Namun, aku dan Ibu tak berani bertanya. Sepatah pun.
''Tidiiiiit'' Satu sms masuk. Segera kubaca. Berharap itu Zulfan. Maklum. Sesekali rindu ini kerap mendera, tapi gengsi untuk mengadu. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Benarlah ini SMS darinya. Tapi, tunggu! SMS-nya membuyarkan gejolak hati.
''Assalamu'alaikum. Aku sudah tahu semuanya. Pagi tadi aku menemui ayahmu. Ah! Mengapa kau tak katakan langsung padaku. Ini sungguh lebih mengecewakan. Tapi, yasudahlah! Aku takkan berhenti. Karena, jodoh bukan di tanganku, Kau, atau ayahmu. Tapi, di tangan Tuhan. Mungkin ayahmu membenci pemberontak. Tapi, ayahku bukan pemberontak Tuhan. Ia hanya membenci penghianat. Bagiku ia pahlawan. Ayahmu terlalu skeptis melihat semua itu. Tapi, aku maklum. Jangan takut. Aku masih dan akan selalu mencintaimu, sayang. Assalamu'alaikum.''
Jilbabku tidak terlalu tebal dan panjang, tapi terasa berat seketika. Perutku mual. Aku ingin pingsan, namun kenyataannya tidak. Dalam pada itu aku hanya dapat terduduk lemas. Masih tak percaya terhadap kenyataan yang baru saja terjadi.
***

Senja kala. Samar-samar kucium aroma kopi. Kopi. Ah, pada akhirnya aku dan Zulfan dapat saling bicara namun tanpa kata. Kami tetap dapat merindu tanpa batas waktu. Dan, itu terus terjadi. Hingga pada suatu petang. ''Dorrrr!'' Sebuah tembakan terdengar keras dari arah yang tak sempat kutangkap. Kegelapan seketika mengikutiku seperti sebuah bayangan. Sebuah bunyi terdengar lagi. Ibu berteriak. Aku melompat dari tempat dudukku dan berlari menuju sumber suara. Rasanya air mataku tak mau mampat ketika aku terisak dan memeluk Ayah. Kudekap tubuhnya yang ringkih. Dengan suara serak aku menuntunnya mengucap tahlil. ''Laa ilaa ha illallaaah.'' Ia menutup mata di pangkuanku. Saat itu Ibu terlambat menyusulku.

DeTaK, 2013

Suara-Suara Angin (Episode 3: Hijrah)


Hijrah


                Malam ini seolah bertuah bagi Mala. Betapa tidak, suasana hujan tentu akan memaksa penduduk sekitar untuk berdiam diri di dalam rumah. Ah, lebih tepat lagi menikmati suasana hujan, dingin berangin di dalam kamar. Sama halnya dengan kedua orang tua Mala. Keduanya telah lelap sejak sejam yang lalu. Mala menatap jarum jam di lengannya. Pukul 01.35 wib. Hujan memang begitu lebat, tapi tanpa kilat. Lamat-lamat Mala melangkah keluar rumah. Kunci rumah di lempar kembali lewat celah pintu bagian bawah. Setelah payung terkembang, ia pun mulai menyusuri hujan. Setapak demi setapak. Hanya gelap, gemericik hujan, dan  suara tapak kaki yang beradu dengan aspal yang menemani hingga tiba di jalan besar.

            Mala mulai menggigil. Jaket jeans-nya tak mempan terhadap dinginnya hujan. Kakinya mulai gemetaran. Entah telah berapa kilometer jalan ditempuh oleh Mala. Suasana malam yang basah membuat jalanan kosong oleh kendaraan. Mala tak perduli, tujuannya satu, terminal. Dan, lantas ia pun terus berjalan seiring langit memudar. Dan hujan menghindar. Saat itu, ia telah sampai di terminal.

Pukul 06.15 wib.  Mala tak lupa menunaikan subuhnya di masjid yang terpajang di terminal. Usai itu ia segera menuju kantin. Syukurlah, saat itu beberapa kantin mulai membuka warungnya. Mala mengisi perut di salah satunnya. “Mau sarapan apa, Kak? Lontong atau nasi?” Tanya perempuan berparas Aceh campuran india arab. Aku asal menebak, karena raut wajahnya begitu khas.
“Ehm, lontong aja, Kak.”
“Minumnya?”
“Teh manis hangat, Kak”
“Bentar ya Kak”
Aku duduk di salah satu kursi menghadap ke jalan. Selang beberapa menit perempuan berparas india campur arab itu datang membawa pesanan. Tak butuh waktu lama untukku mengosongkan piring dan gelas itu. Selain lapar, aku doyan juga.

***

Bus melaju dengan pelan melewati pintu keluar terminal. Mala memilih bus paling pagi. Dan pukul 09.00 wib adalah keberangkatan paling awal. Dialihkan pandangannya ke jendela kamar. Mereka masih melewati kawasan berpenduduk. Ada sekelompok ibu-ibu yang berkerumun di warung penjual sayur mayur. Ada lelaki tua yang mengayuh sepeda di pinggir jalan. Diam-diam Mala menebak ia hendak pergi ke ladang. Ups, terlihat pula bocah laki-laki berusia kira-kira sepuluh tahun berjalan di antara kendaraan yang berhenti karena lampu merah. Bocah itu menggendong setumpuk koran. Dalam hati Mala bergumam, “Apa dia tidak sekolah? Ah, mungkin dia mendapat jatah sekolah sift siang hingga sore,” jawabnya dalam hati, menghibur diri. Ditariknya nafas dalam-dalam lalu segera menghembuskannya lagi. Mala merasakan nafasnya bercampur dengan udara pagi yang basah. Tiba-tiba aku teringat Ayah dan Ibu. Diintipnya ponsel mungil yang kerap menemaninya itu di saku tas, tergeletak tanpa nyawa.

Perjalanan telah berlalu sekitar dua jam. Mala melirik kursi sebelah yang masih kosong. Untuk sesaat kondisi ini membuatnya nyaman. Namun, tidak pada saat selanjutnya. Karena, bus tiba-tiba berhenti di salah satu halte di daerah perbatasan Aceh-Medan. Dan, duduklah seorang ibu-ibu bersama seorang bocah perempuan di gendongannya. Mala kira wanita itu seusia dengan adik mama, tante Reni. Sedang anaknya, tentu masih sekitaran dua tahun. “Tante, tante, kenapa liatin dedek telus? Dedek antik yah?” Lamunan Mala terpecah. Mala terperangah. Takjub. “Haa? Eh, iya! Tante suka liat dedek, karena cantik,” jawabnya dengan spontan. Mala menangkap ibunya tersenyum mendengar percakapan kami.  Dalam sekejap, Mala dan ibu beranak itu menjadi akrab. Terakhir Mala tahu, wanita itu ternyata adalah seorang janda. Ia dan suaminya menikah empat tahun lalu. Selang dua bulan setelah kelahiran sang buah hati, suaminya memutuskan untuk merantau ke Medan dengan berbagai pertimbangan. Awalnya Marni keberatan, tapi demi si buah hati, ia pun rela. Tak disangka, komunikasi terputus setelah setahun kepergian suami. Padahal, sejak pertama kali merantau, suami Marni baru sekali pulang. Saat ini, Marni tak mampu lagi menahan gejolak rindu. Bukan hanya itu, ia juga tahu, sang putri tentu diam-diam merindukan sosok seorang ayah. Marni sering memergoki Dedek tengah memperhatikan anak-anak tetangga yang sedang asyik bercanda dengan ayah mereka. Bahkan, tak jarang pula, Dedek mengigau menyebut-nyebut nama ayahnya. Padahal, sejak ia menatap dunia, hanya sebentar ia melihat ayahnya. Namun, mengapa terlihat begitu dalam tali ikatan batin yang bersarang di jiwanya? Entahlah.  Barangkali, Rizal juga menyimpan rasa yang sama.

Bukannya Marni tak pernah mengadu pada polisi. Lebih dari itu, Marni dan keluarga telah menghubungi wartawan harian lokal maupun nasional untuk memasang pengumuman, menyebar dan menempel selebaran di sepanjang kota Medan dan Aceh. Terakhir, membuat acara kirim doa selama tiga hari berturut-turut. Memohon bantuan sang Maha Tahu. Berharap Rizal akan kembali baik dalam keadaan hidup maupun sebaliknya. Marni dan keluarga telah pasrah. Jujur, aku begitu tersentuh dengan kisah ini. Mala yang mempunyai keluarga lengkap dan begitu menyayangiku justru memilih pergi hanya gara-gara seseorang yang bahkan belum tentu memikirkan nasibku sekarang. Bocah ini? Hmm… Diam-diam aku meneteskan air mata. Dalam hati aku memohon ampun pada Allah swt. agar senantiasa menjaga dan melindungi ibu dan ayah. “Aku hanya pergi ‘tuk sementara…,” alunan lagu Pasto mengalun indah. Membuai sukma para penumpang hingga terlelap dalam mimpi sepanjang perjalanan memasuki Medan.


Jarum jam menunjuk angka 09.35 wib. saat bus tiba di terminal Kota Medan. Seluruh penumpang turun dari bus bagai semut yang keluar dari sarangnya. Sesaat Mala merasa bingung. Pasalnya ini kali pertama aku menginjak tanah ini sendiri. Mala buta akan wilayah ini. Tanpa berpikir lama, Mala melangkahkan kaki menuju salah satu rumah makan yang kupastikan berlebel halal. Rumah makan “Rahmat” khas Minang.

Terminal masih ramai. Banyak calon penumpang, supir, kernet, pedagang asongan, atau penduduk setempat yang lalu lalang melewati terminal untuk berbagai tujuan. Kutatap piring nasi telah bersih. Gelas berisi teh hangat pun kosong. Mala tiba-tiba teringat Ibu dan Ayah. Mala kangen. Mala merasa berdosa. Tapi, manakala Mala berniat menghidupkan ponselnya untuk menelpon orangtua, bayangan ketakutan muncul kembali. Mala khawatir jika ia menghubungi orangtuanya sekarang, maka rencananya untuk pergi jauh akan terhambat atau bahkan batal. Kini, Mala semakin yakin untuk hijrah. Mala ingin pergi ke suatu tempat yang jauh. Jauh dari kesedihan, ketakutan, kesunyian, kerinduan yang tak ada ujung. Walau demikian, Mala tetap akan kembali. Tapi, nanti. Ketika ia telah terobati. Ketika ia telah benar-benar pulih.

Mala menatap musalla dengan perasaan campuraduk. Memang di saat-saat sulit manusia cenderung merasa lemah tak berdaya. Hingga kemudian merasa tak ada yang mampu menolong kecuali Dia, Allah sang Maha Penyayang. Mala merasa selama ini ibadahnya telah menurun. Ia telah sebulan tidak menyentuh Al-Quran. Shalat hanya wajib saja yang dikerjakan. Sekadar memenuhi kewajiban tanpa melaksanakan yang sunnah. Padahal, sebulan itu Mala juga merasa sulit, namun mengapa ia seakan tak peka? Mungkin saat ini Mala benar-benar merasa sendiri. Tak ada orang tua. Tak ada teman. Tak ada siapapun, kecuali Ia. Allah sang Maha Penyayang. Mungkin saat itu Mala merasa bahwa ia diciptakan sebagai manusia yang paling menderita. Kesedihan membuatnya lebih mendengar bisikan kemalasan, ketimbang pendekatan diri pada Allah. Ditatapnya mobil bus dan L300 masih berjajar rapi di lapangan terminal. Sedangkan supir dan kernet masih sibuk memburu penumpang. Sesaat kemudian, Mala mengalihkan pandangannya kembali pada mushalla. Lebih dalam, lebih mantap.

Wajah Mala terlihat lebih cerah usai melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Senyumnya semakin merekah manakala ia mendapati seorang supir tengah melambaikan tangan ke arahnya. “Jakarta, waiting for me!” Mala berucap dengan pasti. “Mau ke Jakarta, Mbak?” Tanya supir ketika Mala mendekati bus. “Iya, Bang!” Setengah jam kemudian, bus melaju dengan mulus. Semulus rencana Mala. Rencana yang penuh dengan misteri. Karena, Mala sendiri belum tau pasti apa yang akan ia lakukan nanti di ibu kota pertiwi.

Bersambung...  





 

Rabu, 04 Juni 2014

Lelaki Paris

google.co.id

Langit malam bertaburan bintang bak berlian terhampar. Angin menyapu tebaran dedaunan yang terserak di jalanan. Namun, malam ini sinar bintang tidak terlalu terang, karena purnama sedang menguasai malam.

Beberapa nelayan yang merupakan penduduk pesisir laut selatan, sedang berkumpul di salah satu gubuk yang kerap menjadi tempat favorit para nelayan, kala letih menjemput malam. Gubuk itu dinaungi atap ilalang dan memiliki satu jendela menghadap ke laut. Dari sini mereka dapat menikmati panorama syahdu. Perpaduan apik antara langit dan laut yang biru bila siang terang dan merasakan angin menyapu muka dengan lembut dan syahdu.

Seperti biasa, malam ini mereka kembali memilih tempat ini sebagai tempat melepas penat dan letih. Sebelum akhirnya, seruan-seruan dari menara masjid terdengar azan isya mengusir pulang mereka. Betapa daerah pesisir itu sangat mengenal agama, bahkan jauh lebih akrab dibanding dengan orang-orang kota, menurut kabarnya. Aku sendiri tidak begitu paham, karena sejak masih bayi, aku telah menjadi penghuni setia pesisir laut selatan itu.
Daerah yang kerap tersohor dengan mitosnya itu. Yang kuingat, sejak kecil hingga kini, tempat yang kukenali hanya pesisir itu. Bahkan, dahulu aku mengira bahwa Indonesia adalah nama lain dari tempat itu.

Lelaki itu, Jose Martin, berkebangsaan Paris yang terseret ombak ke sini, tatkala kapal yang dikemudikannya dibajak oleh sekawanan perompak. Ah, syukur orang-orang kota yang disebut ‘pemerintah’ oleh Jose itu cepat tanggap. Jika tidak, mungkin wajah Jose tak secerah malam ini. Kupandangi wajahnya diam-diam, kutemukan bias kerinduan mendalam di balik matanya yang biru ke abu-abuan. Aku pikir, kerinduan itu teruntuk keluarganya di kampung halaman. Hmm. Paris.
Aku sungguh penasaran dengan kota itu. Jose pernah bilang bahwa Paris itu adalah salah satu kota terindah di dunia. Hanya sampai di situ ia bercerita, karena dipotong oleh suara ibu yang berteriak-teriak dari kejauhan menyebut nama kami bergantian.
”Jose, Muhammad!” Wajah ibu menyiratkan kegembiraan.

Setelah mendengar penuturan ibu, barulah kemudian kami berdua mengerti bahwa para perompak dan kapal yang dikemudikan Jose telah berada dalam wilayah orang yang tepat. Begitu Jose berkata padaku dengan bahasa Indonesia-nya yang masih terbata-bata. Namun, tetap membuat kami bersyukur karena masih bisa berkomunikasi dengannya. Meski sebelumnya, sempat membuatku heran, darimana ia belajar bahasa Indonesia.
”Aku nahkoda kapal, sering keliling dunia, termasuk Indonesia. Makanya, harus belajar banyak bahasa.” Katanya terbata.
”Hai, Muhammad! Hari sudah malam. Mari kita tidur,” katanya cepat sambil menutup mulut yang menguap.
”Duluan saja. Aku belum mengantuk,” aku tersenyum sembari menatapnya berlalu.
”Jose, kasihan kau. Kutahu kau ingin segera pulang.
Namun, masalah di sini harus diselesaikan dulu. Esok sidang terakhir. Semoga indah pada waktunya,” bisikku lirih pada langit dan laut.
Ya. Merekalah sahabat karibku. Tentu setelah Rini dan Dodot. Rini dan Dodot? Ah, bagaimana kabar mereka? Tentu sedang berjuang di perantauan menimba ilmu, lalu pulang dengan gelar sarjana nantinya.
”Aku merindu kalian berdua,”sambungku lirih, masih pada laut dan pasir.
Palu telah diketuk. Sidang berakhir dengan keputusan yang cukup membuat Jose puas. Tanpa sadar, ia sempat memelukku. ”Ill be back home! I hope so!” Matanya berkaca-kaca. Aku mengangguk-angguk sembari tersenyum tulus.

Saat itu senja, syahdu. Senja tersyahdu dari senja-senja tersyahdu dan kunikmati dengan syahdu. Siluet kuning keemasan di langit biru menjadi kenikmatan tersendiri saat itu. Lembayung merah bergradasi menuju warna putih awan di sisi lainnya tak kalah memabukkanku. Di sisi satunya melintas seekor burung besi yang makin jauh semakin mengecil di mataku. Hingga akhirnya tak terlihat lagi, kecuali asap putih membentuk garis lurus yang masih melayang.

“Jose sudah sampai di langit ke berapa, ya?” Pikirku konyol. Jose Martin. Ah, kau telah banyak berjasa padaku. Jika saja peristiwa naas kapalnya itu tak pernah terjadi. Mungkin hingga kini, esok, bahkan entah hingga kapan, aku tak pernah tahu bahwa bumi ini tak sebatas pesisir laut selatan. Namun, lebih dari itu. Ada belahan lain yang menempati bumi. Belahan lain itu bukan hanya Indonesia, bukan hanya Paris, namun dunia, Dunia!
”Aku ingin keluar dari sini! Aku ingin keliling dunia!” Aku berseru sambil melompat-lompat. Seakan ingin meraih langit.
”Tapi…” Tiba-tiba sebuah bayangan merenggut kebahagiaan itu. Bayangan ibu, bayangan bapak. Ah, ibu. Mengapa kau memenjarakanku oleh ruang masa lalumu? Bahkan, mungkin kau sengaja tak membiarkanku berteman dengan dunia pendidikan gara-gara itu.

DeTaK, 2012

Jumat, 16 Mei 2014

Suara-Suara Angin (episode 2)

Rintik hujan menari-nari di keheningan malam. Menyisakan dingin yang menusuk-nusuk hingga tulang. Usai menunaikan kewajiban, Mala merebahkan tubuh ke kasur yang belum genap setahun menjadi bagian dari kamarnya itu. Kasur pemberian Saman sebagai salah satu syarat pernikahan. Mala menatap kamarnya penuh dan haru. Telapak tangan kanannya meraba tempat tidur dengan lembut. Aroma kain seprai masih baru. “Hmmh…andai saja!” bisiknya lirih. Lalu sesaat kemudian, suasana kembali basah. Membanjiri wajah Mala hingga sarung bantalnya ikut basah.
“Assalamu’alaikum, Mala, makan malam sudah siap, Nak! Makan dulu yuk!”
sapa Ibu. Tak ada jawaban. Maka diulang sekali lagi, “Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam, bu. Duluan aja! Mala belum kenyang.”
Ibu menghembuskan nafas dalam-dalam. “Mala, jangan begitu! Siang kamu tak makan, bagaimana bisa kenyang?”
“Mala tadi makan di luar, Mak!” Mala bohong.
Kreeek.. ! Ibu akhirnya membuka pintu. “Mala, makan sedikit saja yuk, Nak!”
“Enggak, Mak! Mala nggak selera. Jangan paksa Mala!”
Ibu mendekati Mala. Ditatapnya Mala tengah berusaha menutupi mata yang lembab. “Mala, Ibu tahu kamu sangat terpukul, namun bukan berarti kau jadi lemah terus-menerus begini. Mau sampai kapan, Mala? Kamu harus yakin bahwa ini ujian dari Allah. Kamu pasti bisa melewatinya. Bangkit lah sayang!”
Hening. Tak sepatahpun kata terlontar dari mulut Mala. Hanya air mata yang terus mengalir dan mengalir dari mata Mala. Air mata itu seolah keluar dari bendungan yang pecah karena tak mampu menanggung beban air yang terlampau besar.
          Pagi kembali menyapa bumi Serambi Mekkah. Hari ini ahad. Ayah dan Ibu telah menyiapkan segala keperluan untuk berakhir pekan. Pelabuhan Kuala Langsa adalah tujuan utama. Sejak dulu Mala dan keluarga memang senang berlibur. Tempat yang dikunjungi pun beragam, dari tempat yang dekat hingga jauh sekalipun. Langsa, Medan, Lhokseumawe, Banda Aceh hingga jalur pesisir Meulaboh, Tapak Tuan, hingga Takengon semua telah dijelajahi oleh keluarga pecinta traveling ini. Hanya saja, kali ini Fauzan, adik Mala tidak ikut serta karena tengah menjalani pendidikan di Banda Aceh.
“Mala, udah siap, Nak? Yuk!” Mala keluar kamar. “Loh, Mala kenapa belum siap? Kan udah daritadi Mak dan Bapak tunggu?” “Mala gak enak badan, Mak, Pak. Mala enggak ikut, ya!” Bapak menempelkan punggung tangannya di dahi Mala. “Iya, Bu. Badan Mala Panas.” Ibu pun turut menempelkan telapak tangannya di dahi Mala. “Ya Allah! Panas badanmu, Nak!”
“Yasudah, jalan-jalannya kita tunda saja dulu,” saran Bapak. “Loh, kok gitu Pak? Jangan dong! Kan Mak sama Bapak aja yang pergi, biar Mala yang jaga rumah,” sahut Mala merasa tidak enak. Bapak menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kita rekreasi kan buat Mala. Nah, kalo Mala tak ada, untuk apa?” Ujar Bapak. Ibu mengeluarkan kotak-kotak berisi makanan dari keranjang makanan. Mala yang merasa usahanya gagal segera melengos ke dalam kamar. Diraihnya sebungkus air hangat dari atas meja lalu dilemparnya ke lantai. Sesaat kemudian ia sadar akan kebodohannya.      
***

          Pepohon bergoyang-goyang diterpa angin sore. Langit mendung. Jalanan sepi. Sebentar lagi air ditumpahkan dari langit. Mala menatap langit dari teralis jendela kamarnya. Ia ingin sekali menangis. Tapi, orang tua Mala tentu tidak akan tinggal diam bila itu terjadi. Ibu maupun bapak Mala segera menghibur dan berusaha menghentikan tangis Mala. Namun, hal itu justru membuat Mala terusik. Mala sungguh ingin menumpahkan air matanya sebanyak mungkin. Mala ingin menangis sepuas-puasnya. Tanpa ada yang mengusik. Hingga ia lelah sendiri. Hingga air matanya mampat tak mampu keluar lagi. Dan, mungkin itu akan sedikit mengurangi beban Mala yang begitu berat. Dan, mungkin itu akan mengalihkan perhatiannya dari bayang-bayang Saman, walau sejenak. Dan, mungkin itu akan menghapus jejak-jejak kisah kasihnya bersama Saman, kendati sedikit saja.

bersambung...