Sabtu, 28 Juni 2014

Misteri Gubuk Petir

Senja melambai belahan bumi, pesisir yang masih menyatu dengan tubuh Serambi Mekkah itu masih saja indah seperti pertama kali kupijak tanahnya. Arah pukul sembilan dari tempatku duduk terdapat sebuah gubuk yang terlihat lumayan seram,  pandanganku dari  luar. Gubuk itu. Ah, ada nyeri di ulu hati acapkali aku melihatnya. Trauma itu ternyata  masih membekas di jiwaku.

Siang itu, kala mentari perlahan berpamitan. Aku yang masih kelas lima sekolah dasar belum juga pulang ke rumah. Aku sedang asyik bermain tanpa sadar hari telah uzur, azan menyadarkan aku dan teman-teman. Lantas aku panik. Orangtuaku tentu akan memarahiku, jika aku telat pulang. Apalagi setelah ayah tak berhasil menemukanku di sekitar rumah. Karena aku bermain di kampung sebelah. Hari ini, pertandingan bola antara tim terbaik kampungku dan kampung tetanggaku. Pun kegelisahanku kian bertambah tatkala petir tanpa diundang tiba-tiba saja datang. Lalu disusul air yang tumpah dari langit.
”MasyaAllah,” ringisku.
Petir pertama dan kedua kulewati. Pada petir berikutnya aku sungguh tak dapat berkutik. Kondisi hujan dan petir membuat suasana langit menjadi gelap. Hanya petir yang sesekali memberi penerangan jalan.
”Oh, bagaimana ini?”.
Tanpa pikir panjang, aku berhenti dan berteduh di sebuah gubuk reot yang dihuni oleh seorang nenek tua.
”Mari, cu, berteduhlah di dalam?,” sahutnya dengan logat daerah yang masih kental.
”Oh, tak usah nek. Aku di sini saja,” tanganku mendekap tubuh kuyup, tak berhasil menutupi getaran tubuh yang menggigir dipagut dingin.
”Tuh, kau bisa-bisa masuk angin dan sakit. Ayo masuk. Jangan takut,”
Kakiku melangkah masuk dan cahaya dari dalam perlahan menerangi pandanganku. Cahaya  teplok dari arah kamar nenek tua itu. Tanpa dipersilahkan, aku segera duduk di lantai tanah beralaskan tikar lusuh di ruang sempit itu. Tak lama ia pun kembali sembari membawa segelas teh hangat serta teplok yang seperti hanya itu miliknya. Meski merasa canggung, teh hangat itu perlahan habis aku seruput. Lantas hujan kian deras terdengar dari luar. Aku dan nenek tua ramah itu berbincang ringan.

Sekitar satu jam lebih aku bernaung di gubuk itu. Namun, hujan tak kunjung reda. Pun kesunyian kian meraja. Keresahan yang sempat tertunda karena perbincangan hangat antara aku dan nenek tua kembali melanda.
”Kau pulang setelah hujan reda saja”
”Tapi, sepertinya hujannya masih sangat lama reda, nek”
”Yasudah, kau pulang besok saja”
”Oh, tak mungkin nek. Aku takut orang tuaku marah.”
”Tak mengapa”
“Nanti biar nenek yang menjelaskan pada mereka.”
Setelah itu aku tak berkata-kata lagi. Diam. Pasrah. Sembari dalam hati berdoa agar langit berbaik hati padaku agar hujan segera berlalu. Dan petir pun lenyap, kendati sebentar saja.

Ternyata doaku belum terkabulkan. Atau memang ada hal lain di balik semua itu. Hujan masih saja turun dengan gairahnya. Hanya petir sesekali baru menyala. Namun begitu pepohonan masih meliuk, membungkuk, nyaris mencium tanah tertiup angin yang kencang. Nenek tua kembali dari kamar lalu memegang tanganku tanpa suara. Kupikir itu merupakan isyarat untukku supaya segera tidur. Anehnya, aku seperti tengah bersama nenekku sendiri. Jadilah aku tidur bersamanya di kamar yang begitu sempit. Di atas kasur usang yang terhampar di tanah.

Mataku perlahan terbuka, kurasakan jantungku berdegub kencang tak karuan. Ada yang aneh. Tubuhku seperti dikerubungi laba-laba. Serasa geli, kubuka perlahan mataku. Dan, sial! Menyadari hal yang tak wajar hendak terjadi. Aku segera berlari menerobos kegelapan. Kudobrak pintu berbahan nipah hingga rusak sebagian sisinya. Tak perduli, berlari menembus rinai hujan yang kian menipis. Antara petir yang masih menyisakan suara-suara menggelegar. Aku berlari sekuat tenaga. Setengah sadar, setiba di rumah tubuhku ambruk, Lalu gelap. Esoknya, gubuk nenek tua itu ramai dikunjungi pelayat. Kabarnya ia mati tersambar petir. Hingga kini gubuk itu dibiarkan begitu saja. Sesekali bila malam minggu tiba anak muda berkumpul dan menghabiskan malam di sana.
”Gluduk”

”Astaghfirullah”


Kutatap langit, bagai suatu jaringan yang di dalamnya terdapat urat-urat yang terungkap secara tak teratur. Dan urat-urat itu memancarkan kilatan cahaya yang sampai ke bumi. Tak lama berselang. ”Byuurr,” aku beranjak dari ambal pasir putih lalu berlari pulang. Tepat, kala tubuhku bersisian dengan gubuk tua itu, kilatan cahaya menyorot ke bumi. Sedetik, sosok nenek tua tersenyum di pintu rumahnya dan hilang bersama gelap yang kembali. Kupercepat langkah, entah seberapa cepat.


Banda Aceh, 2012

Senin, 09 Juni 2014

Elegi Dua Purnama



google.co.id

Lagi. Malam mengintip di balik jubah hitamnya. Malam yang tampak bertuah bagi suatu kondisi, dingin dan penuh angin. Di balik dinding rumah, badai mengamuk. Hujan ditumpahkan dari langit begitu deras, dan untuk sekejap saja raungan senjata tinggal jadi kenangan.
Di satu sudut terpacak sebuah rumah. Aku tinggal di sini bersama orangtuaku. Sementara Ayah menghabiskan waktu demi waktu dengan teman perwira-perwiranya di ruang tamu, Aku dan Ibu mendengarkan dentuman-dentuman longsong peluru di kejauhan di dalam rumah. Aku sungguh lebih suka mendengar kicauan burung saat ini sebab kecamuk perang sangat mengganggu.
Itu dulu. Beberapa waktu lalu. Tepatnya beberapa tahun yang lalu manakala aku tengah duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu untuk terakhir kali sebelum damai berkumandang di daerah ini, aku ingat Ayah dengan langkah seribunya berjalan tanpa menjawab pertanyaanku. Esoknya baru kutahu bahwa semalam Ayah berhasil menangkap tujuh anggota pemberontak. Wajah Ayah siang itu tampak cerah kendati dalam kondisi lelah. Sebenarnya aku tak begitu paham terkait bentrok yang terjadi antara golongan Ayah dan golongan pemberontak. Aku hanya tahu bahwa mereka selalu berselisih. Berbeda dengan saat ini. Aku di usia dewasa ini. Semuanya terpaksa terungkap. Ya. Terungkap dengan sendirinya. Terungkap oleh keadaan.
Dan saat ini. Aku sungguh mengerti. Ternyata keindahan yang telah kualami selama beberapa bulan ini harus berhenti. Mimpi telah berakhir. Dan aku terpaksa bangun, bangkit dari pembaringan ini. Ya. Aku pun akhirnya bangun dan.. ''Khadijah, bangun!'' Kukira ini panggilannya setelah beberapa panggilan sebelumnya. Ah, Ibu! Maafkan aku. ''Hoamm! Ehm!'' Ibu lantas seperti biasa menarik selimutku. Seperti biasa bila aku terlambat bangun. ''Khadijah, mengapa matamu bengkak? Menangis lagi?'' Tuduhnya padaku. ''Hmm. Mungkin Bu. Dijah lupa. Entah menangis dalam nyata atau mimpi. Ah. Mungkin saja mimpi.'' Ia tertegun sejenak. ''Hm. Yasudah. Bangunlah, subuh hampir habis.'' Aku bergegas bangun meninggalkannya yang masih termangu. Berharap ia akan bercerita tentang ini pada Ayah. Ya. Supaya Ayah tahu bahwa aku begitu menderita karena egonya.

***
Aku melihat awan menyebar di langit pucat Serambi Mekah. Aku terlalu lemah untuk mengakui langit itu cerah saat ini. Mungkin karena mataku yang telah memburam. Atau virus yang menggerogot hatiku telah menyebar hingga saraf otak. Dan akhirnya semua menjadi kacau. Au! Hahaha! Ahhhhh! Jeritan batin. Percuma. Tak ada labirin yang menangkap. Kecuali satu. Tuhan. ''Tidiiiitt!'' Ponselku menjerit.
''Dijah, tolong angkat teleponku!'' Kualihkan pandangan ke cermin mungil di jariku. Kudapati diriku tengah berharap mencintai seorang lelaki yang memujaku selama bertahun-tahun. Aku bimbang. Kenangan itu terlalu menyakitkan. Lidahnya kerap membuatku tersenyum, terkecuali hari ini. ''Kriiiing!'' Ponsel itu berderit lagi. Kali ini kutolak. Lalu segera mematikan benda kecil itu. Berharap tak terusik lagi olehnya. Karena, aku selalu lemah bila sekali saja mendengar suaranya.
***
Senyumnya mengembang, lalu pupus oleh sekelebat suara yang membisik di telingaku. ''Aku ingin kau jujur sekarang. Apa yang terjadi?'' Tanya Zulfan dengan sorot mata penuh.
''Aku bosan.''
''Bohong.''
''Terserah. Aku ingin kita berpisah. Mungkin hanya takdir yang dapat menyatukan kita lagi suatu saat. Mengertilah!''
''Tidak! Tak mudah aku medapatkanmu. Jadi, tak mudah pula aku melepasmu.''
''Oya? Yasudah kalau begitu. Terserah Kamu. Aku mau pulang.''
''Silahkan.''
Dan senja menjadi saksi perpisahan sepasang merpati. Sepasang merpati yang harus terpisah karena kematian salah satunya. Mati akibat ditembak oleh seorang purnawirawan. Ditembak tepat di hatinya. Au!
***
''Ayah ingin kau menjauhinya. Ayah membenci pemberontak. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Mengerti?'' Rangkaian kalimat yang menohok. Rangkaian kalimat yang serupa belati menancap di ulu hati. Bengis. Di satu sisi Ayahlah yang telah memberi segenap cintanya, hidupnya untukku. Anak satu-satunya. Namun, di sisi lain Zulfan. Lelaki yang dengan segenap keberaniannya mencintaiku. Memilihku sebagai penghuni hatinya. Kendati butuh banyak kendala. Kendati begitu sulit ia meluluhkan pertahananku. Dan kini, setelah aku jatuh di singgasananya, lalu merasa nyaman, bahkan “terlalu” hingga aku merasa berat untuk beranjak darinya, semua justru harus luluh lantah. Semua harus berakhir dengan keputusan yang harus kutelan sendiri. Seorang diri. Karena, meski Zulfan merasa hancur. Setidaknya tak seberapa dibanding diriku yang harus mati-matian menjaga perasaan kedua orang yang kucintai dengan mengorbankan perasaan sendiri.
Zulfan memang pernah bercerita tentang satu rahasia besar hidupnya. Tentang Ayahnya yang dahulu ialah seorang pemberontak. Sempat mengalami penahanan. Miris. Salah satu dari perwira yang menangkap tak lain adalah Ayahku. Maka, tak heran jika kali pertama Ayah dan Zulfan bersua menjadi kali terakhir pula. Mungkin semua telah terencana oleh-Nya. Namun, siapa yang dapat menerima kenyataan pahit terkait hati dalam tempo yang begitu singkat dan mendadak? Hanya waktu yang dapat menjawab. Benarkah? Entahlah. Lihat saja nanti. Aku hanya ingin menangis tiap malam. Dan berharap Zulfan berhenti mempertanyakan. Karena, selamanya aku tak mampu menjawab.
***
Pagi kembali. Kulihat Ayah begitu cekatan dari biasa. Serupa beberapa tahun silam, Ayah dengan langkah seribunya berjalan tanpa menjawab pertanyaanku. Aku tahu ia telah setahun menjadi purnawirawan. Aku tahu pula bahwa hal itu hanya sedikit mengurangi kelincahannya. ''Ayah mau pergi kemana Bu?'' Bisikku. Ibu hanya menggeleng. Aku mendesah. Dan petangnya kutangkap aura lelah di wajahnya. Ah, tidak. Aku tak tahu bagaimana cara melukiskan kondisinya. Mungkin lebih dari itu. Namun, aku dan Ibu tak berani bertanya. Sepatah pun.
''Tidiiiiit'' Satu sms masuk. Segera kubaca. Berharap itu Zulfan. Maklum. Sesekali rindu ini kerap mendera, tapi gengsi untuk mengadu. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Benarlah ini SMS darinya. Tapi, tunggu! SMS-nya membuyarkan gejolak hati.
''Assalamu'alaikum. Aku sudah tahu semuanya. Pagi tadi aku menemui ayahmu. Ah! Mengapa kau tak katakan langsung padaku. Ini sungguh lebih mengecewakan. Tapi, yasudahlah! Aku takkan berhenti. Karena, jodoh bukan di tanganku, Kau, atau ayahmu. Tapi, di tangan Tuhan. Mungkin ayahmu membenci pemberontak. Tapi, ayahku bukan pemberontak Tuhan. Ia hanya membenci penghianat. Bagiku ia pahlawan. Ayahmu terlalu skeptis melihat semua itu. Tapi, aku maklum. Jangan takut. Aku masih dan akan selalu mencintaimu, sayang. Assalamu'alaikum.''
Jilbabku tidak terlalu tebal dan panjang, tapi terasa berat seketika. Perutku mual. Aku ingin pingsan, namun kenyataannya tidak. Dalam pada itu aku hanya dapat terduduk lemas. Masih tak percaya terhadap kenyataan yang baru saja terjadi.
***

Senja kala. Samar-samar kucium aroma kopi. Kopi. Ah, pada akhirnya aku dan Zulfan dapat saling bicara namun tanpa kata. Kami tetap dapat merindu tanpa batas waktu. Dan, itu terus terjadi. Hingga pada suatu petang. ''Dorrrr!'' Sebuah tembakan terdengar keras dari arah yang tak sempat kutangkap. Kegelapan seketika mengikutiku seperti sebuah bayangan. Sebuah bunyi terdengar lagi. Ibu berteriak. Aku melompat dari tempat dudukku dan berlari menuju sumber suara. Rasanya air mataku tak mau mampat ketika aku terisak dan memeluk Ayah. Kudekap tubuhnya yang ringkih. Dengan suara serak aku menuntunnya mengucap tahlil. ''Laa ilaa ha illallaaah.'' Ia menutup mata di pangkuanku. Saat itu Ibu terlambat menyusulku.

DeTaK, 2013

Suara-Suara Angin (Episode 3: Hijrah)


Hijrah


                Malam ini seolah bertuah bagi Mala. Betapa tidak, suasana hujan tentu akan memaksa penduduk sekitar untuk berdiam diri di dalam rumah. Ah, lebih tepat lagi menikmati suasana hujan, dingin berangin di dalam kamar. Sama halnya dengan kedua orang tua Mala. Keduanya telah lelap sejak sejam yang lalu. Mala menatap jarum jam di lengannya. Pukul 01.35 wib. Hujan memang begitu lebat, tapi tanpa kilat. Lamat-lamat Mala melangkah keluar rumah. Kunci rumah di lempar kembali lewat celah pintu bagian bawah. Setelah payung terkembang, ia pun mulai menyusuri hujan. Setapak demi setapak. Hanya gelap, gemericik hujan, dan  suara tapak kaki yang beradu dengan aspal yang menemani hingga tiba di jalan besar.

            Mala mulai menggigil. Jaket jeans-nya tak mempan terhadap dinginnya hujan. Kakinya mulai gemetaran. Entah telah berapa kilometer jalan ditempuh oleh Mala. Suasana malam yang basah membuat jalanan kosong oleh kendaraan. Mala tak perduli, tujuannya satu, terminal. Dan, lantas ia pun terus berjalan seiring langit memudar. Dan hujan menghindar. Saat itu, ia telah sampai di terminal.

Pukul 06.15 wib.  Mala tak lupa menunaikan subuhnya di masjid yang terpajang di terminal. Usai itu ia segera menuju kantin. Syukurlah, saat itu beberapa kantin mulai membuka warungnya. Mala mengisi perut di salah satunnya. “Mau sarapan apa, Kak? Lontong atau nasi?” Tanya perempuan berparas Aceh campuran india arab. Aku asal menebak, karena raut wajahnya begitu khas.
“Ehm, lontong aja, Kak.”
“Minumnya?”
“Teh manis hangat, Kak”
“Bentar ya Kak”
Aku duduk di salah satu kursi menghadap ke jalan. Selang beberapa menit perempuan berparas india campur arab itu datang membawa pesanan. Tak butuh waktu lama untukku mengosongkan piring dan gelas itu. Selain lapar, aku doyan juga.

***

Bus melaju dengan pelan melewati pintu keluar terminal. Mala memilih bus paling pagi. Dan pukul 09.00 wib adalah keberangkatan paling awal. Dialihkan pandangannya ke jendela kamar. Mereka masih melewati kawasan berpenduduk. Ada sekelompok ibu-ibu yang berkerumun di warung penjual sayur mayur. Ada lelaki tua yang mengayuh sepeda di pinggir jalan. Diam-diam Mala menebak ia hendak pergi ke ladang. Ups, terlihat pula bocah laki-laki berusia kira-kira sepuluh tahun berjalan di antara kendaraan yang berhenti karena lampu merah. Bocah itu menggendong setumpuk koran. Dalam hati Mala bergumam, “Apa dia tidak sekolah? Ah, mungkin dia mendapat jatah sekolah sift siang hingga sore,” jawabnya dalam hati, menghibur diri. Ditariknya nafas dalam-dalam lalu segera menghembuskannya lagi. Mala merasakan nafasnya bercampur dengan udara pagi yang basah. Tiba-tiba aku teringat Ayah dan Ibu. Diintipnya ponsel mungil yang kerap menemaninya itu di saku tas, tergeletak tanpa nyawa.

Perjalanan telah berlalu sekitar dua jam. Mala melirik kursi sebelah yang masih kosong. Untuk sesaat kondisi ini membuatnya nyaman. Namun, tidak pada saat selanjutnya. Karena, bus tiba-tiba berhenti di salah satu halte di daerah perbatasan Aceh-Medan. Dan, duduklah seorang ibu-ibu bersama seorang bocah perempuan di gendongannya. Mala kira wanita itu seusia dengan adik mama, tante Reni. Sedang anaknya, tentu masih sekitaran dua tahun. “Tante, tante, kenapa liatin dedek telus? Dedek antik yah?” Lamunan Mala terpecah. Mala terperangah. Takjub. “Haa? Eh, iya! Tante suka liat dedek, karena cantik,” jawabnya dengan spontan. Mala menangkap ibunya tersenyum mendengar percakapan kami.  Dalam sekejap, Mala dan ibu beranak itu menjadi akrab. Terakhir Mala tahu, wanita itu ternyata adalah seorang janda. Ia dan suaminya menikah empat tahun lalu. Selang dua bulan setelah kelahiran sang buah hati, suaminya memutuskan untuk merantau ke Medan dengan berbagai pertimbangan. Awalnya Marni keberatan, tapi demi si buah hati, ia pun rela. Tak disangka, komunikasi terputus setelah setahun kepergian suami. Padahal, sejak pertama kali merantau, suami Marni baru sekali pulang. Saat ini, Marni tak mampu lagi menahan gejolak rindu. Bukan hanya itu, ia juga tahu, sang putri tentu diam-diam merindukan sosok seorang ayah. Marni sering memergoki Dedek tengah memperhatikan anak-anak tetangga yang sedang asyik bercanda dengan ayah mereka. Bahkan, tak jarang pula, Dedek mengigau menyebut-nyebut nama ayahnya. Padahal, sejak ia menatap dunia, hanya sebentar ia melihat ayahnya. Namun, mengapa terlihat begitu dalam tali ikatan batin yang bersarang di jiwanya? Entahlah.  Barangkali, Rizal juga menyimpan rasa yang sama.

Bukannya Marni tak pernah mengadu pada polisi. Lebih dari itu, Marni dan keluarga telah menghubungi wartawan harian lokal maupun nasional untuk memasang pengumuman, menyebar dan menempel selebaran di sepanjang kota Medan dan Aceh. Terakhir, membuat acara kirim doa selama tiga hari berturut-turut. Memohon bantuan sang Maha Tahu. Berharap Rizal akan kembali baik dalam keadaan hidup maupun sebaliknya. Marni dan keluarga telah pasrah. Jujur, aku begitu tersentuh dengan kisah ini. Mala yang mempunyai keluarga lengkap dan begitu menyayangiku justru memilih pergi hanya gara-gara seseorang yang bahkan belum tentu memikirkan nasibku sekarang. Bocah ini? Hmm… Diam-diam aku meneteskan air mata. Dalam hati aku memohon ampun pada Allah swt. agar senantiasa menjaga dan melindungi ibu dan ayah. “Aku hanya pergi ‘tuk sementara…,” alunan lagu Pasto mengalun indah. Membuai sukma para penumpang hingga terlelap dalam mimpi sepanjang perjalanan memasuki Medan.


Jarum jam menunjuk angka 09.35 wib. saat bus tiba di terminal Kota Medan. Seluruh penumpang turun dari bus bagai semut yang keluar dari sarangnya. Sesaat Mala merasa bingung. Pasalnya ini kali pertama aku menginjak tanah ini sendiri. Mala buta akan wilayah ini. Tanpa berpikir lama, Mala melangkahkan kaki menuju salah satu rumah makan yang kupastikan berlebel halal. Rumah makan “Rahmat” khas Minang.

Terminal masih ramai. Banyak calon penumpang, supir, kernet, pedagang asongan, atau penduduk setempat yang lalu lalang melewati terminal untuk berbagai tujuan. Kutatap piring nasi telah bersih. Gelas berisi teh hangat pun kosong. Mala tiba-tiba teringat Ibu dan Ayah. Mala kangen. Mala merasa berdosa. Tapi, manakala Mala berniat menghidupkan ponselnya untuk menelpon orangtua, bayangan ketakutan muncul kembali. Mala khawatir jika ia menghubungi orangtuanya sekarang, maka rencananya untuk pergi jauh akan terhambat atau bahkan batal. Kini, Mala semakin yakin untuk hijrah. Mala ingin pergi ke suatu tempat yang jauh. Jauh dari kesedihan, ketakutan, kesunyian, kerinduan yang tak ada ujung. Walau demikian, Mala tetap akan kembali. Tapi, nanti. Ketika ia telah terobati. Ketika ia telah benar-benar pulih.

Mala menatap musalla dengan perasaan campuraduk. Memang di saat-saat sulit manusia cenderung merasa lemah tak berdaya. Hingga kemudian merasa tak ada yang mampu menolong kecuali Dia, Allah sang Maha Penyayang. Mala merasa selama ini ibadahnya telah menurun. Ia telah sebulan tidak menyentuh Al-Quran. Shalat hanya wajib saja yang dikerjakan. Sekadar memenuhi kewajiban tanpa melaksanakan yang sunnah. Padahal, sebulan itu Mala juga merasa sulit, namun mengapa ia seakan tak peka? Mungkin saat ini Mala benar-benar merasa sendiri. Tak ada orang tua. Tak ada teman. Tak ada siapapun, kecuali Ia. Allah sang Maha Penyayang. Mungkin saat itu Mala merasa bahwa ia diciptakan sebagai manusia yang paling menderita. Kesedihan membuatnya lebih mendengar bisikan kemalasan, ketimbang pendekatan diri pada Allah. Ditatapnya mobil bus dan L300 masih berjajar rapi di lapangan terminal. Sedangkan supir dan kernet masih sibuk memburu penumpang. Sesaat kemudian, Mala mengalihkan pandangannya kembali pada mushalla. Lebih dalam, lebih mantap.

Wajah Mala terlihat lebih cerah usai melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Senyumnya semakin merekah manakala ia mendapati seorang supir tengah melambaikan tangan ke arahnya. “Jakarta, waiting for me!” Mala berucap dengan pasti. “Mau ke Jakarta, Mbak?” Tanya supir ketika Mala mendekati bus. “Iya, Bang!” Setengah jam kemudian, bus melaju dengan mulus. Semulus rencana Mala. Rencana yang penuh dengan misteri. Karena, Mala sendiri belum tau pasti apa yang akan ia lakukan nanti di ibu kota pertiwi.

Bersambung...  





 

Rabu, 04 Juni 2014

Lelaki Paris

google.co.id

Langit malam bertaburan bintang bak berlian terhampar. Angin menyapu tebaran dedaunan yang terserak di jalanan. Namun, malam ini sinar bintang tidak terlalu terang, karena purnama sedang menguasai malam.

Beberapa nelayan yang merupakan penduduk pesisir laut selatan, sedang berkumpul di salah satu gubuk yang kerap menjadi tempat favorit para nelayan, kala letih menjemput malam. Gubuk itu dinaungi atap ilalang dan memiliki satu jendela menghadap ke laut. Dari sini mereka dapat menikmati panorama syahdu. Perpaduan apik antara langit dan laut yang biru bila siang terang dan merasakan angin menyapu muka dengan lembut dan syahdu.

Seperti biasa, malam ini mereka kembali memilih tempat ini sebagai tempat melepas penat dan letih. Sebelum akhirnya, seruan-seruan dari menara masjid terdengar azan isya mengusir pulang mereka. Betapa daerah pesisir itu sangat mengenal agama, bahkan jauh lebih akrab dibanding dengan orang-orang kota, menurut kabarnya. Aku sendiri tidak begitu paham, karena sejak masih bayi, aku telah menjadi penghuni setia pesisir laut selatan itu.
Daerah yang kerap tersohor dengan mitosnya itu. Yang kuingat, sejak kecil hingga kini, tempat yang kukenali hanya pesisir itu. Bahkan, dahulu aku mengira bahwa Indonesia adalah nama lain dari tempat itu.

Lelaki itu, Jose Martin, berkebangsaan Paris yang terseret ombak ke sini, tatkala kapal yang dikemudikannya dibajak oleh sekawanan perompak. Ah, syukur orang-orang kota yang disebut ‘pemerintah’ oleh Jose itu cepat tanggap. Jika tidak, mungkin wajah Jose tak secerah malam ini. Kupandangi wajahnya diam-diam, kutemukan bias kerinduan mendalam di balik matanya yang biru ke abu-abuan. Aku pikir, kerinduan itu teruntuk keluarganya di kampung halaman. Hmm. Paris.
Aku sungguh penasaran dengan kota itu. Jose pernah bilang bahwa Paris itu adalah salah satu kota terindah di dunia. Hanya sampai di situ ia bercerita, karena dipotong oleh suara ibu yang berteriak-teriak dari kejauhan menyebut nama kami bergantian.
”Jose, Muhammad!” Wajah ibu menyiratkan kegembiraan.

Setelah mendengar penuturan ibu, barulah kemudian kami berdua mengerti bahwa para perompak dan kapal yang dikemudikan Jose telah berada dalam wilayah orang yang tepat. Begitu Jose berkata padaku dengan bahasa Indonesia-nya yang masih terbata-bata. Namun, tetap membuat kami bersyukur karena masih bisa berkomunikasi dengannya. Meski sebelumnya, sempat membuatku heran, darimana ia belajar bahasa Indonesia.
”Aku nahkoda kapal, sering keliling dunia, termasuk Indonesia. Makanya, harus belajar banyak bahasa.” Katanya terbata.
”Hai, Muhammad! Hari sudah malam. Mari kita tidur,” katanya cepat sambil menutup mulut yang menguap.
”Duluan saja. Aku belum mengantuk,” aku tersenyum sembari menatapnya berlalu.
”Jose, kasihan kau. Kutahu kau ingin segera pulang.
Namun, masalah di sini harus diselesaikan dulu. Esok sidang terakhir. Semoga indah pada waktunya,” bisikku lirih pada langit dan laut.
Ya. Merekalah sahabat karibku. Tentu setelah Rini dan Dodot. Rini dan Dodot? Ah, bagaimana kabar mereka? Tentu sedang berjuang di perantauan menimba ilmu, lalu pulang dengan gelar sarjana nantinya.
”Aku merindu kalian berdua,”sambungku lirih, masih pada laut dan pasir.
Palu telah diketuk. Sidang berakhir dengan keputusan yang cukup membuat Jose puas. Tanpa sadar, ia sempat memelukku. ”Ill be back home! I hope so!” Matanya berkaca-kaca. Aku mengangguk-angguk sembari tersenyum tulus.

Saat itu senja, syahdu. Senja tersyahdu dari senja-senja tersyahdu dan kunikmati dengan syahdu. Siluet kuning keemasan di langit biru menjadi kenikmatan tersendiri saat itu. Lembayung merah bergradasi menuju warna putih awan di sisi lainnya tak kalah memabukkanku. Di sisi satunya melintas seekor burung besi yang makin jauh semakin mengecil di mataku. Hingga akhirnya tak terlihat lagi, kecuali asap putih membentuk garis lurus yang masih melayang.

“Jose sudah sampai di langit ke berapa, ya?” Pikirku konyol. Jose Martin. Ah, kau telah banyak berjasa padaku. Jika saja peristiwa naas kapalnya itu tak pernah terjadi. Mungkin hingga kini, esok, bahkan entah hingga kapan, aku tak pernah tahu bahwa bumi ini tak sebatas pesisir laut selatan. Namun, lebih dari itu. Ada belahan lain yang menempati bumi. Belahan lain itu bukan hanya Indonesia, bukan hanya Paris, namun dunia, Dunia!
”Aku ingin keluar dari sini! Aku ingin keliling dunia!” Aku berseru sambil melompat-lompat. Seakan ingin meraih langit.
”Tapi…” Tiba-tiba sebuah bayangan merenggut kebahagiaan itu. Bayangan ibu, bayangan bapak. Ah, ibu. Mengapa kau memenjarakanku oleh ruang masa lalumu? Bahkan, mungkin kau sengaja tak membiarkanku berteman dengan dunia pendidikan gara-gara itu.

DeTaK, 2012