Minggu, 28 Juni 2015

Sabar dan Syukur

Beberapa hari lalu, aku bertemu dua orang temanku di pustaka FKIP. Entah sebuah kebetulan. Mereka sama-sama memakai gamis hijau. Sama-sama duduk di hadapanku. Bedanya, yang satu setengah berbaring di sofa seberang. Sementara yang satu duduk bersila tepat di sebelahku. Sebut saja nama mereka Bunga dan Kembang.

Bunga dan Kembang tidak hanya memiliki kesamaan dalam hal busana hari itu. Mereka ternyata juga memiliki masalah yang nyaris sama. Sama rumitnya. Bunga yang tak kunjung bisa mengikuti sidang karena 11 mata kuliahnya yang belum terdaftar di online. Sementara Kembang belum bisa sidang karena kedua dosen pembimbingnya adalah doktor (Jadi, sama-sama sibuk selalu katanya).

Malang memang nasib Bunga dan Kembang. Awalnya mereka disambut dengan begitu mesra di kampus tercinta mereka itu. Tapi, kini mereka malah dipersulit untuk bisa keluar dari tempat itu. Yahh, barangkali tempat itu terlalu cinta pada mereka sehingga enggan membiarkan mereka pergi begitu cepat. Tapi, justru hal itu mengundang murka mereka hingga muncul komitmen yang terlontar dari luapan emosi "Awak gak mau S2 lagi di siniii!!!"Aku sempat tertawa mendengar itu. Pasalnya, dulu aku juga sempat berkata demikian pula, Eh, nyatanya? Kini, aku tengah mempersiapkan proses menuju tes seleksi di sini.

Intinya, bukan mencari siapa salah-siapa benar. Hanya ingin sedikit berbagi. Dalam hidup, semakin berkurang usiaku, semakin banyak dalil-dalil akli yang kuperoleh. Salah satu yang paling sering kutangkap adalah tentang adanya masalah yang dicipta untuk mendewasakan kita. Dan. semakin tinggi tingkat kesulitan hidup yang dilalui, insyaAllah, jika kita ikhtiar dan tawakkal dalam melewati itu semua, maka kesuksesan di masa mendatang menanti.

Tak jarang aku tersenyum manakala mendengar secara langsung keluhan-keluhan teman-temanku. Aku tersenyum karena merasa bahwa ternyata kesulitanku belum ada apa-apanya dibanding mereka. Maka aku mengambil iktibar dari itu semua. Aku semakin bersyukur bahwa Allah masih memberiku limpahan rahmat dan nikmat walau aku senantiasa mengeluh dan mengeluh.

Terkadang aku teringat akan masa-masa biru putih yang membiru. Masa di mana aku begitu bersemangat dalam penantian hari-hari sekolah. Masa di mana aku selalu bersemangat menanti datangnya guru mata pelajaran apapun di kelasku (termasuk MTK yang paling kusegani tentunya). Hari-hari ketika minggu ujian menjadi masa terpanjangku berkutat di kamar bersama setumpuk buku. Lalu esoknya aku akan tetap berkutat dengan buku bahkan hingga bel masuk. Keluar paling akhir karena sudah mengecek ulang soal hingga berkali-kali. Hari-hari di mana aku dengan lapangnya memberi contekan pada teman-teman dekatku. Hingga berakhir pada satu hari di mana aku akan tersenyum lebar-lebar karena menyantap ranking 1.

Sekarang? Mengapa aku justru menanggap itu sebagai sebuah mimpi untuk diraih kembali? Sukar rasanya untuk bisa belajar seserius dan setotal itu kini. Sukar pula bagiku untuk segera merampungkan tugas-tugas segera agar esok pagi aku tinggal duduk manis di depan kelas menanti sosok idaman hati yang kupandang dari pintu gerbang, sepanjang koridor, lapangan, hingga berakhir saat kepalanya tertelan pintu kelasnya.

Sekarang? Ke mana semangat itu? 100 target pun yang kubuat selama 100 x rasanya sulit untuk kucapai. Semua itu tinggal menjadi catatan-catatan yang kubaca setelah beberapa bulan kemudian. Apa karena banyaknya hal yang kulakukan setiap harinya? Atau karena begitu banyaknya masalah yang harus kuselesaikan? Entahlah. Aku yakin, hati ini tahu yang sebenarnya.

Padahal, ruang gerakku begitu memberi peluang saat ini. Ya, itu juga buah dari kenekatanku. Memang, ada penyesalan di depan, namun lebih kepada kesyukuran karena akibat nekat, aku bisa sampai pada tahap ini. Mengenal orang-orang hebat, bahkan lebih dari itu. Lagi-lagi, aku lupa bersyukur. Hanya karena aku merasa seharusnya aku bisa melewati batas-batas yang kubayangkan bila aku masih memegang prinsip biru-putih itu. Hmm. Andai boleh berandai-andai...

Tulisan ini memang random, ejaan gak betol, paragraf gak koheren dan kohesi...acak adut... awut-awutan, beserak atau apa lah namanya! 
biarlah! memang niatnya cuma ingin curah hati... ingin nulis... ingin berbagi...


So, ya...sorry dorry strwberry...

Sabtu, 13 Juni 2015

“SERIAL LAILA, MALA, DAN SELA” (Petualangan Pencarian Jati Diri)


TAK KENAL? MAKANYA, TA'ARUF DULU...,YUK!



Ini merupakan serial yang gak seru, gak keren, yaa.. biasa-biasa aja. Jadi, kok si penulis PD banget, ya,  nge-posting ini cerita? Ya, gak kenapa-kenapa, sih! Suka-suka aja! Masalah buat loe? Kalau mau baca, silahkan! Kalau gak suka, pergi sana! Gukk…gukk…gukk! (Loh?)

Langsung aja dah, kelamaan basa-basi, ntar malah jadi basi beneran lagi!

Serial ini berkisah tentang tiga ababil alias ABG labil yang baru tamat dari SMA dan hendak ngelanjutin pendidikan ke perguruan tinggi. Ya. “Universitas Jantong Hatee” adalah pilihan. Letaknya yang di ujung Sumatera sebelah barat mengharuskan ketiga cewek ini keluar dari sarangnya dan berhijrah ke sana. Sekedar tahu, mereka tidak berasal dari daerah yang sama. Laila berasal dari pelosok Aceh Utara, Mala dari pesisir Aceh Selatan dan Sela, gadis turunan Aceh lahir dan besar di kota metropolitan-Medan.

Nurlaila yang merupakan gadis pertama pemakai kacamata di kampungnya ini sejak SMP jatuh hati dengan pelajaran IPA. Awalnya, ia suka karena guru pelajaran tersebut tidak lain adalah first love dia. (Duileee :D) Yaa…, walau malang nasib Laila sebab cintanya yang bertepuk sebelah tangan sejak kelas 1 SMP hingga kelas dua SMA itu harus pupus karena sang guru mengakhiri masa lajangnya bersama salah satu guru muda yang baru mengajar di SMP-nya saat ia telah duduk di bangku SMA. (Kaciaan… L) Biarpun begitu, Laila sudah terlanjur jatuh hati dengan IPA. Ia kerap menang mengikuti kompetisi cerdas cermat IPA antar dusun, kampung hingga kecamatan. Makanya, saat berhasil membujuk sang ayah untuk bisa kuliah di UJH itu, segera  ia memilih Sains di urutan terdepan.

Sedang Mala alias Cut Malahayati, lahir sebagai gadis pesisir yang telah akrab dengan dongeng-dongeng leluhur sejak kecil. Nenek moyang Mala yang notabene memiliki catatan sejarah sebagai nelayan yang akrab dengan mantra-mantra sebelum datangnya islam berpengaruh pada para cucu hingga cicit. Mulai dari kakek dan nenek, ibu, ayah hingga ia dan sepupu-sepupunya mahir bersyair. Tak heran, satu buku harian Mala penuh dengan puisi dan cerita pendek kental sastra. Kamarnya pun dipenuhi puisi-puisi artistik yang ia kreasikan sendiri. Bersebab tak ada jurusan sastra murni di Aceh lantas tak mendapat izin merantau ke luar Aceh, tak heran, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia menjadi urutan pertama dalam daftar pilihan tes masuk PTN UJH.


Siti Sela Dara Phonna, anak sulung dari tiga bersaudara. Lahir dan besar di Medan. Walau demikian, Ayah dan Ibunya selalu menanamkan nilai-nilai islam dan budaya Aceh terhadapnya dan adik-adiknya. Lantas, usai melaksanakan UN, Ayah langsung to the point, meminta Sela untuk kuliah di UJH, Banda Aceh. Sela si sulung yang memang penurut abis, ya nrimo aja. Lempeng kayak jalanan baru diaspal. Berbeda dengan Laila dan Mala, Sela tak mendapat kepercayaan untuk memilih jurusan yang ia impikan, IT. Bukan karena orang Medan banyak yang suka dengan jurusan Hukum, atau karena kedua orangtua Sela yang keduanya adalah Sarjana Hukum. Hal ini disebabkan karena minimnya kepercayaan orangtua kepada Sela dalam memutuskan sesuatu tentang hidup Sela. Sela…Sela…kasian…kasian… mau jadi apa si sulung pendiam ini kalau nanti ia jadi kuliah di jurusan yang mengharuskan setiap mahasiswanya untuk banyak bicara itu? (-_-") Allahu'a'lam.