Sabtu, 19 Desember 2015

Aku Yang


Aku kitab yang lusuh
ringkih di sudut debu
gumul dengan sepi
ciut dalam sisa harapan yang sia      

Aku tasbih yang rusak
terserak di lorong gelap
tertimpa bangkai
dikerubuni makhluk-makhluk lapar

Aku sajadah yang lembab
baring di lantai lumpur
genangan kering membusuk
menyeruak seisi ruangan

Aku genteng yang bocor
disengat surya
dipagut bayu hingga gigir
hujan sesekali mengobati luka
karat yang kian melebar

Aku jendela yang retak
sebagianku terserak di tanah
sebagian lain bebercak merah
tersentuh kulit si kumis berbulu
kala tengah berburu

Aku lantai yang lumpur
kerikil kecil
bangkai plastik
dedaun kering
ditinggal banjir yang singgah tahun lalu

Aku, cinta yang hilang
tertutup kepulan asap pabrik
terhalang tirai hedonis
tertelan pusaran materialis

Aku, kasih yang pupus
tergerus arus
tertelan virus
mampus

Lampriet, 16 September 2015
Cut Atthahirah, mahasiswa MPBSI Unsyiah, Pegiat FLP Banda Aceh

Dimuat di Serambi Indonesia edisi 11 November 2015












Selasa, 15 Desember 2015

Bukan Soal Kabut



www.theflickr.com


Entah lah!
Entah dari mana dingin ini
sungguh lah!
sungguh gigir
namun, bukan soal gigir
melainkan pemandangan di depan

Entah lah!
entah dari mana kabut itu
sungguh lah!
sungguh pekat
namun, bukan soal pekat
tapi penglihatan di depan

Anak dengan wajah lusuh itu berkata lagi
“Hentikan! Aku mohon hentikan!”
ada getir di ujung getar
tak mampu
ia tak mampu menghentikan
hanya dengan menyentuh udara
setiap detik ia merasa makin dekat dengan kematian
politik yang jijik,
pengusaha picik,
pejabat tuli, buta, bisu, sampah!
agamawan salah arah,
rakyat salah kaprah,
dunia pongah,
udara Seuramoe Mekkah masih dingin
langit Tanoh Rencong masih kabut
gigir!
gelap!

Banda Aceh, 1 November 2015




Wu ci Lung : Kucing "On The Spot"

Aku memang suka kucing. Ya..., walau baru sampai tahap lihat-lihat, ajak-ajak bicara dan kasih makan dan sesekali menggoda mereka. Belum berani pegang-pegang.
Nah, di rumah saudara yang kutempati sekarang, aku terpaksa intens ketemu makhluk berkumis itu. Pasalnya, sepupu-sepupuku senang sama hewan imut itu. Dan, ada kisah yang ingin dibagi sedikit tentang kucing-kucing di rumah ini.
Jadi, awalnya hanya ada seekor kucing berwarna kuning kecokelatan yang diberi nama "Wu Ci Lung" oleh sepupu-sepupuku. Badannya sehat, berisi. Matanya agak sipit. Mungkin karena itu ia diberi nama "Wu Ci Lung." Saat pertama dia datang ke rumah ini, kondisinya sangat memprihatinkan dalam arti lain, kayak sakau gitu-alias ngantok ga jelas. Haha. Lama-lama, diberi asupan gizi serta kasih sayang yang penuh dari sepupu-sepupuku hingga ia menjadi segar dan bersemangat. hehe. 
Yang bikin kami senang adalah dia suka makan apa saja. Mau itu roti, biskuit, timphan, bakwan, kuning telur, de el el, lenyap sekejab dalam perutnya. haha. Oleh karena itu lah aku menjulukinya "Kucing Ont The Spot" haha. Kerjaan dia hanya makan dan tidur...sesekali ia travel ke luar, entah ke mana. Yang jelas, ia tak pernah berkelahi.

Namun, keadaan mulai berubah saat kedatangan seekor kucing betina bersama bayi laki-lakinya yang telantar ditinggal suaminya. Si "Wu Ci Lung" yang memang baik hati dan tidak sombong pun mengajaknya untuk tinggal bersamanya di rumah ini. Singkat kisah, beberapa pekan setelahnya, datang lah seekor kucing garong yang suka mengganggu kucing betina. Entah itu mantan suaminya atau kucing lain yang memang ingin mengganggu kucing betina. Nah, "Wu Ci Lung" yang jantan, ia pun bermaksud menolong kucing betina. Ya, jadi lah "Wu Ci Lung" yang semula tidak pernah berkelahi, ya jadi berkelahi. Dan, itu terjadi berkali-kali selama beberapa pekan. Kesalnya, gegara itu, "Wu Ci Lung" kini sudah berubah, mukanya banyak luka-luka, badannya kurus. Ia pun sekarang jadi milih-milih makanan, gak kayak dulu lagi.
Beberapa waktu lalu, sejak kedatangan kucing garong, Wu Ci Lung seakan ga mau jauh dari kucing betina. Ia selalu mengekor ke mana kucing betina pergi seolah takut kucing betina sewaktu-waktu diganggu kucing garong. Sementara bayi kucing betina semakin hari semakin menggemaskan, ia sepupuku beri nama Cing Cing. Kalau emaknya berwarna hitam eksotis, anaknya berwarna belang tiga.
Yang aku salutkan, tak pernah sekali pun kulihat Wu Ci Lung mengganggu kucing betina. Ia seperti menyimpan sebuah rasa yang tulus. Itu terlihat dari tindakannya. Wu Ci Lung sejak dlu tak banyak bicara kecuali saat lapar. Ia memang kucing yang cool, tapi sangat jantan. Hehe. Cing-Cing pun seakan tak kurang kasih sayang, karena di sisinya ada seorang lelaki yang dianggapnya sebagai bapak walau kini masih dipanggil "Paman Wu Ci Lung". Maklum, hati ibu Cing Cing belum terketuk. Traumatis akibat ditinggal suami saat hamil mungkin menjadi musabab ia menutup rapat hatinya. Oleh karena itu, Wu Ci Lung pun hanya bisa sabar hingga hati Ibu Cing-Cing terbuka untuknya. Ya, siapa sangka, cinta bisa tumbuh seiring waktu? 
grin emoti