Rabu, 16 November 2016

Serial Catatan Konyol Muslimah Banyol

Assalamu'alaikum, kangkawan! Masih ingat dengan Dapur alias Dara Puspita Rahma? Itu loh, si muslimah konyol sepanjang masa.... Hehehe. Ini nih, serial pertama berhikmahnya. Semoga bermanfaat, ya, kangkawans! Selamat menyantap! 

 Gegana (Gelisah, Galau, Merana)
https://www.google.co.id/


Dara menatap jendela. Hujan tak kunjung reda. Konser musik keroncong di perut sepertinya akan dimulai. Oh, baru saja dia ingin mengomel, tapi buru-buru ditutup mulutnya ketika ingat baru saja ia meng-upload foto di instagram. Foto ilusrasi hujan dengan caption-nya yang seperti biasa, baginya itu keren “hujan adalah sebentuk cinta dari-Nya. Nikmati! Gauli! jangan kau maki!” Tapi, kenyataannya, ia telah berulangkali hampir meracau karena kesal hujan gak kunjung reda. Sekali saja dia mengeluarkan uneg-unegnya! Bersiap-siaplah! Dijamin serentetan komentar dari temannya akan meluncur. Kemudian, jatuhlah martabaknya, hilanglah arwahnya. Sejam, dua jam, jarum jam terus bergerak seiring hujan yang masih saja gak bosan turun dengan gairahnya.

Dara pun memutuskan mengambil payung di pojok atas lemari, membersihkannya dari debu-debu yang menempel. “Iyuhh, ini yg bikin males!” Fuh! Fuh! Setelah beres, dirapatkan jaketnya, ditembusnya hujan. Tak ada jalan lain, ia terpaksa keluar berjalan kaki menuju rumah makan terdekat untuk membeli makanan. “Dara, mau beli makanan ya? Nitip, ya!
“Aku juga ya!”
“Aku juga!”
“$%^^^^”
“Aku pake telor”
“Aku ayam, ehh ikan aja, ehhh telur aja deh!”
Tiba-tiba Dara berubah jadi batu.
***
Jalanan becek. Dara sebenarnya enggan mengenakan kaos kaki. Toh, percuma! Bakal kuyup juga plus kotor pula. Namun, ia tepis jauh-jauh pikiran itu. Diambilnya kaus kaki yang baunya kadung bikin pingsan. Disemprotnya parfum sedikit untuk menutupi bau walau akhirnya justru semakin aneh. Hatinya meringis, ”dasar, punya temen pada mau enaknya doang! Begitu ditanya ada yang mau nemenin gak? Semuanya pada berubah jadi tunarungu dan tunawicara. Nyebelin! Hufhhhh…, astaghfirullah!” Belum habis omelannya, melintas lah sebuah mobil dengan kecepatan lumayan cepat di sisinya, dan Byuuur! Setengah tubuh Dara terciprat lumpur. “Ya ambruuukk! Grrrrr! Dasar anggur, pisang, jambu @##$$%%%” Dara nyerocos sepanjang jalan. Ingin rasanya ia mengambil batu besar yang ada atau kalau perlu HP bututnya untuk dilempar ke kaca belakang mobil itu. Tapi, percuma. Ia tak punya nyali. Nyaris saja dia berbalik arah namun urung setelah perutnya berbunyi untuk kesekian kali. Begitu lah Dara, dia memang nggak nyaman sebelum mengeluarkan uneg-unegnya. Terlebih akhir-akhir ini. Dia susah mengontrol esmosinya, maunya marah melulu, padahal lagi gak kedatangan tamu bulanan. Tak terasa, ia pun tiba di rumah makan atau akrab disebut Warung Padang itu. Setelah memesan, didengarnya suara muratal mengalun indah dari radio yg disetel, seketika ditepuk jidatnya. “Ohh iyaa!” Semua mata pun tertuju padanya. “Ups, sorry!” Dara nyengir kuda lalu garuk-garuk kepala. Kali ini memang gatal. “Pantes akhir-akhir ini aku suka rewel, ngedumel. Aku kan tiga hari ini sibuk jadi panitia acara penerimaan mahasiswa baru di kampus sampe-sampe nggak sempet ngaji. Hufh!” Serunya dalam hati. Ia sadar betul bahwa seabrek kegiatan pun tidak bisa dijadikan tameng untuk tidak mengaji. Dara tiba-tiba teringat kejadian kemarin saat ia melihat Putri sedang tilawah di sela-sela kegiatan. Saat itu dia lebih tergoda untuk ber-cang panah dengan teman-teman lain. Tuh kan, sekarang aja deh baru nyesel. Sesampai di indekos, dia pun mengisi perutnya, lantas salat zuhur. Tak lupa kali ini dibacanya Al-Qur'an. Seketika hatinya merasa tentram. Seperti biasa, “ahh, Alhamdulillah. lega rasanya.”
***
Nah, guys! Pernah nggak, ngerasain kayak Dara? Seharian bawanya pengen nelen orang melulu! Atau sekali ada yang nyenggol, pengen dibacok? Padahl lagi nggak kedatangan tamu bulanan? Nah, bisa jadi, itu karena kita jauh dari Al-quran. Dara emang suka gitu kalo sehari aja nggak ngaji, gimana lagi kalo berhari-hari? Bukannya mau jampok (narsis)! Tapi, emang begitu lah adanya ia. Makanya, Dara selalu mengaji bakda maghrib dan subuh. Walau cuma satu halaman tapi kontinu ia lakukan. Makanya, bener pake banget kuadrat kalo Al-quran itu dibilang sebagai obat manjur. 

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra`: 82)

Kebiasaan nih, di kampungnya Dara, kalau udah remaja, nggak ngaji lagi dib alai pengajian. Kalau ditanya, jawabannya, “dulu waktu kecil ada ngaji kok! Sekarang kan udah gede! Temen-temen yang sepantaran udah pada gak ngaji juga. Males kawannya anak kecil semua!” 
“Oh, jadi sekarang ngajinya di rumah, ya?” 
“Hmm. Enggak juga sih!” Kali ini volume suaranya mengecil.
Gedubrak! Dara geleng-geleng kepala mendengarnya.
Ternyata, hal serupa terjadi pula di lingkungan kampusnya, terutama di indekos. Parahnya, bukan hanya ngaji yang ditnggalkan melainkan salat juga! Nauzubillah! Makanya pandai-pandai cari lingkungan ya, guys! Itu tingkata ibadah ya, manteman! Ada lagi yang sampe kehilangan akidah. Gak percaya? Dududu, salah satu kampus ternama kita di Tanah Rencong ini pernah jadi target operasi para perusak akidah loh kangkawan! Mirisnya, kebanyakan dari mereka yang dijadikan target adalah mahasiswa yang dikenal cerdas! Makanya, cerdas ilmu dunia aja gak cukup kalau gak dibarengi kecerdasan spiritual dan emosional. Caranya gi mana? Ya, kan tinggal browsing Al-Quran. Segala hal tentang hidup kita sudah diatur di dalamnya, kalau belum ngerti, ada hadist yang akan menjelaskan lebih rinci. Belum paham juga? Masih banyak ulama yang bisa kita jadikan tempat bertanya. Jangan main sok kepandaian, dipendam sendiri. Nah loh, kalau sudah begitu kejadiannya, gak kuat-kuat pendirian, jadi keikut arus. sayang kan? Na’udzubillah.

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Allahu a’lam bish sawab


Sabtu, 17 September 2016

HALAL BI HALAL Manjahhh Ala Ala

Makan siang beretoh di rumah baru cutda Aini

Jameun, pada zaman presiden Suharto, manakala Buya Hamka sempat dipenjara oleh sebab suatu tindakan yang ia lakukan. Tindakannya itu mengundang banyak reaksi, pro dan kontra. Singkat kisah, ia pun dibebaskan. Saat itu, presiden dan seluruh staf istana menyambutnya dengan hangat. Saat bersalam-salaman dengan presiden beserta menteri dan staf kepresidenan, ia mengucapkan sebuah kalimat bahasa Arab “Halal Bi Halal” yang bermakna lebih kurang ‘maaf dan memaafkan' atau ‘saling memaafkan’. Saat itu, tentu banyak jurnalis yang turut hadir untuk memperoleh informasi. Selaras dengan menyebarnya berita, kata “halal bi halal” pun ikut menyebar. Dan, perlahan akrab bagi masyarakat  Indonesia hingga kini.  Itulah sejarah lahirnya istilah “halal bi halal”. Istilah itu tidak kita temukan di negara lain.  Jika pun ada di negara Arab, bukan sebagai suatu sebutan terhadap suatu budaya seperti yang ada di Indonesia. Ya, di Indonesia, kita menggunakan istilah itu sebagai padanan kata lain dari “silaturahmi”.
kediaman kak Eky and family

siluet keren di rumah kak Eky

Betewe, eniwe, baswe, belum lama ini, saya dan beberapa kawan FLP Banda Aceh melakukan kegiatan mulia ini. Ya, kami melakukan kegiatan Halal bi Halal dari rumah ke rumah yang jaraknya lumayan bikin greget. Namun, ya, alhamdulillah, walau sedih karena tidak dapat mengunjungi beberapa rumah lainnya, kami sudah kenyang dengan beberapa makanan dari rumah-rumah yang sempat kami kunjungi. Terutama, saat makan siang di rumah Cutda Aini Aziz… sungguh, masakan beliau lazizzz!

Hal yang menarik pun sempat kurekam, antara lain:
  •   Pada rumah pertama (rumah kak Isni) kami mendapat suguhan air sirup kuning, sisanya sirup merah semua. Sirup merah lebih menggoda. Kak Aini saja berulang kali gelasnya bocor dan terpaksa minta tambahan. Kami pun akhirnya ikut-ikutan. Dari sini kami menyimpulkan bahwa, kak Isni memang bedaaaahhhh! :D
  • Pada setiap rumah mesti ada kue bawang. Biasanya kalau gak habis, bisa dimakan pakai indomie atau nasi, begitu kata orang.
  • Kami tidak lupa foto-foto manjah, terutama di rumah terakhir karena entah bagaimana gambarnya bisa bagus banget di situ, wajah kami pun terlihat bercahaya seperti purnama.
  • Kami salah trik, seharusnya datang ke rumah Bang Fery pada urutan pertama karena ada es krim. Gara-gara telat kali datang, es krimnya cuma dapat 2 cup. Jadilah, saya, dexcut, Nita dan k Aini gongsi 1 cup sementara dexmats sendiri 1 cup. Maklum, dexmats yang sedari pagi udah heboh mengampanyekan tentang es krim itu.
  • Kue buatan adek Bang Fery enak dan lemak, walau katanya nggak berhasil. Kalau kata kak Aini, “Gagal aja begini, apalagi kalau berhasil.” Terbukti, tidak sampai 1 menit, kue itu ludes tinggal kenangan. Sempat sisa satu, karena sama-sama gengsi alias malu…tapi saya ga tahan lalu melahapnya, tak peduli dengan tatapan penyesalan mereka.
  • Kami mendapat banyak ilmu tentang blogging dari k Eky. K Eky dan family emang warbiassah, apalagi Abel yang super lucu dan polos. Teringat waktu di rumah k Aini, Kak Aini bilang, “Preh beuh, loen neuk peuget ie dilee”. Suami k Eky menjawab, “Saya  susu beuh!” Abel dengan polos menyambung, “Adek susu coklat beuh!”
  • Di rumah kak Aini, kami dijamu oleh makanan yang lezat. Saya pun jadi tahu bagaimana lezatnya “sie reuboh” itu. Bener-bener laziz masakan kak Aini Aziz! (walau saya belum tahu pasti itu masakan beliau apa bukan). Saat itu, kak Aini sempat beberapa kali mengatakan “pajoh beumangat beuh, walau hana eungkot,” kira-kira begitu bunyinya. Kak Eky pun berkali-kali menjawab, “Peu hana eungkot, nyoe lheu.” Kak Aini juga berulang kali menjawab, “Itu kan sie mandum kak”. Kami kira kak Aini bilang-bilang "hana eungkot" untuk merendah, rupanya ia sedang berbicara sebuah kenyataan. Di Aceh ini, kalau makan biasanya harus ada ikan. Bisa dibilang itu lauk wajib.
  • Kami makan rujak jambu air di rumah dekxmats, ada tiga macam bumbu pelengkap. (1) garam dan cabai rawit, (2) cuka, garam, gula. (3) kecap masin dan gula. Semuanya makan dengan suka cita. Tapi, sayang, tidak ada dokumentasi. Gara-gara fokus makan rujak jambu. Oiya, dekxmats sempat kami kerjain, kami suruh ambil ini ambil itu dengan harapan ia akan langsing seperti dulu tapi sepertinya gagal. Yang manjat Abel dan papanya, kak Eky yang nampung di bawah, kami kami yang makan. Pada akhirnya, jambu masih bersisa banyak. Kak Eky berusaha menawarkan pada kami agar ada yang mau membawa pulang tapi kami kompak menolak. Wajah kak Eky saat itu antara sedih dan senang. (peace kak Eky!)
  • Saya salut sama dexmat dan kak Aini. Diam-diam mereka memiliki kesamaan; lebih baik tanya langsung (tabayyun) daripada dengar kata orang. Jadi, ceritanya, saat sampai di rumah kak Eky, dexmats bertanya tentang asal muasal kak Eky dan suami. Setelah disebut, dexmats pun menanyakan langsung perihal mitos/pandangan kurang bagus yang berkembang dalam masyakarakat kita terkait sebuah kebiasaan yang ada di daerah asal muasal kak Eky dan suami. Pertanyaan itu pun dijawab dengan tenang dan lugas oleh kak Eky dan suami tercintanya. Nah, begitu nyampe di rumah kak Aini, pertanyaan sama pun terlontar dari mulut kak Aini. Wah, sayang, saat itu tidak ada yang menyadari bahwa dexmats dan cutda Aini sehati. :D
  • Kami berencana makan bakso setelah itu, tapi berhubung hari sudah petang maka dibatalkan. Dan satu hal, kami gak rela kalau kak Aini nanti berubah jadi angsa. Kata kak Aini, “Kakak gak boleh pulang telat, nanti berubah jadi angsa, putri salju.” Sungguh, kak Aini mengatakannya dengan sangat PD. Awalnya kami manggut, tapi selang beberapa detik, wajah kami berubah aneh, “Kak, maksudnya gi mana ya?” Kak Aini mengulang penjelasannya. “Itu loh, berubah jadi angsa, putri salju.” Trus Nita bilang, “Kak, bukannya putri salju makan apel lalu pingsan? Saya dan dekxcut mengiyakan sambil senyum-senyum menyeringai. “Kalau yang kak Aini maksud itu namanya swanlake, angsa danau, Kak” dexcut menimpali. Kini, giliran wajah kak Aini yang berubah aneh. Kami pun ketawa terbirit-birit sampe-sampe Bang Fery dan dexmats ikut terbirit-birit juga.”Droen yakin thaat saat mengucapkannya kak Aini,” sambung dexmats dengan wajah merona merah menahan tawa.

 
wefie manjah bentar di istana Nita

Rumah kunjungan terakhir-padepokan bang Fery

Ya, begitu lah kira-kira deskripsi narasi pengalaman “Halal bi Halal” bersama anggota FLP Banda Aceh kemarin (beberapa hari yang lalu). Selalu ada hikmah dalam melakukan Halal bi halal, selain yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw. bahwa akan dipanjangkan umur bagi kita yang menjalin silaturahmi pada sesama. Beberapa di antaranya: kenyang makan gratis, penghilang stress, mengenal jenis makanan baru, mengenal orang baru, berasa traveller (karena perjalanan jauh) dan masih banyak lagi. Terakhir, saya akan bagi satu rahasia tentang Aceh. Orang Aceh ini gemar sekali menjamu tamu. Maka, jika mampir di Aceh, jangan pernah takut lapar.



Sabtu, 25 Juni 2016

" Tina Tinak tin tanaa dan Helka Hae kall Hehh Calll"

Terinspirasi dari blog sohib gue “Rumah Kedua Helka” yang berisi tentang sohib satunya lagi “Astina Riang Gembira”. Ya... emang sih, gak sebagus punya si dia (Helka). (Gue ini apa lah, cuma butiran nasi di piring-piring sisa orang makan). Tapi, gak apa lah. Yang pengen ditonjolin di sini adalah.... curahan isi hati sayaa... So, baca ni!!! Special for..

" Tina Tinak tin tanaa dan Helka Hae kall Hehh Call"




Setahun lalu, saat itu, gue ama Tina sama-sama urus keperluan sidang sarjana. Namun, Allah berkehendak lain. Tina harus menerima kenyataan bahwa ia harus bersabar menunggu hingga setahun ke depan. Alasannya tidak bisa saya paparkan di sini, tapi yang jelas, bukan kesalahan Tina sama sekali. Ada pihak lain yang tidak bertanggung jawab atas hal ini. Ah, ya sudahlah! Pahit getir Tina menjalani hari-hari yang berat, berjuang ke sana kemari, mengadu pada sesiapa yang kiranya dapat membantu. Ah, Tina, mungkin Allah memang punya waktu-Nya yang terbaik untukmu! Aku yakin, akan ada banyak hikmah di balik ini untuk Tina.

Dan, benarlah! Semua kesabaran terjawab sudah! Dalam waktu setahun, sangat banyak hikmah yang Tina petik. Ia mendapat kesempatan menjadi freelance di sebuah majalah kampus, sebuah Web Travel, dan juga Web Aceh. Ia juga mendapat kesempatan berkompetisi film documenter, menjadi asisten lab dan tetap mengajar mengaji seperti biasanya. Oiya, ia juga sempat kursus program Toefl bagus di kampusnya. Emm, apa lagi, ya? Banyak deh! Sebagai sohib, aku tentu lebih tau bahwa tulisan ini masih di kulit permukaan. Andai bisa, tulisan ini tentu akan lebih gereget lagi. Ada banyak hal yang membuatku selalu kagum pada gadis berwajah India ini. Jarang sekali kudengar ia mengeluh. Aku justru melihat semangatnya yang terus menyala-nyala walau kutahu ia sedang punya banyak masalah.





Beberapa hari jelang sidang, kami justru terlibat dalam masalah yang lagi-lagi membuat kami justru semakin dewasa. Aku yakin, masalah memang selalu menjadi bumbu penambah nikmat rasa. Ya, akhirnya, malam itu, aku dalam keadaan sadar mengirimkan pesan dengan air mata berlinang, “Cud sayang Tina…” hahahahaha. Kalau diingat sekarang jadi….. geli sendiri. Pasalnya, pada Helka pun aku enggak pernah mengatakan itu. Ya, mau gi mana lagi. Toh, persahabatan itu memang unik.

Emm, kalau yang satu,,, si Helka itu. Anaknya agak aneh. Dia begitu bersemangat mengoleksi buku-buku novel ternama. Dia lebih milih beli buku baru daripada baju baru. Namun, yaa gitu deh… terkadang kami sering dibuat sebal karena “S” nya yang tak kunjung selesai. Terkadang aku berpikir, mungkin dia belum mau cepat pulang kampung. Mungkin dia belum rela berpisah dari kami kami yang tak seberapa ini. Hahaha. But, she is nice girl. Dia selalu ada saat temannya butuh. Dia juga pendengar yang sangat baik. Walau dia tahu, yang gue omongin tu kadang gak penting, tapi, ya, dia dengerin aja gitu dengan ekspresi “seolah-olah tertarik”.  Ahahaha. 



So, dua cewek jomblo di atas ini, emang “mampu” dan “pantas” untuk dijadikan teman hidup…Eh, kok larinya ke situuuh ahhaha. Udah, ah! Ini nulis selepas semua tugas kuliah selesai… jadi, ya, eror-eror gitu mohon dimaklumi aja.  Editnya kapan-kapan aja ya… mau diposting cepet2… biar
dua bidadari ber-ransel itu cepat baca ini tulisan. Wassalamu’alaikum.
:D



Kamis, 26 Mei 2016

Serial Catatan Konyol Muslimah Banhyol

Tak Kenal Maka Ta'aruf

Perkenalkan, namanya Dara Puspita Rahma. Teman-temannya senang memanggilnya Dapur. Dia pun senang dipanggil begitu. Menurutnya, itu unik. Menjadi unik berarti dia beda dari yang lain. Tapi, walau demikian, dia paling anti dipanggil begitu di depan beberapa orang; dosen, siswa, orangtua, dan gebetan. Bisa hilang arwahnya, katanya.
Baiklah, Dara, sejak kecil hobi bernyanyi. Keterampilan ini diperoleh dari nenek uyutnya yang dulu adalah penyanyi tidak terkenal di kampungnya. Hal itu ternyata terjadi pula pada Dara. Suaranya tak begitu dikenal. Masih lumayan uyutnya, begitu-begitu dikenal sebagai seorang penyanyi, walau yang mengenal dapat dihitung pake jempol. Nah, Dara? Yang tahu paling cuman cicak, kecoa, semut, atau Kak Ti (Tikus) yang kebetulan lewat waktu dia lagi konser di kamar tidur atau kamar mandi. Dengan dalih suara wanita adalah aurat, ia selalu enggan bila disuruh menyanyi di depan teman-temannya yang semua adalah perempuan.
Ngomong-ngomong soal teman, gini-gini, gadis berlesung cendrawasih ini punya banyak kawan. Sahabatnya pun terbilang banyak, walau tidak sampai sepuluh. Ia patut bersyukur memiliki banyak sahabat karena di luar sana, setau Dara banyak orang yang bahkan menganggap sahabat itu tidak pernah ada. Itu sering ia lihat di status-status facebook orang. Namun, walau banyak, sahabatnya ini mempunyai masa produktif dan tidak. Ada yang sedang jauh di pulau seberang, ada yang di luar kota. Itu lah sahabat-sahabat yang sedang tidak produktif. Terpisah jarak dan waktu. Nah, kalau yang masih satu kota, belum tentu juga dikatakan produktif. Hal itu dilihat lagi dari intensitas pertemuan. Ada yang sangat sibuk sampe-sampe ga bisa ketemu lagi. Itu juga sedang tidak produktif. Begitu aku Dara.
Oiya, Dara ini kelahiran 2 Maret 1992. Ketahuan banget ya, usianya masih belia? Hehe. Ya, papinya aja sampe sekarang masih nganggep dia kayak baby hui yang baru lahir kemarin. Bayangin aja, jauh-jauh papinya datang dari pelosok Medan ke Jakarta naik Honda Beat, demi mengantar laptop baru. Syukur sang ibu, setia menemani di belakang walau sesampainya di kost-an Dara, pantatnya hilang. Adiknya, si Lolo kemana? Tenang! Dia ditemani kawan-kawan animenya! Sesuai slogan kebanggannya! Keep Calm! I love Anime! Bedewe, adik Dara itu masih kelas tiga SMP. Yap, beda umur mereka adalah 9:9x9! Dara akui, ia puas banget tidur ama ortu ampe umur 9 tahun. Ia sempet mikir, kapan emak dan bapaknya sempet buat si Adek? Hem, mungkin saat dia lagi tour ke Bali dalam mimpi. Maybe!
Dara kini kuliah di UI, Fakultas Budaya, jurusan Sastra. Ia sedang menyelesaikan skripsweetnya. Lihat lah! Dia udah nyaris di-dropout! Alasannya, judul skripshitnya gak menantang. Makanya, satu-satunya jalan yang dapat membuat itu menjadi menantang adalah, menyelesaikannya di ujung waktu! Ya! Dara memang selalu punya alasan untuk menjaga arwahnya. But, gitu-gitu dia punya cita-cita mulia, menjadi seorang guru yang menginspirasi banyak makhluk. Makanya, selain kuliah, dia juga disibukkan dengan kegiatan mengajar serabutan. Ia senang tampil di depan. Menurutnya, guru sama dengan selebriti dan motivator. Berdiri di hadapan siswa, sama dengan berdiri di depan ribuan fans yang sedang menikmati aksinya. Ada sensasi tersendiri yang tak dapat diungkap dengan rangkaian huruf, katanya.
Well, mengenai pasangan, ia mengatakan, itu akan datang sendiri. Dia gak mau dipusingkan dengan tetek bengek perasaan galau anak muda sekarang. Walau setiap malam menjelang, di dalam sebuah kamar berukuran 3x3 tiga meter itu, dalam kegelapan ruangan, seorang gadis sering berendam air matanya sendiri. “Huaaaa! Maaaak! Bapakkk! Bertambah satu lagi adik letingku yang kawin! Laki-laki pulaaak! Huhuhuaaaaa! Huaaaa! Hieeksss! Hoeeeks! Cuiih! Demikian suara aneh yang kerap terdengar. Sementara di balik pintu kamar, beberapa pasang kuping menempel. “Pantes, waktu kita bilang malam kemarin ada suara kuntilanak terdengar, si Dapur selow-selow aja!”
“Iya! Malah aku diceramahinnya. Dia bilang, ‘istighfar! Kita ini manusia. Lebih mulia dari kuntilanak atau mamaknya. Jangan takut! Bah, kita tuh harusnya cuma takut sama Allah!’ njeh, begitu katanya!”
ckckckc...huh dasar @#$%^^
@#$%^^2#$%^^&
Begitu lah Dara, pandai menyembunyikan perasaannya, walau ujung-ujungnya ketahuan dan mendapat cibiran.
Namun, walau Dara punya banyak keistimewaan seperti yang udah disebutkan di atas. Ia tetap lah manusia biasa yang punya banyak kelemahan. Beberapa di antaranya, ia tidak pernah sanggup menahan kentut ketika hendak keluar. Maka, dengan sigap ketika itu terjadi, dia mengeluarkan sebuah botol parfum yang kemudian disemprotkannya ke muka orang-orang yang dikentutinya. Selanjutnya, dia juga paling malas mencatat catatan kuliah di kelas. Ada pun beberapa catatannya di buku justru membuatnya sakit kepala lalu berujung demam tinggi ketika ia membacanya lagi. Sebagai solusi, ia selalu merekam perkataan dosennya. Kadang, jika tak puas, ia memfoto kopi catatan kawannya lalu dengan murah hati membagikannya ke kawan-kawan lain yang juga ikutan tidak mencatat. Namun, walau Dara males mencatat, dia termasuk mahasiswa yang paling dikenal oleh banyak dosennya. Ya, dikenal sebagai mahasiswa yang paling telat datang, paling cepat keluar, dan paling berantakan tulisannya ketika ujian. Terkadang dosennya pasrah memberikan nilai karena tidak paham dengan apa yang ia tuliskan di kertas.  Kelemahan lainnya adalah, Dara terlalu murah hati. Ia paling tidak tega untuk tidak memberikan sedekah pada peminta-minta. Maka, bila ada sepuluh peminta-minta yang datang , dia akan meladeninya. Tak jarang, saat ia kehabisan uang receh untuk disumbangkan, maka ia meminjam uang temannya lalu sering lupa untuk dikembalikan.
Ya. Masih banyak kelemahan Dara. Namun, ia terus berusaha menjadi wanita muslimah yang baik. Contohnya, ia senantiasa menutup auratnya. Walau kadang kaus kakinya kotor semua dan dia hanya menemukan dua kaus kaki yang masing-masing kehilangan pasangannya, maka ia tak segan menjodohkan keduanya dan memakainya ke mana-mana. Paling-paling nanti, ada siswanya yang nyeletuk, “Ibu, kok kaus kakinya belang” Atau kawan sekelas yang menyuruhnya untuk. “Dara, buka cepetan tu kaus kaki! Malu-maluin ente!” Dan dia pun menjawab dengan tegas, “Maaf, sobat, selama ente tidak memberikan kaus kaki baru untuk menggantikan kaus kaki ini, ane gak akan buka. Kasian urat ane kelihatan sama mereka.” Mata Dara terarah ke sekumpulan cowo ganteng di sudut sana. Sobatnya pun hanya dapat mengurut dada mendengarnya.

Ya. Sekian dulu kenalannya malam ini. Lain kali, insyaAllah akan kita nikmati bersama-sama kisah-kisah seru Dara Puspita Rahma. Perempuan Muslim yang senantiasa berusaha menjadi manusia lebih baik. Yeah, walau terkadang sedikit berlebihan dan terkesan aneh. See you!  J

Kamis, 19 Mei 2016

Tahajud Cinta di Kota New York


Judul Novel : Tahajud Cinta di Kota New York
Penulis : Arumi Ekowati
Penerbit : Zettu
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku : 416 halaman

Sinopsis
Novel ini berkisah tentang kehidupan seorang gadis bernama Dara Paramitha di kota besar, New York. Kehidupan barunya dimulai sejak pertemuannya dengan seorang gadis muslimah asal China bernama Aisyah Liu. Pertemuan itu terjadi manakala Dara membantu Aisyah saat ia kesulitan mendapatkan tempat untuk makan siang di kantin kampus. Sebelumnya, alih-alih mendapat tempat kosong, Aisyah Liu justru mendapat cibiran dari mahasiswa-mahasiswa lainnya. Cibiran itu diperoleh akibat penampilannya yang menurut mereka mencolok ditambah image muslim di kota tersebut yang memburuk setelah kejadian hancurnya gedung WTC.

Dara adalah gadis keturunan orang terpandang di Jakarta. Ayahnya pengusaha besar. Selain karena kemampuan finansial, kecerdasan Dara juga menjadi jalan baginya untuk dapat masuk ke Universitas Columbia. Ayahnya berharap kelak ia dapat mengaplikasikan ilmu bisnisnya untuk meneruskan usaha ayahnya.

Secara fisik, Dara gadis Asia yang berkulit sawo matang dan berlesung pipi. Ia tampak manis apalagi ketika tersenyum. Penampilannya modis. Banyak dari pakaian maupun aksesorisnya bermerk mahal. Banyak lelaki di kampus yang diam-diam menyukainya, termasuk Brian. Bedanya, Brian terlalu agresif sehingga membuat Dara jengah. Secara inner, Dara adalah gadis yang supel dan gaul. Ia terbuka pada setiap golongan, agama, ras maupun sosial. Hal itu membuatnya banyak mengenal dan dikenal di kampusnya.

Awalnya, Dara memang sekadar ingin membantu Aisyah Liu untuk memperoleh tempat duduk untuk makan. Namun, pertemuan itu ternyata menjadi awal persahabatan mereka. Melalui gadis bermata sipit itu, Dara meraih hidayah-Nya. Awalnya, Dara hanya tertarik pada penampilan dan perilaku Aisyah yang begitu bersahaja dan santun, tidak seperti banyak gadis muslim di negara asalnya apalagi di tempat dia kuliah saat ini. Sebelumnya, mereka memang sempat satu kelas kuliah, namun Aisyah tidak menyadari bahwa Dara diam-diam memerhatikannya.

Beberapa bulan berlalu, Dara pun mantap berhijrah. Awalnya, Aisyah tidak yakin, namun Dara bersungguh-sungguh menunjukkan keseriusannya. Hal itu benar ia buktikan, tidak sekadar dalam hal penampilan tapi juga ibadah, amal serta perilaku sehari-hari. Ia perlahan menjadi muslimah yang taat. Ia meninggalkan dunia gemerlapnya, seperti; gonta-ganti teman kencan, minum alkohol, memakai pakaian kurang bahan, meninggalkan shalat lima waktu, tidak berpuasa di bulan Ramadhan sejak di New York, dan perilaku-perilaku kelam lainnya.

Awalnya, perubahan itu mendapat perlawanan dari beberapa pihak, terutama sahabatnya sejak SMP yang juga sekaligus teman sekamarnya, Keira. Keira sangat mengenal Dara. Ia dan Dara sama-sama tergila-gila dengan dunia fashion. Ketertarikan itu pun berlanjut pada pilihan konsentrasi kuliahnya, Fashion Designer. Tak heran, Keira lah yang paling shock dengan perubahan Dara. Ia pun tak bosan berdebat hampir setiap hari dengan Dara terkait perubahan-perubahan yang terjadi setiap harinya, seperti penampilan, shalat tahajud tengah malam, berhenti ke club, berpuasa, hingga tidak pacaran. Namun, yang paling  mengganggunya adalah penampilan Dara yang menurutnya terlalu kuno alias tidak fashionable.

Dalam proses perbaikan diri itu, ia bertemu dengan dua lelaki yang membuatnya bimbang. Richard Wenner dan Brad Smith. Richard yang sudah tiga tahun menjadi muslim taat, sedang mengambil S2 arsitektur di kampus yang sama dengannya, tampan, kaya, baik pula. Richard memang menjadi alasan pertama Dara mau mengikuti kajian keislaman yang diadakan di Masjid Al-Hikmah, Long Disney. Walau pada akhirnya, setelah banyak mendapat ilmu, ia segera meluruskan niatnya.

Sementara Brad, ia seolah ditakdirkan selalu bertemu dengan lelaki itu saat ia membutuhkan pertolongan. Beberapa kali pertemuan terjadi membut Brad dan Dara semakin akrab satu sama lain. Dara yang terus berusaha menjaga jarak fisiknya namun perlahan tak kuasa menjaga jarak hatinya dengan Brad. Syukurlah, Brad lelaki baik. Walau ia bukan muslim, Brad memiliki hati yang baik. Walau terlihat urakan karena gaya khas “anak band”, ia tetap menawan.

Di dua senja yang berbeda, secara berurutan, Brad dan Rich menyampaikan isi hati mereka pada Dara. Dara terkejut sekaligus gamang. Ia harus memilih siapa? Rich yang nyaris sempurna atau Brad yang belum jelas masa depan dan beda keyakinan dengannya? Namun, hati Dara tak dapat bohong… Ia tahu siapa yang sedang mengisi hatinya. Ya, Brad Smith.

Hidayah datang pada siapapun. Saat Dara sedang menjauhkan diri dari Rich dan Brad untuk mendapatkan petunjuk dari Allah, Brad pun merasa kehidupannya kosong. Kekosongan itu bukan karena ketidakhadiran Dara di sisinya. Kekosongan itu ada karena ia sendiri tak punya sandaran selama ini. Ia mulai tak sepaham dengan teman-teman bandnya. Ia mulai tak menyukai dunia gemerlap yang dulu menjadi pakaiannya. Sejak ia berkenalan dengan Dara, ia pun banyak mengetahui tentang kebenaran agama islam. Islam tak seperti yang disangkanya selama ini. Jauh malah. Entah lah, ia hanya merasakan kedamaian saat melihat Dara begitu menikmati ketaatannya terhadap aturan-aturan agama Islam. Ia juga telah membaca buku-buku pemberian Dara terkait islam. Pengetahuannya tentang islam kini sudah jauh lebih banyak daripada dulu. Hingga suatu hari ia berkonsultasi pada Rich. Rich pun berbagi terkait perjalanannya menjadi seorang muallaf. Setelah pertemuan itu, Brad semakin mantap dan ia pun meminta bantuan Rich untuk membimbingnya belajar Islam. Alhamdulillah, jumat yang berkah. Syahadat berkumandang syahdu dari mulut Brad.

Tiga bulan berlalu sudah. Banyak yang telah berubah. Cahaya Allah semakin jelas terlihat di langit New York. Dara tak menyangka justru di kota ini lah ia mendapat hidayah. Kota yang membebaskan segalanya pada penduduknya, termasuk memilih beragama atau tidak. Hal yang paling membahagiakan setelah masuk islamnya Brad ialah perubahan pada Keira. Awalnya Keira memang sangat shock dan menentang perubahan Dara. Namun, Allah punya cara dalam menyampaikan hidayah-Nya. Keira perlahan lunak, ia mulai meninggalkan club malam. Ia tak lagi pergi ke pesta. Shalat lima waktu mulai dikerjakan. Dan yang ajaib, ia tertarik membuat desain baju islami. Awalnya ia membuat itu untuk Dara agar merubah penampilan yang menurutnya sangat sederhana itu. Sayang, Dara yang memang sejak awal berazzam untuk tidak lagi berpakaian mencolok lagi-lagi menolaknya dengan sopan. Tak disangka, akhirnya ia tertarik memakainya setelah menyadari bahwa pakaian tersebut sesungguhnya nyaman dipakai. Ia akhirnya memutuskan untuk menutup aurat dan berhijab menurut gayanya sendiri. Walau bagaimanapun, ini awal yang sangat baik. Dara sangat terkejut sekaligus bersyukur mengetahui itu.

Mengenai cinta, siapakah yang dipilih Dara? Rich yang jelas lebih matang dari Brad. Atau Brad yang bahkan belum menyelesaikan kuliahnya? Makanya, baca novel ini! Hehehe

Kelebihan :
Buku ini sangat menarik. Bahasanya ringan, mudah dipahami. Diksinya bagus. Cara penulis mendeskripsikan kota New York dengan kendahan di setiap sudutnya membuat pembaca menjadi tergugah dan tertarik untuk terbang ke sana. Alurnya mengalir. Konfliknya terasa, memancing emosi pembaca. Novel ini pantas untuk difilmkan!

Kekurangan :
Bagi saya, cerita ini sudah bagus. Hanya saja, saya merasa kurang puas di bagian akhir. Endingnya membuat saya penasaran dan tidak bisa tidur semalaman. (Oke. Yang terakhir memang lebay. Fine.)







Selasa, 17 Mei 2016

Bicara atau Diam?

Bismillahirrahmannirrahhiim

Rasulullah pernah bersabda, “Berkatalah yang baik atau diam.” Jelas, kita tahu apa maksud dari pernyataan tersebut. Kalau ingin dikaji mendalam, tentu akan menghabiskan berlembar kertas, berjam-jam waktu. Dalam coretan sederhana ini, saya hanya ingin mengajak kita semua agar mengingat kembali pesan di atas serta kembali merenungi apakah kita sudah mengamalkan pesan tersebut? Atau jangan-jangan kita belum memahami kalimat tersebut? Sehingga selama ini kita terkesan tidak peduli atau pura-pura tuli? Allahu’a’lam.

Maraknya jenis dan model gadget serta media sosial dewasa ini menghantarkan kita pada titik yang mengharuskan kita untuk ikut melebur bersamanya. Teknologi, informasi serta komunikasi berperan besar  dalam menentukan kemajuan peradaban era ini. Siapa yang ketinggalan, habis lah! Begitu kira-kira slogannya! Ketinggalan zaman, kuno, kolot dan julukan lain yang menggambarkan bahwa orang tersebut telah tergerus arus globalisasi. Padahal, tanpa disadari, banyak pihak masa kini yang justru telah tergerus arus globalisasi oleh karena gagal paham.

Sah-sah saja bila teknologi semakin canggih, media penyebaran informasi semakin pesat dan sarana komunikasi dengan sedemikian rupa bentuk fasilitasnya terus meningkat. Itu seharusnya menjadi kabar gembira bagi kita semua. Tapi, lagi-lagi, manusia kembali pada fitrahnya. Lalai. Lupa.

Lantas, apa kaitan antara hadist di atas dengan pesatnya teknologi, informasi dan komunikasi saat ini?

Manusia semakin kekanak-kanakan. Manusia semakin tidak mampu menahan malunya. Manusia semakin tak kuasa membendung emosinya. Manusia senantiasa menuruti nafsunya. Manusia tak tahan menahan aibnya sendiri, apalagi orang lain.

Dulu, alih-alih terkait keluarga, masalah pribadi sendiri pun hanya diri dan Tuhan serta orang-orang tertentu yang tahu. Kini? Kita sedang di mana, sedang apa, makan apa, minum apa, kondisi mood gi mana, pacarnya siapa, suami/istrinya setia atau tidak, kesukaan suami/istri apa, metamorfosa anaknya tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, bahkan ada yang suka ompol di celana hingga duduk di bangku sekolah dan lain-lain, semua orang tahu!

Hal yang tak kalah penting, banyak pejabat yang seharusnya menjadi teladan justru tak segan mempertontonkan perilaku kekanak-kanakan yang pada akhirnya menjadi bahan tertawaan bocah SMP. Duh aduh, wibawa hilang gegara tak mampu menahan diri untuk tidak meng-update status, gerah bila tak menyindir rival, gelisah bila tak membalas, tak enak bila tak membuat sensasi. Dan, itu tidak hanya berlaku bagi kalangan public figure, namun juga bagi kalangan masyaakat jelata antah berantah.

Artinya, banyak dari kita yang saat ini lebih memilih untuk banyak berbicara ketimbang diam. Kalau pembicaraannya bagus sih, tak masalah. Lah, ini? Keluhan, curhatan, serapah, juga hal tak penting lain. Ada memang, beberapa tipikal manusia pendiam dalam dunia nyata, tapi di dunia maya justru berubah 200 % dan bertingkah lebih aneh.

Namun, lagi-lagi. Kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi itu penggunaannya ibarat mata pisau. Jika kita pergunakan baik, maka baik lah dia. Jika sebaliknya, ya hal buruklah yang terjadi. Maka, menyuguhkan sajian positif bahkan menginspirasi dapat menjadi solusi. Itu justru membuahkan ridha Allah serta pahala. Tak perlu merasa canggung atau merasa takut dianggap sok alim. Semua bergantung niatan.

Jika kita mau bernostalgia, mengapa dulunya tak ada kasus penipuan jenis kelamin?
Mengapa pula anak sekarang harga dirinya semakin turun?
Mengapa juga wibawa guru terhadap murid saat ini sangat minim?
Demikian pula sopan santun serta rasa menghormati siswa terhadap guru seakan pudar?
Ya. Hanya kita yang tahu jawabannya. Maka, “Berkata baik lah, atau diam!”

Allahu’a’lam.

Minggu, 31 Januari 2016

Dia Bisa Apa?

Berusaha membuang debaran
ah, dia bisa apa?
menyimpan rasa dalam genggaman kalbu adalah perjuangan yang keras
trauma akan masa lalu
menjadi dilema untuk menatap masa depan

beruntun, suara hati bersahutan
harapan akan bersama terlintas
namun, sekali lagi

ketakutan mencegah harapan
mengembara bebas
ah, dilema
dia bisa apa?

langkah kian melamban

jarum jam terus berlari
beriringan dengan hati gelisah

nyalinya ciut
tertikam sejuta asa yang mulai terkubur
sementara nurani terus berusaha
membisik, menggelitik ,
bahwa di sudut kalbu
ada rasa yang sedang detak
detak yang perlahan semakin cepat
mana kala bersitatap dengan rupa itu

Oh, dia bisa apa?