Senin, 09 Februari 2015

Mereka Bilang Aku Maco


Namaku Cut Atthahirah. Usiaku menginjak 23 tahun. Dalam hitungan hari, aku akan melangsungkan akad wisuda. Alhamdulillah. Banyak kenikmatan yang telah Allah limpahkan. Namun, sebagai manusia hina lagi dina, kuakui bahwa masih sering terbesit keluh kesah di hati serta sikap dan perkataan yang mencerminkan ketidaksyukuranku. Mungkin, judul dari tulisan ini salah satunya.

Beberapa hari yang lalu, sebuah organisasi kepenulisan ternama yang berpusat di Indonesia dan memiliki cabang hampir di seluruh negara di dunia mengadakan sebuah acara besar. Workshop Nasional dan Launching Buku. Di sana, tamu yang hadir cukup banyak dan variatif, mulai dari siswa, santri, mahasiswa hingga orang tua. Singkat kisah, waktu istirahat tiba. Aku, sebagai salah satu panita beserta yang lainnya menunaikan salat.

Saat di kamar mandi, aku bertemu tiga santriwatiku yang baru selesai berwudu. Di sela kesibukan mereka memakai kerudung, manset, bros hingga kaus kaki, terselip kalimat, “Kak Cut maco, ya! Tapi keren! Suka suka!” Sontak aku kaget. Seingatku, kami baru empat kali bertatap muka. Pertama, saat kunjungan mereka ke markas kami; kedua dan ketiga di dayah mereka, dan keempat di sini. Aku tak banyak komentar sebab kepalaku dipenuhi keheranan mendalam, “Ternyata…Ohh My Allah”.

Jujur, ini kali kesekian. Dan, aku tak pernah mau menghitungnya. Aku pernah mengajar di beberapa sekolah di kota besar ini. Pernah di SMKN Penerbangan Aceh, SMAN 3 Banda Aceh, SMPN 18 Aceh, Lab School, Darul Ulum, SMK 3, SD 50, LBB PHI-BETA hingga RIAB. Dan, banyak sekali kesan yang kuperoleh dari semua tempat itu, salah satunya sebutan bahwa aku tomboy, maco, cem lakik, reper, keren, dan sejenisnya. Hahaha. Aku merasa heran pada diriku sendiri dan bertanya dalam hati, "Bukankah dulu hal ini merupakan salah satu impianku?

***
Dulu, beberapa waktu lalu, tepatnya saat aku duduk di bangku SD. Aku senang melihat cewe-cewe tomboy. Cewe yang sedang bermain basket, polwan, kowad, dan semacamnya. Aku suka melihat gaya mereka. Gaya mereka berbicara yang tegas dan tidak lembek. Gerakan mereka yang cepat dan cara mereka bergaul dengan sesama maupun lawan jenis begitu luwes, tidak kaku. Cara mereka berjalan, berpakaian, hmm. Hingga suatu waktu terbesit di hati bahwa aku ingin seperti mereka tapi rasa-rasanya tidak mungkin melihat kondisiku yang mencla mencle. Ya. Hanya sampai di situ aku berharap. Hanya sekali. Tapi, tak kusangka berefek luar biasa di kemudian hari.

Mulai saat itu, aku tak sadar bahwa hal-hal berbau feminim sangat kuhindari. Ya, walau aku masih senang mengoleksi benda berwarna pink namun cara berbicara, berjalan, makan, dan lain-lain sebisa mungkin aku lakukan selayaknya laki-laki. Perlahan aku lebih suka memilih tas ransel pendaki gunung untuk dibeli saat hendak masuk tahun ajaran baru. Aku suka celana gombrang. Jujur, aku tak sadar dengan semua perubahan kecil-kecil itu. Hingga untuk pertama kali, salah seorang kerabat yang telah lama tak kukunjungi berkata, ”Wah, dek Cut tomboy kali, kok? Haha.” Saat itu tentu reaksiku heran bercampur senang. Saat itu aku duduk di bangku SMP. Dan kemudian terus berlanjut hingga kini.

Ayah dan Ibu? Mereka sudah lelah mengarahkanku. Ayah bahkan kerap memukul pelan dengkulku dengan sendok kala menemukan kaki kiriku kulipat berdiri di atas kursi. Mamak tak bosan mengingatkanku untuk berjalan dengan bagus. Ayah pernah bilang, “Kamu perempuan, perempuan bukan begitu cara kerjanya, kasar.” Mamak juga pernah bilang, “Syukur kamu pakai rok, kalau tidak udahlah…” (NB: Sejak SMA kelas 2 aku istiqomah memakai rok atau celana gombrang).

Banyak komentar tertuju pada hal itu. Komentar itu pun beragam. Sebagian orang memberi tanggapan negatif dan sebagian lain positif. Negatif, karena menurut mereka ini tidak baik untukku. Positif, karena lebih baik menjadi diriku sendiri. Semua itu kudengar baik-baik dan kutanam kuat dalam benakku. Aku hanya berusaha semampuku untuk menjadi feminim walau selalu gagal dan gagal lagi. Hingga akhirnya aku tak perduli lagi.

Saat duduk di bangku sekolah, aku masih menjaga pergaulan dengan lelaki. Meski aku tomboy, aku lebih nyaman bergaul dengan perempuan. Terlebih lagi saat SMA karena aku merupakan seorang ketua rohis putri. Namun, saat kuliah aku mulai mengalihkan perhatianku pada komunitas seperti sanggar teater dan menulis. Aku pernah setahun bergabung di LDK. Namun, bersebab padatnya jadwal kuliah dan waktu kegiatan yang sering berbenturan dengan kegiatan sanggar, aku memilih keluar.  Perlahan, aku mulai banyak bergaul dengan laki-laki. Aku mulai paham bahwa laki-laki itu terkadang lebih enak untuk diajak berdiskusi dan berpikir mungkin karena logika lebih mendominasi. Kami lantas lebih sering membahas soal kepenulisan atau hal bersifat ilmu sastra daripada bergosip. Aku juga tak segan berbagi informasi dengan laki-laki di sosial media.

Semakin hari kekakuanku terhadap laki-laki berkurang. Oleh karena itu, aku yang dulu sangat enggan memulai duluan untuk berkomunikasi namun sekarang tidak lagi. Aku tak canggung dan tak merasa malu selama hal yang aku lakukan itu bukan merendahkan martabatku sebagai perempuan. Hal itu ternyata tanpa sadar semakin membentuk perilakuku mirip lelaki. Aku dipanggil “Tahe, Teuku, Cutbang dan sebutan laki-laki lainnya”. Mendapat sebutan seperti itu aku pun merasa bangga.
 

Suatu ketika, saat aku pulang ke kampung halaman untuk mengisi liburan semester genap. Seolah menjadi kebutuhan, setiap tiba di kampung, aku memangkas rambut hingga di bawah telinga-terlihat seperti lelaki memang. Hingga suatu hari, salah seorang sahabatku datang berkunjung. Seperti biasa, kami pun melepas rindu (NB: sahabatku perempuan semua kecuali Husin Rozi. Itu pun kalau dia merasa). Saat berbicara, aku tentu menanggalkan jilbab sebab sedang berada di dalam rumah. Di sela cang panah, “Duhh, macem bicara ma cowok korea aja lah!” Ucapnya mengeluh sendiri. Aku tertegun disambut tawa. Sorenya, kubaca status FB-nya berisi “Bicara berdua ma Icut macem bicara ma cowok Korea”. “Jiah! Dari mananya? Sipit kagak ni mata!” Saat kutanya ia menjelaskan, “ya, gaya bicaramu, ditambah penampilanmu itu, loh, Cut!” “Hahaha,” gelakku kemudian.  Dan, untuk selanjutnya lebih gila lagi. Salah satu teman kuliahku juga pernah berkata, “Cut mirip cowok Turki”. Abang guruku (NSA) pernah berkata, “Kalau Kau cowok, Kau ganteng, Tahe!” Dan, yang paling parah, beberapa orang berkata aku mirip Andika Pratama (suami Ussy). Wuaahh! Huahahaha!

Perlahan aku merasa semakin nyaman atas sikapku tapi tidak pada tampilan fisikku. Aku memang tak memakai celana layaknya lelaki. Aku juga tetap berjilbab selama di depan nonmahram. Namun, bajuku selalu coklat-hitam, atau warna lain yang gelap. Terkadang, aku pakai jilbab coklat, baju hitam, rok biru. Sangat tidak nyambung, ‘kan? Istilah teman-temanku, model “Medan-Jakarta-Bandung” atau “A-B-C”.

Yah, hingga suatu saat aku bertemu seorang sahabat baru yang sedikit cerewet tentang penampilanku. Ia tak lain adalah Azwita. Ia bagiku adalah pengamat fashion. Hahaha. Semenjak dengannya, aku mulai berubah dalam hal berpenampilan. Busanaku mulai berwarna. Hingga kini, pemilihan baju hingga gaya hijabku mulai variatif. Aku merasa mulai menemukan gayaku yang sesungguhnya. Yang paling  waw adalah beberapa bulan lalu, ketika aku menyambangi SMA-ku untuk melegalisir ijazah, tak kusangka banyak yang berkomentar aku sudah cantik! Mulai dari teman yang kebetulan sedang PPL di sana hingga guru-guruku! “Dulu Icut cupu dan polos, sekarang dah cantik kali ya, tapi, mansetnya kok hilang? Aku lantas menjawab dengan santai dan tak merasa berdosa, “Iya, Buk. Hilang di telan alam,” kemudian gelak tawa terdengar. (Untuk manset, aku punya alasan sendiri mengapa tak memakainya lagi saat ini-dan aku menyimpan harapan untuk memakainya lagi suatu saat nanti).

Kini, aku menikmati ke-maco-anku ini. Banyak yang bilang aku maco, tomboy, cem lakik, reper, atau apa lah, tapi semuanya berujung satu kata, yakni keren! (Entah itu hanya menghibur atau memang tulus dari hati, aku tak ambil pusing). So, kupikir tak ada yang salah dengan ini. Kalaupun aku harus berubah, itu perlu waktu. Sembari berupaya meminimalisasi ke-maco-an ini, aku berusaha memperbaiki ibadah dan akhlakku sebagai seorang muslimah (kukira itu lebih urgent). Hal yang paling penting adalah kalimat yang diucapkan salah seorang temanku “Cewe tomboy juga banyak peminatnya, kok, Cut!” Dan, "Yang paling penting, tak masalah menjadi cewe maco selama tidak maho! (Na'udzubillah) Heuheu. :D (Mudah-mudahan ini bukan sekedar untuk menghiburku).









Rabu, 04 Februari 2015

Alarm Keras

Bismillahirrahmaniirahhim...

Sebelumnya, saya hanya ingin mengatakan bahwa tulisan ini bukanlah sebuah narasi. Namun, bisa jadi suatu saat nanti tulisan ini dapat berubah wujud menjadi sebuah narasi. Tulisan ini juga bukan lah sebuah teks persuatif, namun bisa jadi ketika membacanya, Anda akan merasa tertarik untuk melakukan suatu hal. Tulisan ini bukan pula sebuah teks eksposisi prosedural, hanya saja mendekati karena merupakan poin-poin mencapai suatu hal yang dilakukan secara berututan. Hmm, lalu apakah ini terkait argumen atau deskripsi? Bisa jadi! Sebab, ini merupakan argumen dan gambaran diri seseorang yang ingin mencapai keinginannya. Selamat membaca!


Saya adalah anak tunggal dari Ibu dan Ayah yang sangat saya sayangi. Saya merantau untuk menimba ilmu di sebuah kota besar di Aceh. Alhamdulillah, keluarga besar sangat mendukung dan banyak membantu. Saat ini, usia saya 23 tahun. Sekitar 13 hari lagi saya akan diwisuda. Namun, apakah ini akhir segalanya? Tidak! Ini justru awal dari segalanya! Sangat banyak impian yang ingin saya capai. Dan, saya dengan tidak malu-malu akan mengungkapkannya di sini. Maksudnya apa? Jelas saya tidak mempunyai niatan untuk pamer. Saya justru akan menjadikan ini sebagai alarm keras agar saya selalu ingat akan impian saya. Dan lebih dari itu. Agar saya selalu berpacu, berusaha keras meraih impian saya!

1. Membawa Ayah dan Ibu ke Mekkah untuk naik haji
2. Menghafal Al-quran
3. Menjadi penulis yang menginspirasi
4. Mempunyai sebuah kemahiran memasak
5. Menjadi istri salihah dari suami salih dan ibu salihah bagi anak-anak salih/salihah

That's it! Tapi, walaupun hanya 5 poin tapi cara menempuhnya bukan hal mudah. Namun, tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Semuanya akan mudah bila kita mempunyai niat dan tekad yang bulat. Apabila niat dan tekad sudah bulat, Bismillah...AllahummaPAKSAKAN! Maka mulailah! InsyaAllah semua akan menjadi nyata.  Aamiin Allahumma Aamiin. :) 

Jatuh bangun tentu akan hadir. Suatu waktu kita tentu akan berada pada titik jenuh pula. Hal antisipatif yang harus dilakukan adalah berbagi pada orang-orang yang dapat mengembalikan kita pada titik kembangkitan lagi. Berbagi tidak hanya dengan cara menemui orang secara langsung, juga dengan cara membaca biografi-biografi orang hebat-terutama ketika mereka berada pada titik 0. Atau bahkan, kita dapat membaca hikmah dari orang-orang hebat di sekeliling kita yang tanpa kita sadari mempunyai kisah hidup yang sangat dramatis dan penuh inspirasi. Bahkan binatang dan tumbuhan terkadang bisa memberi teladan yang baik bila kita mau sebentar saja bersatu dengan alam. 


The last, mohon doanya ya, manteman. Alarm keras ini akan senantiasa berbunyi sehingga impian saya dapat menjadi nyata!

Selasa, 03 Februari 2015

Dahaga


Meniti titi kehidupan fana
tertatih
merintih
sesekali ubun-ubun mendidih
menyisir gurun pasir tandus
terbakar
tersasar
betapa kerap dilanda lapar

Meneguk buih lautan luas
kian diteguk, kian dahaga
berharap dapat teguk habis
perut tak sebesar samudera

Menyendok buih lautan
mentrasmigrasikan ke wadah pasir
namun selalu habis ditelan pasir

Di bibir laut,
terus menyendok
tak pernah henti
hingga lelah
hingga lelap
hingga habis
diteguk laut
dahaga


 






Selasa, 27 Januari 2015

Tiada yang Tahu



Malam memang tak senantiasa mengabarkan tentangmu
Pun siang tak selalu mengirim pesanmu lewat angin sepoinya
Perlahan waktu melebur jadi cerita
Hingga aku senantiasa menyimpannya melalui kisah
Sama.
Seperti tentangmu
Waktu-waktu bersamamu terlalu berharga untuk kuabaikan
Segala peluhmu telah kurasa
namun asinnya tak mampu kumangsa

Jarak memang terbentang
Waktu pun senantiasa berlalu
Kerut di wajah semakin jelas
Uban tersebar di seluruh penjuru kepala

Aku yang berjuang di sini
namun bukan berjuang
kau yang di sana selalu menanti kabarku
justru merasakan beban yang lebih
namun bagimu bukan beban

Terkadang
aku rindu serapahmu
manakala aku pulang bersama azan maghrib menggema

Tak jarang
aku haus candamu
manakala kita duduk berdua menatap langit sore di selasar rumah

Sering
aku terngiang petuahmu
manakala aku curahkan segala keluh kesah
Kala kutanya tentang cita-cita,
Kau tersenyum dan berkata, “Bersungguhlah, maka kau bisa”
Kala kutanya tentang cinta,
Kau  tersenyum dan berkata, “Akan indah pada waktunya”

Oh, Ibu…
Sesekali, kutangkap bayangmu dalam mimpi
tengah merintih
berdoa, memohon, pada-Nya
agar senantiasa menjauhkanku dari petaka
agar selalu melindungiku dari perbuatan mengundang murka

Oh, Ibu…
Entah hingga kapan aku mampu
Entah seberapa besar aku sanggup
membayar jasamu
tiada yang tahu











Kamis, 18 Desember 2014

Umie Rebus dan Ubie Rebus

Jam menunjukkan pukul 12.35 wib.
Umi : Ah, lega! Baju pesta kesayangan Umi sudah selesai dijahit oleh Ibu Romlah
Matanya tiba-tiba melotot ke arah sebuah panci tanah. 
Umi: Abi! Umi kan sudah minta tolong sama Abi, Tolong liatin mi rebus Umi. Kok dibiarin, sih!
Abi : Loh, kan emang udah Abi liatin.
Umi: Ya bukan gitu juga kelles. Diangkat kalo udah matang, Abi!
Abi: Ya salah Umi sendiri. Kasih amanatnya salah
Umi tak menjawab. Diturunkan panci dari tungku. Tiba-tiba bau busuk menyeruak.
Abi: Umi, jagain ubi rebus Abi, ya! 
Umi : Huh! Dasar! Gak berubah-berubah!
Selang beberapa menit.
Abi: Ah, legaa! Keluar juga isi perut yang mengganggu dari semalam!
Didekatinya tungku. 
Abi: Umi, kenapa tidak diangkat? Udah matang ini!
Umi: Emangnya Abi ada suruh Umi angkat? Enggak, kan?
Abi: Kalau sudah begini, sudah kurang mantap rasanya ubi rebus Abi!
Umi: Yasudah, kita makan mi rebus Umi saja!
Abi: Tidak! Kita tetap makan ubi rebus Abi. Setidaknya ini tidak nyonyot kayak mie rebus buatan Umi!
Umi: Lah, Umi juga gak mau makan Ubi buatan Abi!
Abi: Kenapa? Kita bisa makan pakai gula untuk membuatnya lebih nikmat!
Umi: Bukan perkara itu!
Abi: Jadi?
Umi: Abi setiap hari kentut... Abi gak sadar apa? Bau kentut Abi itu mengganggu Umi!
Abi: Hahaha. Bukannya selama ini Umi tidak mempermasalahkan?
Umi: Gak semua hal perlu dibilang, Abi! 
Abi:Yasudah-yasudah, tapi Abi tetap gak mau makan mie rebus Umi
Umi: Kenapa? Mie rebus tidak menimbulkan kentut yang terus-menerus, kan!
Abi: Memang iya, tapi apa Umi gak sadar, badan Umi semakin melar?
Umi: Apa? Bu-bukannya Abi bilang Umi makin cantik gemuk begini? 
Abi: Umi, selama ini Abi bohong demi kesenangan orang tercinta.
Umi dan Abi sesaat terdiam. Mereka seakan baru menyadari sesuatu yang selama ini terpendam begitu lama.


Jumat, 28 November 2014

"Tingkah Pengantin"

Detik-detik terus berlalu
Detak-detak jantung pun bertalu
Raut wajah serupa putri malu
Timbul tenggelam di balik pintu
Wajah kini lebih mirip delima ranum
Perlahan melangkah
Tinggalkan persembunyian
Kepala tunduk bukan kehilangan koin
Tangan dingin bukan menggenggam es lilin
Semua pasang mata menyambut
Suara-suara gaduh tak jelas
Aroma sakral merasuk sukma
Hati terbawa suasana
Selamat!
BarakAllah!
SAMARA!
Labirin menangkap
Hati terkesiap
Mulut tergagap
Oh, begitulah...!
tingkah pengantin...
16 November 2014--Rumcay
‪#‎Laskar‬ Syu'ara 227

Rabu, 26 November 2014

Aku Jatuh


Aku Jatuh

Kicauan burung menyertai deru suara sepeda motor yang tengah dipanaskan. Awan mulai terlihat jelas bentuknya. Seperti biasa, rutinitas pagi yang monoton, namun tidak membosankan. Ayah masih dengan usahanya mengeluarkan angin dari tubuh, suaranya tak jarang membuatku kehilangan selera makan, tapi… lambat laun itu menjadi akrab di telingaku. Entah bagi tetangga sebelah. Sejauh ini belum ada yang mengeluh, dan semoga saja tak akan pernah ada. Karena, kalau sudah begitu, mau tak mau dinding kamar mandi wajib dipasang kedap suara.
Sementara Mamak, begitu setia melayaniku bak putri raja setiap pagi. Menyediakan makanan plus susu kesukaanku. Padahal, kini aku telah duduk di bangku SMA. Tapi, ya begitulah Mamak. Begitulah aku. Mamak hanya punya anak satu, yakni aku. Sedang aku, hanya punya Mamak satu, dia. So? Ya begitulah. Pikir saja sendiri.
Usai makan, aku bersiap pergi ke sekolah. “Pergi ya Mak, Yah!” Kuciumi satu-satu sepasang punggung tangan mereka. Ya. Dengan sepeda Polygon kesayangan, kukayuh sepeda dengan penuh semangat, penuh energi, dan senyuman merekah tentunya. Mengapa begitu? Apakah karena aku terlahir sebagai gadis yang ceria, supel, dan selalu bersemangat? Ah, bisa jadi. Tapi, bukan itu alasan sebenarnya. “Wah, sudah jam setengah lapan! Nooo!” Kujagak sepeda yang kuncinya memang sudah rusak gara-gara anak tetangga yang terlalu kreatif di halaman warung Nek Mah. Rumah Nek Mah memang terletak di pinggir jalan, alias di ujung lorong, So? Ya, karena kerendahan hatinya, dia rela halamannya dijadikan tempat parkir bebas biaya untukku. Sebelumnya, aku kerap menitip sepeda pada temanku yang rumahnya di pinggir jalan pula, namun, sekali lagi, ternyata anak-anak tetangga temanku lebih kreatif dari anak tetanggaku. Beruntung, sepedaku belum sempat bertambah cacatnya. Baru colek-colek sedikit untuk tahap pengamatan. Begitu pikirku.
Alhamdulillah. Setelah lima menit menunggu, akhirnya nongol juga sudek pahlawan kesianganku. “Jleb!” Kuintip ke dalam, nyaris penuh. “Naik aja, dek, masih muat, kok!” Ujar kenek. Tak menjawab, aku menurut saja perkataannya. Benar saja, tubuhku yang ramping dan toleransi penumpang lain membuatku mampu menambah deretan penumpang lainnya. Ah, lebih tepatnya, menyempil.
Laju sudek terasa lebih lambat dari biasanya. Aku mengeluh dalam hati sepanjang perjalanan. Mengeluh atas kebiasaan burukku yang selalu terlambat ke sekolah. Dan, Ya. Mobil akhirnya berhenti tepat di seberang jalan sekolahanku. “Jleb!” Mataku terbelalak selepas sudek meninggalkanku. Mataku seakan mau lompat dari tempatnya. Pintu gerbang nyaris ditutup. Dan itu artinya... “Cepat-cepat!” Pak Supriyadi tampak bersemangat menyuruh kami berbaris. “Udah rapi? “ Suara Buk Srik menghentak adrenalinku. “Siaapp, Buuk!” Jawab PSST (pasukan siswa sabe telat)  serentak.  Panjang kali lebar Buk Srik memberi petuah. Jujur, aku amat malu. Ya, apa boleh buat? “Sekarang, kalian mau masuk?” Tanya guru fenomenal di sekolahku itu.
“Mauuu!”
“Sekarang kutip sampah sampai bersih satu lapangan ini. Kemudian kumpul lagi di sini. Jangan kembali sebelum lapangan benar-benar bersih!”
“Siapp, Bookk!” PSST segera berpencar, memburu sampah berupa daun kering, plastik, bekas botol air mineral, dan lain-lain. Sekitar lima menit kami muter-muter keliling lapangan. Ada yang sungguh-sungguh mengutip sampah, dan tidak sedikit pula yang wet-wet belaka. Aku tentu termasuk golongan pertama.
Sampah masih di tangan masing-masing. Biasanya langsung dimasukkan ke tong sampah, lantas bebas. Namun, hari ini sepertinya berbeda. “Sekarang, kalian jongkok semua, cepat!” Suara Bu Srik sekali lagi menghentak adrenalinku. Terdengar keluhan-keluhan keluar dari mulut PSST lain. Dalam waktu sekitar lima menit kami berhasil melintasi jalan menuju koridor dalam kondisi berjongkok. Setelah sampai, kami semua seperti tahanan yang baru terlepas dari jeratan hukum. Sampah segera kubuang ke tong sampah yang telah diletakkan di ujung jalan. Kami segera kembali ke pos semula untuk mengambil tas, lantas menyembur ke kelas masing-masing.
“Tok, tok, tok, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam”
Kutundukkan kepalaku ke lantai kelas. Lantas berjalan dengan cepat ke bangku. Aduh! Sungguh memalukan! Kalau sudah begini, lagi-lagi aku merasa bersalah. Bersalah pada diri sendiri. Pada orang tua. Dan, HIPISA (Himpunan Pelajar Islam SMAN 1 Langsa).

***
Awal aku menyandang status sebagai siswa SMAN 1 Langsa ini, saat aku dan teman-teman menjalani masa orientasi sekolah (MOS), lebih tepatnya hari ketiga MOS, masuklah sekelompok kakak leting ke kelasku. Beberapa di antaranya adalah siswi berjilbab lebar dan besar, sebagian lain siswa memakai rompi krem. Sebelum ini, telah masuk pula beberapa delegasi organisasi sekolah lainnya yang melakukan promosi. Namun, jujur, ini merupakan pemandangan baru bagiku. Tak begitu serius aku mendengar ucapan mereka. Aku justru lebih tertarik  melihat penampilan mereka satu-persatu. Entah apa yang kupikir saat itu. Hingga aku tak tahu apapun yang mereka katakan dari awal hingga akhir.
Sedih. Kesal. Itu yang kurasakan saat itu. Betapa tidak? Sebelum megikuti tes masuk sekolah ini pun aku telah bermimpi untuk bergabung di Pramuka atau Sispala. Namun, kenyataan berkata lain. Ayah tidak memberi izin. OSIS? Aku tak cukup berani menanggung resiko harus ketinggalan pelajaran nantinya. PMR? Terlambat. Aku terlalu percaya diri akan mendapat izin masuk Pramuka atau Sispala. Nyatanya PMR menjadi pilihan yang terakhir dan naas, habis formulir. Esoknya, Fika, salah satu teman baruku menawarkan aku untuk masuk sebuah organisasi. “Masuk HIPISA aja, Cut! HIPISA itu bagus, loh! Kalau mau, Cut bisa ambil formulir sama Fika. Abang sepupu Fika anak HIPISA juga soalnya!” Aku tersenyum hambar menyambut tawarannya itu. Merasa tak bergairah.
Siang bertandang ditandai azan zuhur. Aku dan teman-teman sekelas meluncur ke musala. Menghadap Khalik.  Usai meletakkan mukena di dalam, aku melesat ke tempat wudu. Melintasi halaman musala, mataku menangkap dua orang kakak leting memakai kerudung besar dan lebar. Ada tumpukan kertas di atas meja. Salah satu dari mereka menulis sesuatu di sebuah buku panjang. Ada seorang siswa baru juga di depannya. Kelihatan dari bajunya yang masih tampak perawan. Aku tebak ia tengah mendaftar. “Bagah, hai! Bek taheu!” Fitri, teman sebangkuku menegur.
Segar dan sejuk melingkupi jiwa. Seharian letih memburu tanda tangan senior yang tidak gratis itu membuat seragam baru yang kami kenakan basah oleh peluh. Belum lagi gerah dan dahaga. Oh! Tersiram air wudu bikin adem! Gerakan salat melenturkan saraf otot dan otak yang tegang.  Belum lagi selesai kulipat mukena, terlihat kembali meja panjang di luar yang sempat mencuri perhatian tadi. “Fit, ikutan HIPISA, yuk!”
“Apa? Serius Kamu? Emang Ayahmu mengizinkan?”
“Ah, gampang itu! Kalau yang beginian InsyaAllah Ayah kasih, dong! Kan, belajar agama! Kurang banget ilmu agamaku, Fit! Ayoklah!” Yang kupikir saat itu adalah bisa mengemban organisasi, apapun itu.  Daripada gak sama sekali. HIPISA. Yang kutahu adalah pesantrennya SMAN 1 Langsa. Jadi, aku bisa belajar ngaji, tajwid, agama, fiqih, dan  pengetahuan agama lainnya di sini. Aku harap pengetahuan agamaku bisa bertambah nantinya. Itu saja.

***
Hari ini jumat, hari yang suci. Hari yang bersejarah pula bagiku. Untuk pertama kalinya aku mendengar istilah ROHIS dua hari yang lalu dari SMS. Dan, hari ini aku sungguh bersemangat ingin mengungkap tabir penasaranku-apa itu ROHIS?  Sepertinya menarik. Memasuki musala yang teduh ini membuat aku merasa nyaman. Memang letak musala ini sangat strategis. Banyak siswa-siswi maupun guru serta staf sekolah yang kerap menjadikan musala ini sebagai tempat berteduh. Begitu yang kudengar dari teman-teman. Entah mereka memperoleh informasi tersebut darimana.  Kulihat kanan dan kiri. Semuanya tampak ceria. Hawa keakraban begitu kental terasa. Dan kian bertambah hangat saat seorang siswi menegurku. Dia yang duduk tak jauh dari tempatku mendekat dan menyapa dengan begitu hangat. Nanda Marlina namanya. Wah, wajahnya bersinar, tutur bahasanya lembut dan santun. Pakaian dan kerudungnya rapi dan sopan. Baru kali ini kutemui wajah seteduh itu. Senyum dibalik celotehnya begitu memikat. Nanda Marlina, bagiku ia adalah replika HIPISA. Tak perlu kucari tahu lebih banyak, ia telah cukup mewakili dan membuatku jatuh. Jatuh hati. Untuk pertama kali.
Aku memang bukannya mantan preman yang suka memalak pedagang di pasar. Atau bekas kupu-kupu yang suka terbang hinggap di hidung belang pada malam hari. Tapi, aku juga punya banyak dosa. Aku tak jarang membuat Mamak kerepotan sendiri. Aku juga sering kesal bila Ayah menyuruhku ini dan itu. Kerap pula aku membuat mereka kecewa dengan ucapan dan tingkah lakuku saat kemauanku tak dituruti. Mulutku yang masih suka mengeluarkan ucapan tak sepantasnya kepada sesama. Gosip, atau sekedar menggoda yang tanpa kusadari membekas di hati. Aku juga punya kebiasaan buruk yang sulit diobati, suka menjahili teman. Entah mengapa. Ada kepuasaan tersendiri setelah menuntaskan hasrat tersebut. Melihat ekspresi kesal mereka, membuat aku tersenyum bahkan tertawa sangat puas. Dan, salat? Aku pernah menangis sesenggukan karena ketahuan bohong sama Ayah. Aku pura-pura wudu, lantas masuk kamar, mengunci pintu dan tidur! Entah mengapa naluri orang tua begitu kuat. Hingga malam itu aku naas. Bakda maghrib, Ayah mengetok pintu dan menuntut kejujuranku. Nyaris aku harus bersumpah di depan Al-Quran bila tak jujur saat itu. Oh My Allah! Intinya aku ini manusia. Pendosa yang ingin menjadi lebih baik. Dan perlahan, secercah cahaya di langit Langsa itu terlihat.
***
Ini hari terakhir orientasi HIPISA. Banyak sudah mutiara ilmu yang kukutip di taman pendidikan agama ini. Taman pendidikan agama? Ya. Aku lebih senang menyebut seperti itu. Bagiku HIPISA serupa dengan taman yang indah, senantiasa menuai ilmu, dan islami banget. Saat hari pertama, temanku, Amoy sakit tiba-tiba, tak kusangka tanggapan senior HIPISA begitu mengusik kalbuku. Kak Husna begitu cekatan dan penuh perhatian memapahnya ke parkiran lantas mengantarnya ke rumah. Mungkin kedengarannya hanya bentuk perhatian biasa. Namun, bagiku itu hakikat persaudaraan sejati, atau yang mereka sebut-sebut sebagai ukhuwah. Ya. Sekali lagi aku jatuh. Jatuh hati.
Hari berlalu. Minggu berganti. Aku yang tengah senang mengoleksi jeans dan lee, serta baju-baju kemeja ngepas beragam model beralih profesi menjadi pengemis. Pengemis yang minta-minta dibelikan rok sama Mamak. Terkadang sayang melihat jeans dan lee yang masih baru itu. Tapi, aku harus bisa melupakannya. Akan ada yang lebih baik menanti. Rok dan gamis. Aku tersenyum menatap jilbab komputer yang baru kubeli. Untuk saat ini sudah cukup. Besok insyaAllah tambah setengah senti lagi. Ujarku polos dalam hati.
***
“Cuuttt, nyapu halamannya, dong! Udah kotor tuh, nanti kesorean!” Ayah berteriak di ruang keluarga. “Iya, Ayah! Bentar!” Bismillah…kurapikan jilbabku. Kutatap rok dan kaos kebesaran baru yang melekat di tubuhku. “Cut, kamu harus yakin…ini yang kedua kalinya setelah pernah gagal. Tekadmu sudah bulat!” Aku keluar dengan wajah disetel sebiasa mungkin. Sementara hatiku dag dig dug berdoa agar tak ada komentar yang keluar dari mulut Ayah atau Mamak. Alhamdulillah, untuk beberapa menit hening, namun tidak pada menit berikutnya. “Nyapu aja pake dandan segalaa…Cut…Cut!” Mamak bersuara dari dalam. “Ohh, No! Bukan dandan, Mamak!” But, okelah! Apapun itu. Aku tak menjawab. Kulanjutkan pekerjaanku. Seiring tekadku yang semakin bulat. Telingaku sudah cukup sering mendengar tausiah tentang kewajiban menutup aurat di ROHIS. Sepasang mata ini nyaris setiap hari menatap teman akhwat HIPISA yang satu persatu menutup auratnya. Dan, hatiku, sudah lelah untuk selalu berkata ”Aku akan seperti itu, suatu saat nanti”. Dan mulutku telah berbuih untuk terus bermunajat kepada Allah, namun kewajiban yang sangat besar justru kuabaikan, lebih tepatnya kutunda selalu. Aku malu.

***
“Jangan mendekati zina!”
Kak Yusridha dengan ditemani Kak Yulvianda menegur Irham dengan tegas. Seorang anggota HIPISA baru. Ia baru-baru ini memang sering memberi sinyal kepadaku. Dan ternyata sinyal itu terlalu kuat sehingga aku tak mampu menanggung sendiri. Aku mengungkapkannya pada kedua seniorku itu. Hingga terjadilah  peritiwa peneguran hari ini. Aku bersyukur untuk itu. Karena, jika aku tak mengungkapnya, entah apa yang terjadi selanjutnya antara aku dan lelaki yang baru dilantik sebagai ketua Patroli Keamanan Sekolah itu. Syukur, dia bisa menerima dengan sikap dewasa. Tak lama setelah kejadian itu kami disidang dan ia mengundurkan diri. Aku tak tahu hakikat apa yang kurasakan, hanya sedikit merasa kehilangan, namun lebih banyak merasa menemukan. Menemukan saudara. Kukira saudara sendiri belum tentu mau begitu perhatian tentang keselamatan masa depanku, lah ini? Terima kasih, untuk Kak Yus dan Kak Yul, replika HIPISA selanjutnya yang membuatku jatuh. Jatuh hati pada HIPISA. “Cut! Icuttttttttt!” Aku terkesiap. “Absenn, absen…” Ujar Manda. “Ehmm…hadirr Buk!” Sesaat kurasakan angin lembut membelai sukma hingga membuat nafasku terasa segar kembali. Allah…, aku terlanjur jatuh…di singgasana-Mu.