Selasa, 31 Maret 2015
Selasa, 24 Februari 2015
Cerbungsing (Insomnina)
Jalanan lengang. Tak ada deru kendaraan hingga desir angin terdengar. Seharusnya malam ini damai. Dn aku dapat istirahat dengan tenang. Namun, pada kenyataannya tidak begitu. Aku justru dilanda kecemasan luar biasa. Tak pernah sebelumnya aku mengalami perasaan seperti ini. Istilah remaja masa kini "galau". Entahlah! Saat ini, aku hanya ingin satu hal, yakni tidur secepat mungkin dan terbangun esok subuh dengan lesapnya kegalauan di pikiran ini. Oh, Allah... mengapa bisa? Lagi-lagi. Pertanyaan itu keluar dari hati sanubari terdalam.
Tuk..tak..tuk.. Suara jarum jam terus berdetak, aku masih belum menemukan gejala dari hal yang menimpaku saat ini. Ini malam kesekian di mana aku telat tidur. Jujur, aku sudah seminggu tidak mengonsumsi kopi sejak kurasa denyut jantungku berdetak kencang sore itu. Malamnya, mataku pun melek hingga subuh. Luar biasa! Maka tak ada jawaban pasti mengapa aku sulit tidur beberapa hari ini. Aku bingung. Dan, kuputuskan untuk membuka laptopku. Lalu...
to be continued...
Tuk..tak..tuk.. Suara jarum jam terus berdetak, aku masih belum menemukan gejala dari hal yang menimpaku saat ini. Ini malam kesekian di mana aku telat tidur. Jujur, aku sudah seminggu tidak mengonsumsi kopi sejak kurasa denyut jantungku berdetak kencang sore itu. Malamnya, mataku pun melek hingga subuh. Luar biasa! Maka tak ada jawaban pasti mengapa aku sulit tidur beberapa hari ini. Aku bingung. Dan, kuputuskan untuk membuka laptopku. Lalu...
to be continued...
Sabtu, 21 Februari 2015
Di sini, di HIPISA
Di sini aku belajar mencintai
mencintai sesama
mencintai agama
Di sini aku belajar patuh
patuh terhadap peraturan
patuh terhadap Al-quran
Di sini, aku sempat nelangsa
membuang masa lalu kelam
Di sini, aku mulai terbiasa
mendirikan shalat malam
HIPISA
Katanya pesantren SMA Negeri 1 Langsa
Kerudungnya panjang luar biasa
Duha pada jam istirahat menjadi biasa
Bicara dengan lawan jenis dijaga sebisa
Agar tak timbul rasa-rasa
HIPISA
Katanya majelis ilmu agama SMA Negeri 1 Langsa
Jumat diisi rohis putri, sabtunya untuk putra
ilmunya banyak, uztadnya ceria
HIPISA
katanya tauladan di SMA Negeri 1 Langsa
tutur katanya santun budinya luhur
berjumpa guru tak lupa salam
jumpa teman sejawat selalu senyum
HIPISA
katanya pendakwah sejati
pengukir sejarah islami
dulu, HIPISA pendobrak sejarah penggunaan hijab seragam
dulu, HIPISA pendobrak sejarah penggunaan baju kurung untuk
wanita
kini, HIPISA masih berdiri tegak di garda terdepan
kini, HIPISA masih berjaya
mengukir kisah
memahat kasih
Senin, 09 Februari 2015
Mereka Bilang Aku Maco
Namaku Cut
Atthahirah. Usiaku menginjak 23 tahun. Dalam hitungan hari, aku akan
melangsungkan akad wisuda. Alhamdulillah. Banyak kenikmatan yang telah Allah
limpahkan. Namun, sebagai manusia hina lagi dina, kuakui bahwa masih sering
terbesit keluh kesah di hati serta sikap dan perkataan yang mencerminkan
ketidaksyukuranku. Mungkin, judul dari tulisan ini salah satunya.
Beberapa hari
yang lalu, sebuah organisasi kepenulisan ternama yang berpusat di Indonesia dan
memiliki cabang hampir di seluruh negara di dunia mengadakan sebuah acara
besar. Workshop Nasional dan Launching Buku. Di sana, tamu yang hadir cukup
banyak dan variatif, mulai dari siswa, santri, mahasiswa hingga orang tua. Singkat
kisah, waktu istirahat tiba. Aku, sebagai salah satu panita beserta yang
lainnya menunaikan salat.
Jujur, ini kali
kesekian. Dan, aku tak pernah mau menghitungnya. Aku pernah mengajar di
beberapa sekolah di kota besar ini. Pernah di SMKN Penerbangan Aceh, SMAN 3
Banda Aceh, SMPN 18 Aceh, Lab School, Darul Ulum, SMK 3, SD 50, LBB PHI-BETA hingga
RIAB. Dan, banyak sekali kesan yang kuperoleh dari semua tempat itu, salah
satunya sebutan bahwa aku tomboy, maco,
cem lakik, reper, keren, dan sejenisnya. Hahaha. Aku merasa heran pada
diriku sendiri dan bertanya dalam hati, "Bukankah dulu hal ini merupakan salah satu impianku?
***
Dulu, beberapa
waktu lalu, tepatnya saat aku duduk di bangku SD. Aku senang melihat cewe-cewe tomboy. Cewe yang sedang bermain basket, polwan, kowad, dan semacamnya. Aku
suka melihat gaya mereka. Gaya mereka berbicara yang tegas dan tidak lembek.
Gerakan mereka yang cepat dan cara mereka bergaul dengan sesama maupun lawan
jenis begitu luwes, tidak kaku. Cara mereka berjalan, berpakaian, hmm. Hingga
suatu waktu terbesit di hati bahwa aku ingin seperti mereka tapi rasa-rasanya
tidak mungkin melihat kondisiku yang mencla mencle. Ya. Hanya sampai di situ
aku berharap. Hanya sekali. Tapi, tak kusangka berefek luar biasa di kemudian
hari.
Mulai saat itu,
aku tak sadar bahwa hal-hal berbau feminim sangat kuhindari. Ya, walau aku
masih senang mengoleksi benda berwarna pink namun cara berbicara, berjalan,
makan, dan lain-lain sebisa mungkin aku lakukan selayaknya laki-laki. Perlahan
aku lebih suka memilih tas ransel pendaki gunung untuk dibeli saat hendak masuk
tahun ajaran baru. Aku suka celana gombrang.
Jujur, aku tak sadar dengan semua perubahan kecil-kecil itu. Hingga untuk
pertama kali, salah seorang kerabat yang telah lama tak kukunjungi berkata, ”Wah,
dek Cut tomboy kali, kok? Haha.” Saat itu tentu reaksiku heran bercampur
senang. Saat itu aku duduk di bangku SMP. Dan kemudian terus berlanjut hingga
kini.
Ayah dan Ibu?
Mereka sudah lelah mengarahkanku. Ayah bahkan kerap memukul pelan dengkulku
dengan sendok kala menemukan kaki kiriku kulipat berdiri di atas kursi. Mamak
tak bosan mengingatkanku untuk berjalan dengan bagus. Ayah pernah bilang, “Kamu
perempuan, perempuan bukan begitu cara kerjanya, kasar.” Mamak juga pernah
bilang, “Syukur kamu pakai rok, kalau tidak udahlah…” (NB: Sejak SMA kelas 2
aku istiqomah memakai rok atau celana
gombrang).
Banyak komentar
tertuju pada hal itu. Komentar itu pun beragam. Sebagian orang memberi
tanggapan negatif dan sebagian lain positif. Negatif, karena menurut mereka ini
tidak baik untukku. Positif, karena lebih baik menjadi diriku sendiri. Semua itu
kudengar baik-baik dan kutanam kuat dalam benakku. Aku hanya berusaha semampuku
untuk menjadi feminim walau selalu gagal dan gagal lagi. Hingga akhirnya aku
tak perduli lagi.
Saat duduk di
bangku sekolah, aku masih menjaga pergaulan dengan lelaki. Meski aku tomboy, aku lebih nyaman bergaul dengan
perempuan. Terlebih lagi saat SMA karena aku merupakan seorang ketua rohis
putri. Namun, saat kuliah aku mulai mengalihkan perhatianku pada komunitas
seperti sanggar teater dan menulis. Aku pernah setahun bergabung di LDK. Namun,
bersebab padatnya jadwal kuliah dan waktu kegiatan yang sering berbenturan
dengan kegiatan sanggar, aku memilih keluar. Perlahan, aku mulai banyak bergaul dengan
laki-laki. Aku mulai paham bahwa laki-laki itu terkadang lebih enak untuk
diajak berdiskusi dan berpikir mungkin karena logika lebih mendominasi. Kami lantas lebih sering membahas soal kepenulisan atau hal bersifat ilmu sastra
daripada bergosip. Aku juga tak segan berbagi informasi dengan laki-laki di
sosial media.
Semakin hari
kekakuanku terhadap laki-laki berkurang. Oleh karena itu, aku yang dulu sangat
enggan memulai duluan untuk berkomunikasi namun sekarang tidak lagi. Aku tak
canggung dan tak merasa malu selama hal yang aku lakukan itu bukan merendahkan
martabatku sebagai perempuan. Hal itu ternyata tanpa sadar semakin membentuk
perilakuku mirip lelaki. Aku dipanggil “Tahe, Teuku, Cutbang dan sebutan
laki-laki lainnya”. Mendapat sebutan seperti itu aku pun merasa bangga.
Suatu ketika,
saat aku pulang ke kampung halaman untuk mengisi liburan semester genap. Seolah
menjadi kebutuhan, setiap tiba di kampung, aku memangkas rambut hingga di bawah
telinga-terlihat seperti lelaki memang. Hingga suatu hari, salah seorang
sahabatku datang berkunjung. Seperti biasa, kami pun melepas rindu (NB:
sahabatku perempuan semua kecuali Husin Rozi. Itu pun kalau dia merasa). Saat
berbicara, aku tentu menanggalkan jilbab sebab sedang berada di dalam rumah. Di
sela cang panah, “Duhh, macem bicara
ma cowok korea aja lah!” Ucapnya mengeluh sendiri. Aku tertegun disambut tawa.
Sorenya, kubaca status FB-nya berisi “Bicara berdua ma Icut macem bicara ma
cowok Korea”. “Jiah! Dari mananya? Sipit
kagak ni mata!” Saat kutanya ia menjelaskan, “ya, gaya bicaramu, ditambah
penampilanmu itu, loh, Cut!” “Hahaha,” gelakku kemudian. Dan, untuk selanjutnya lebih gila lagi. Salah
satu teman kuliahku juga pernah berkata, “Cut mirip cowok Turki”. Abang guruku
(NSA) pernah berkata, “Kalau Kau cowok, Kau ganteng, Tahe!” Dan, yang paling
parah, beberapa orang berkata aku mirip Andika Pratama (suami Ussy). Wuaahh! Huahahaha!
Perlahan aku
merasa semakin nyaman atas sikapku tapi tidak pada tampilan fisikku. Aku
memang tak memakai celana layaknya lelaki. Aku juga tetap berjilbab selama di
depan nonmahram. Namun, bajuku selalu coklat-hitam, atau warna lain yang gelap. Terkadang, aku pakai jilbab coklat, baju hitam, rok biru. Sangat tidak nyambung, ‘kan?
Istilah teman-temanku, model “Medan-Jakarta-Bandung” atau “A-B-C”.
Yah, hingga suatu saat aku bertemu seorang sahabat baru yang sedikit cerewet tentang penampilanku. Ia tak lain adalah Azwita. Ia bagiku adalah pengamat fashion. Hahaha. Semenjak dengannya, aku mulai berubah dalam hal berpenampilan. Busanaku mulai berwarna. Hingga kini, pemilihan baju hingga gaya hijabku mulai variatif. Aku merasa mulai menemukan gayaku yang sesungguhnya. Yang paling waw adalah beberapa bulan lalu, ketika aku menyambangi SMA-ku untuk melegalisir ijazah, tak kusangka banyak yang berkomentar aku sudah cantik! Mulai dari teman yang kebetulan sedang PPL di sana hingga guru-guruku! “Dulu Icut cupu dan polos, sekarang dah cantik kali ya, tapi, mansetnya kok hilang? Aku lantas menjawab dengan santai dan tak merasa berdosa, “Iya, Buk. Hilang di telan alam,” kemudian gelak tawa terdengar. (Untuk manset, aku punya alasan sendiri mengapa tak memakainya lagi saat ini-dan aku menyimpan harapan untuk memakainya lagi suatu saat nanti).
Kini, aku
menikmati ke-maco-anku ini. Banyak yang bilang aku maco, tomboy, cem lakik, reper, atau apa lah, tapi semuanya
berujung satu kata, yakni keren! (Entah itu hanya menghibur atau memang tulus
dari hati, aku tak ambil pusing). So,
kupikir tak ada yang salah dengan ini. Kalaupun aku harus berubah, itu perlu
waktu. Sembari berupaya meminimalisasi ke-maco-an ini, aku berusaha memperbaiki ibadah dan akhlakku sebagai seorang muslimah (kukira itu lebih urgent). Hal yang paling penting adalah kalimat yang diucapkan salah seorang
temanku “Cewe tomboy juga banyak peminatnya, kok, Cut!” Dan, "Yang paling penting, tak masalah menjadi cewe maco selama tidak maho! (Na'udzubillah) Heuheu. :D (Mudah-mudahan ini bukan sekedar untuk
menghiburku).
Rabu, 04 Februari 2015
Alarm Keras
Bismillahirrahmaniirahhim...
1. Membawa Ayah dan Ibu ke Mekkah untuk naik haji
2. Menghafal Al-quran
3. Menjadi penulis yang menginspirasi
4. Mempunyai sebuah kemahiran memasak
5. Menjadi istri salihah dari suami salih dan ibu salihah bagi anak-anak salih/salihah
The last, mohon doanya ya, manteman. Alarm keras ini akan senantiasa berbunyi sehingga impian saya dapat menjadi nyata!
Sebelumnya, saya hanya ingin mengatakan bahwa tulisan ini bukanlah sebuah narasi. Namun, bisa jadi suatu saat nanti tulisan ini dapat berubah wujud menjadi sebuah narasi. Tulisan ini juga bukan lah sebuah teks persuatif, namun bisa jadi ketika membacanya, Anda akan merasa tertarik untuk melakukan suatu hal. Tulisan ini bukan pula sebuah teks eksposisi prosedural, hanya saja mendekati karena merupakan poin-poin mencapai suatu hal yang dilakukan secara berututan. Hmm, lalu apakah ini terkait argumen atau deskripsi? Bisa jadi! Sebab, ini merupakan argumen dan gambaran diri seseorang yang ingin mencapai keinginannya. Selamat membaca!
Saya adalah anak tunggal dari Ibu dan Ayah yang sangat saya sayangi. Saya merantau untuk menimba ilmu di sebuah kota besar di Aceh. Alhamdulillah, keluarga besar sangat mendukung dan banyak membantu. Saat ini, usia saya 23 tahun. Sekitar 13 hari lagi saya akan diwisuda. Namun, apakah ini akhir segalanya? Tidak! Ini justru awal dari segalanya! Sangat banyak impian yang ingin saya capai. Dan, saya dengan tidak malu-malu akan mengungkapkannya di sini. Maksudnya apa? Jelas saya tidak mempunyai niatan untuk pamer. Saya justru akan menjadikan ini sebagai alarm keras agar saya selalu ingat akan impian saya. Dan lebih dari itu. Agar saya selalu berpacu, berusaha keras meraih impian saya!
1. Membawa Ayah dan Ibu ke Mekkah untuk naik haji
2. Menghafal Al-quran
3. Menjadi penulis yang menginspirasi
4. Mempunyai sebuah kemahiran memasak
5. Menjadi istri salihah dari suami salih dan ibu salihah bagi anak-anak salih/salihah
That's it! Tapi, walaupun hanya 5 poin tapi cara menempuhnya bukan hal mudah. Namun, tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Semuanya akan mudah bila kita mempunyai niat dan tekad yang bulat. Apabila niat dan tekad sudah bulat, Bismillah...AllahummaPAKSAKAN! Maka mulailah! InsyaAllah semua akan menjadi nyata. Aamiin Allahumma Aamiin. :)
Jatuh bangun tentu akan hadir. Suatu waktu kita tentu akan berada pada titik jenuh pula. Hal antisipatif yang harus dilakukan adalah berbagi pada orang-orang yang dapat mengembalikan kita pada titik kembangkitan lagi. Berbagi tidak hanya dengan cara menemui orang secara langsung, juga dengan cara membaca biografi-biografi orang hebat-terutama ketika mereka berada pada titik 0. Atau bahkan, kita dapat membaca hikmah dari orang-orang hebat di sekeliling kita yang tanpa kita sadari mempunyai kisah hidup yang sangat dramatis dan penuh inspirasi. Bahkan binatang dan tumbuhan terkadang bisa memberi teladan yang baik bila kita mau sebentar saja bersatu dengan alam.
The last, mohon doanya ya, manteman. Alarm keras ini akan senantiasa berbunyi sehingga impian saya dapat menjadi nyata!
Selasa, 03 Februari 2015
Dahaga
Meniti titi kehidupan fana
tertatih
merintih
sesekali ubun-ubun mendidih
tertatih
merintih
sesekali ubun-ubun mendidih
menyisir gurun pasir tandus
terbakar
tersasar
betapa kerap dilanda lapar
betapa kerap dilanda lapar
Meneguk buih lautan luas
kian diteguk, kian dahaga
berharap dapat teguk habis
perut tak sebesar samudera
Menyendok buih lautan
mentrasmigrasikan ke wadah pasir
namun selalu habis ditelan pasir
Di bibir laut,
terus menyendok
tak pernah henti
hingga lelah
hingga lelap
hingga habis
diteguk laut
kian diteguk, kian dahaga
berharap dapat teguk habis
perut tak sebesar samudera
Menyendok buih lautan
mentrasmigrasikan ke wadah pasir
namun selalu habis ditelan pasir
Di bibir laut,
terus menyendok
tak pernah henti
hingga lelah
hingga lelap
hingga habis
diteguk laut
dahaga
Selasa, 27 Januari 2015
Tiada yang Tahu
Malam memang tak senantiasa mengabarkan tentangmu
Pun siang tak selalu mengirim pesanmu lewat angin
sepoinya
Perlahan waktu melebur jadi cerita
Hingga aku senantiasa menyimpannya melalui kisah
Sama.
Seperti tentangmu
Waktu-waktu bersamamu terlalu berharga untuk
kuabaikan
Segala peluhmu telah kurasa
namun asinnya tak mampu kumangsa
Jarak memang terbentang
Waktu pun senantiasa berlalu
Kerut di wajah semakin jelas
Uban tersebar di seluruh penjuru kepala
Aku yang berjuang di sini
namun bukan berjuang
kau yang di sana selalu menanti kabarku
justru merasakan beban yang lebih
namun bagimu bukan beban
Terkadang
aku rindu serapahmu
manakala aku pulang bersama azan maghrib menggema
Tak jarang
aku haus candamu
manakala kita duduk berdua menatap langit sore di
selasar rumah
Sering
aku terngiang petuahmu
manakala aku curahkan segala keluh kesah
Kala
kutanya tentang cita-cita,
Kau tersenyum dan
berkata, “Bersungguhlah, maka kau bisa”
Kala
kutanya tentang cinta,
Kau tersenyum dan berkata, “Akan indah pada
waktunya”
Oh, Ibu…
Sesekali, kutangkap bayangmu dalam mimpi
tengah merintih
berdoa, memohon, pada-Nya
agar senantiasa menjauhkanku dari petaka
agar selalu melindungiku dari perbuatan mengundang
murka
Oh, Ibu…
Entah hingga kapan aku mampu
Entah seberapa besar aku sanggup
membayar jasamu
tiada yang tahu
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)




.jpg)


