Selasa, 27 Januari 2015

Tiada yang Tahu



Malam memang tak senantiasa mengabarkan tentangmu
Pun siang tak selalu mengirim pesanmu lewat angin sepoinya
Perlahan waktu melebur jadi cerita
Hingga aku senantiasa menyimpannya melalui kisah
Sama.
Seperti tentangmu
Waktu-waktu bersamamu terlalu berharga untuk kuabaikan
Segala peluhmu telah kurasa
namun asinnya tak mampu kumangsa

Jarak memang terbentang
Waktu pun senantiasa berlalu
Kerut di wajah semakin jelas
Uban tersebar di seluruh penjuru kepala

Aku yang berjuang di sini
namun bukan berjuang
kau yang di sana selalu menanti kabarku
justru merasakan beban yang lebih
namun bagimu bukan beban

Terkadang
aku rindu serapahmu
manakala aku pulang bersama azan maghrib menggema

Tak jarang
aku haus candamu
manakala kita duduk berdua menatap langit sore di selasar rumah

Sering
aku terngiang petuahmu
manakala aku curahkan segala keluh kesah
Kala kutanya tentang cita-cita,
Kau tersenyum dan berkata, “Bersungguhlah, maka kau bisa”
Kala kutanya tentang cinta,
Kau  tersenyum dan berkata, “Akan indah pada waktunya”

Oh, Ibu…
Sesekali, kutangkap bayangmu dalam mimpi
tengah merintih
berdoa, memohon, pada-Nya
agar senantiasa menjauhkanku dari petaka
agar selalu melindungiku dari perbuatan mengundang murka

Oh, Ibu…
Entah hingga kapan aku mampu
Entah seberapa besar aku sanggup
membayar jasamu
tiada yang tahu











Kamis, 18 Desember 2014

Umie Rebus dan Ubie Rebus

Jam menunjukkan pukul 12.35 wib.
Umi : Ah, lega! Baju pesta kesayangan Umi sudah selesai dijahit oleh Ibu Romlah
Matanya tiba-tiba melotot ke arah sebuah panci tanah. 
Umi: Abi! Umi kan sudah minta tolong sama Abi, Tolong liatin mi rebus Umi. Kok dibiarin, sih!
Abi : Loh, kan emang udah Abi liatin.
Umi: Ya bukan gitu juga kelles. Diangkat kalo udah matang, Abi!
Abi: Ya salah Umi sendiri. Kasih amanatnya salah
Umi tak menjawab. Diturunkan panci dari tungku. Tiba-tiba bau busuk menyeruak.
Abi: Umi, jagain ubi rebus Abi, ya! 
Umi : Huh! Dasar! Gak berubah-berubah!
Selang beberapa menit.
Abi: Ah, legaa! Keluar juga isi perut yang mengganggu dari semalam!
Didekatinya tungku. 
Abi: Umi, kenapa tidak diangkat? Udah matang ini!
Umi: Emangnya Abi ada suruh Umi angkat? Enggak, kan?
Abi: Kalau sudah begini, sudah kurang mantap rasanya ubi rebus Abi!
Umi: Yasudah, kita makan mi rebus Umi saja!
Abi: Tidak! Kita tetap makan ubi rebus Abi. Setidaknya ini tidak nyonyot kayak mie rebus buatan Umi!
Umi: Lah, Umi juga gak mau makan Ubi buatan Abi!
Abi: Kenapa? Kita bisa makan pakai gula untuk membuatnya lebih nikmat!
Umi: Bukan perkara itu!
Abi: Jadi?
Umi: Abi setiap hari kentut... Abi gak sadar apa? Bau kentut Abi itu mengganggu Umi!
Abi: Hahaha. Bukannya selama ini Umi tidak mempermasalahkan?
Umi: Gak semua hal perlu dibilang, Abi! 
Abi:Yasudah-yasudah, tapi Abi tetap gak mau makan mie rebus Umi
Umi: Kenapa? Mie rebus tidak menimbulkan kentut yang terus-menerus, kan!
Abi: Memang iya, tapi apa Umi gak sadar, badan Umi semakin melar?
Umi: Apa? Bu-bukannya Abi bilang Umi makin cantik gemuk begini? 
Abi: Umi, selama ini Abi bohong demi kesenangan orang tercinta.
Umi dan Abi sesaat terdiam. Mereka seakan baru menyadari sesuatu yang selama ini terpendam begitu lama.


Jumat, 28 November 2014

"Tingkah Pengantin"

Detik-detik terus berlalu
Detak-detak jantung pun bertalu
Raut wajah serupa putri malu
Timbul tenggelam di balik pintu
Wajah kini lebih mirip delima ranum
Perlahan melangkah
Tinggalkan persembunyian
Kepala tunduk bukan kehilangan koin
Tangan dingin bukan menggenggam es lilin
Semua pasang mata menyambut
Suara-suara gaduh tak jelas
Aroma sakral merasuk sukma
Hati terbawa suasana
Selamat!
BarakAllah!
SAMARA!
Labirin menangkap
Hati terkesiap
Mulut tergagap
Oh, begitulah...!
tingkah pengantin...
16 November 2014--Rumcay
‪#‎Laskar‬ Syu'ara 227

Rabu, 26 November 2014

Aku Jatuh


Aku Jatuh

Kicauan burung menyertai deru suara sepeda motor yang tengah dipanaskan. Awan mulai terlihat jelas bentuknya. Seperti biasa, rutinitas pagi yang monoton, namun tidak membosankan. Ayah masih dengan usahanya mengeluarkan angin dari tubuh, suaranya tak jarang membuatku kehilangan selera makan, tapi… lambat laun itu menjadi akrab di telingaku. Entah bagi tetangga sebelah. Sejauh ini belum ada yang mengeluh, dan semoga saja tak akan pernah ada. Karena, kalau sudah begitu, mau tak mau dinding kamar mandi wajib dipasang kedap suara.
Sementara Mamak, begitu setia melayaniku bak putri raja setiap pagi. Menyediakan makanan plus susu kesukaanku. Padahal, kini aku telah duduk di bangku SMA. Tapi, ya begitulah Mamak. Begitulah aku. Mamak hanya punya anak satu, yakni aku. Sedang aku, hanya punya Mamak satu, dia. So? Ya begitulah. Pikir saja sendiri.
Usai makan, aku bersiap pergi ke sekolah. “Pergi ya Mak, Yah!” Kuciumi satu-satu sepasang punggung tangan mereka. Ya. Dengan sepeda Polygon kesayangan, kukayuh sepeda dengan penuh semangat, penuh energi, dan senyuman merekah tentunya. Mengapa begitu? Apakah karena aku terlahir sebagai gadis yang ceria, supel, dan selalu bersemangat? Ah, bisa jadi. Tapi, bukan itu alasan sebenarnya. “Wah, sudah jam setengah lapan! Nooo!” Kujagak sepeda yang kuncinya memang sudah rusak gara-gara anak tetangga yang terlalu kreatif di halaman warung Nek Mah. Rumah Nek Mah memang terletak di pinggir jalan, alias di ujung lorong, So? Ya, karena kerendahan hatinya, dia rela halamannya dijadikan tempat parkir bebas biaya untukku. Sebelumnya, aku kerap menitip sepeda pada temanku yang rumahnya di pinggir jalan pula, namun, sekali lagi, ternyata anak-anak tetangga temanku lebih kreatif dari anak tetanggaku. Beruntung, sepedaku belum sempat bertambah cacatnya. Baru colek-colek sedikit untuk tahap pengamatan. Begitu pikirku.
Alhamdulillah. Setelah lima menit menunggu, akhirnya nongol juga sudek pahlawan kesianganku. “Jleb!” Kuintip ke dalam, nyaris penuh. “Naik aja, dek, masih muat, kok!” Ujar kenek. Tak menjawab, aku menurut saja perkataannya. Benar saja, tubuhku yang ramping dan toleransi penumpang lain membuatku mampu menambah deretan penumpang lainnya. Ah, lebih tepatnya, menyempil.
Laju sudek terasa lebih lambat dari biasanya. Aku mengeluh dalam hati sepanjang perjalanan. Mengeluh atas kebiasaan burukku yang selalu terlambat ke sekolah. Dan, Ya. Mobil akhirnya berhenti tepat di seberang jalan sekolahanku. “Jleb!” Mataku terbelalak selepas sudek meninggalkanku. Mataku seakan mau lompat dari tempatnya. Pintu gerbang nyaris ditutup. Dan itu artinya... “Cepat-cepat!” Pak Supriyadi tampak bersemangat menyuruh kami berbaris. “Udah rapi? “ Suara Buk Srik menghentak adrenalinku. “Siaapp, Buuk!” Jawab PSST (pasukan siswa sabe telat)  serentak.  Panjang kali lebar Buk Srik memberi petuah. Jujur, aku amat malu. Ya, apa boleh buat? “Sekarang, kalian mau masuk?” Tanya guru fenomenal di sekolahku itu.
“Mauuu!”
“Sekarang kutip sampah sampai bersih satu lapangan ini. Kemudian kumpul lagi di sini. Jangan kembali sebelum lapangan benar-benar bersih!”
“Siapp, Bookk!” PSST segera berpencar, memburu sampah berupa daun kering, plastik, bekas botol air mineral, dan lain-lain. Sekitar lima menit kami muter-muter keliling lapangan. Ada yang sungguh-sungguh mengutip sampah, dan tidak sedikit pula yang wet-wet belaka. Aku tentu termasuk golongan pertama.
Sampah masih di tangan masing-masing. Biasanya langsung dimasukkan ke tong sampah, lantas bebas. Namun, hari ini sepertinya berbeda. “Sekarang, kalian jongkok semua, cepat!” Suara Bu Srik sekali lagi menghentak adrenalinku. Terdengar keluhan-keluhan keluar dari mulut PSST lain. Dalam waktu sekitar lima menit kami berhasil melintasi jalan menuju koridor dalam kondisi berjongkok. Setelah sampai, kami semua seperti tahanan yang baru terlepas dari jeratan hukum. Sampah segera kubuang ke tong sampah yang telah diletakkan di ujung jalan. Kami segera kembali ke pos semula untuk mengambil tas, lantas menyembur ke kelas masing-masing.
“Tok, tok, tok, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam”
Kutundukkan kepalaku ke lantai kelas. Lantas berjalan dengan cepat ke bangku. Aduh! Sungguh memalukan! Kalau sudah begini, lagi-lagi aku merasa bersalah. Bersalah pada diri sendiri. Pada orang tua. Dan, HIPISA (Himpunan Pelajar Islam SMAN 1 Langsa).

***
Awal aku menyandang status sebagai siswa SMAN 1 Langsa ini, saat aku dan teman-teman menjalani masa orientasi sekolah (MOS), lebih tepatnya hari ketiga MOS, masuklah sekelompok kakak leting ke kelasku. Beberapa di antaranya adalah siswi berjilbab lebar dan besar, sebagian lain siswa memakai rompi krem. Sebelum ini, telah masuk pula beberapa delegasi organisasi sekolah lainnya yang melakukan promosi. Namun, jujur, ini merupakan pemandangan baru bagiku. Tak begitu serius aku mendengar ucapan mereka. Aku justru lebih tertarik  melihat penampilan mereka satu-persatu. Entah apa yang kupikir saat itu. Hingga aku tak tahu apapun yang mereka katakan dari awal hingga akhir.
Sedih. Kesal. Itu yang kurasakan saat itu. Betapa tidak? Sebelum megikuti tes masuk sekolah ini pun aku telah bermimpi untuk bergabung di Pramuka atau Sispala. Namun, kenyataan berkata lain. Ayah tidak memberi izin. OSIS? Aku tak cukup berani menanggung resiko harus ketinggalan pelajaran nantinya. PMR? Terlambat. Aku terlalu percaya diri akan mendapat izin masuk Pramuka atau Sispala. Nyatanya PMR menjadi pilihan yang terakhir dan naas, habis formulir. Esoknya, Fika, salah satu teman baruku menawarkan aku untuk masuk sebuah organisasi. “Masuk HIPISA aja, Cut! HIPISA itu bagus, loh! Kalau mau, Cut bisa ambil formulir sama Fika. Abang sepupu Fika anak HIPISA juga soalnya!” Aku tersenyum hambar menyambut tawarannya itu. Merasa tak bergairah.
Siang bertandang ditandai azan zuhur. Aku dan teman-teman sekelas meluncur ke musala. Menghadap Khalik.  Usai meletakkan mukena di dalam, aku melesat ke tempat wudu. Melintasi halaman musala, mataku menangkap dua orang kakak leting memakai kerudung besar dan lebar. Ada tumpukan kertas di atas meja. Salah satu dari mereka menulis sesuatu di sebuah buku panjang. Ada seorang siswa baru juga di depannya. Kelihatan dari bajunya yang masih tampak perawan. Aku tebak ia tengah mendaftar. “Bagah, hai! Bek taheu!” Fitri, teman sebangkuku menegur.
Segar dan sejuk melingkupi jiwa. Seharian letih memburu tanda tangan senior yang tidak gratis itu membuat seragam baru yang kami kenakan basah oleh peluh. Belum lagi gerah dan dahaga. Oh! Tersiram air wudu bikin adem! Gerakan salat melenturkan saraf otot dan otak yang tegang.  Belum lagi selesai kulipat mukena, terlihat kembali meja panjang di luar yang sempat mencuri perhatian tadi. “Fit, ikutan HIPISA, yuk!”
“Apa? Serius Kamu? Emang Ayahmu mengizinkan?”
“Ah, gampang itu! Kalau yang beginian InsyaAllah Ayah kasih, dong! Kan, belajar agama! Kurang banget ilmu agamaku, Fit! Ayoklah!” Yang kupikir saat itu adalah bisa mengemban organisasi, apapun itu.  Daripada gak sama sekali. HIPISA. Yang kutahu adalah pesantrennya SMAN 1 Langsa. Jadi, aku bisa belajar ngaji, tajwid, agama, fiqih, dan  pengetahuan agama lainnya di sini. Aku harap pengetahuan agamaku bisa bertambah nantinya. Itu saja.

***
Hari ini jumat, hari yang suci. Hari yang bersejarah pula bagiku. Untuk pertama kalinya aku mendengar istilah ROHIS dua hari yang lalu dari SMS. Dan, hari ini aku sungguh bersemangat ingin mengungkap tabir penasaranku-apa itu ROHIS?  Sepertinya menarik. Memasuki musala yang teduh ini membuat aku merasa nyaman. Memang letak musala ini sangat strategis. Banyak siswa-siswi maupun guru serta staf sekolah yang kerap menjadikan musala ini sebagai tempat berteduh. Begitu yang kudengar dari teman-teman. Entah mereka memperoleh informasi tersebut darimana.  Kulihat kanan dan kiri. Semuanya tampak ceria. Hawa keakraban begitu kental terasa. Dan kian bertambah hangat saat seorang siswi menegurku. Dia yang duduk tak jauh dari tempatku mendekat dan menyapa dengan begitu hangat. Nanda Marlina namanya. Wah, wajahnya bersinar, tutur bahasanya lembut dan santun. Pakaian dan kerudungnya rapi dan sopan. Baru kali ini kutemui wajah seteduh itu. Senyum dibalik celotehnya begitu memikat. Nanda Marlina, bagiku ia adalah replika HIPISA. Tak perlu kucari tahu lebih banyak, ia telah cukup mewakili dan membuatku jatuh. Jatuh hati. Untuk pertama kali.
Aku memang bukannya mantan preman yang suka memalak pedagang di pasar. Atau bekas kupu-kupu yang suka terbang hinggap di hidung belang pada malam hari. Tapi, aku juga punya banyak dosa. Aku tak jarang membuat Mamak kerepotan sendiri. Aku juga sering kesal bila Ayah menyuruhku ini dan itu. Kerap pula aku membuat mereka kecewa dengan ucapan dan tingkah lakuku saat kemauanku tak dituruti. Mulutku yang masih suka mengeluarkan ucapan tak sepantasnya kepada sesama. Gosip, atau sekedar menggoda yang tanpa kusadari membekas di hati. Aku juga punya kebiasaan buruk yang sulit diobati, suka menjahili teman. Entah mengapa. Ada kepuasaan tersendiri setelah menuntaskan hasrat tersebut. Melihat ekspresi kesal mereka, membuat aku tersenyum bahkan tertawa sangat puas. Dan, salat? Aku pernah menangis sesenggukan karena ketahuan bohong sama Ayah. Aku pura-pura wudu, lantas masuk kamar, mengunci pintu dan tidur! Entah mengapa naluri orang tua begitu kuat. Hingga malam itu aku naas. Bakda maghrib, Ayah mengetok pintu dan menuntut kejujuranku. Nyaris aku harus bersumpah di depan Al-Quran bila tak jujur saat itu. Oh My Allah! Intinya aku ini manusia. Pendosa yang ingin menjadi lebih baik. Dan perlahan, secercah cahaya di langit Langsa itu terlihat.
***
Ini hari terakhir orientasi HIPISA. Banyak sudah mutiara ilmu yang kukutip di taman pendidikan agama ini. Taman pendidikan agama? Ya. Aku lebih senang menyebut seperti itu. Bagiku HIPISA serupa dengan taman yang indah, senantiasa menuai ilmu, dan islami banget. Saat hari pertama, temanku, Amoy sakit tiba-tiba, tak kusangka tanggapan senior HIPISA begitu mengusik kalbuku. Kak Husna begitu cekatan dan penuh perhatian memapahnya ke parkiran lantas mengantarnya ke rumah. Mungkin kedengarannya hanya bentuk perhatian biasa. Namun, bagiku itu hakikat persaudaraan sejati, atau yang mereka sebut-sebut sebagai ukhuwah. Ya. Sekali lagi aku jatuh. Jatuh hati.
Hari berlalu. Minggu berganti. Aku yang tengah senang mengoleksi jeans dan lee, serta baju-baju kemeja ngepas beragam model beralih profesi menjadi pengemis. Pengemis yang minta-minta dibelikan rok sama Mamak. Terkadang sayang melihat jeans dan lee yang masih baru itu. Tapi, aku harus bisa melupakannya. Akan ada yang lebih baik menanti. Rok dan gamis. Aku tersenyum menatap jilbab komputer yang baru kubeli. Untuk saat ini sudah cukup. Besok insyaAllah tambah setengah senti lagi. Ujarku polos dalam hati.
***
“Cuuttt, nyapu halamannya, dong! Udah kotor tuh, nanti kesorean!” Ayah berteriak di ruang keluarga. “Iya, Ayah! Bentar!” Bismillah…kurapikan jilbabku. Kutatap rok dan kaos kebesaran baru yang melekat di tubuhku. “Cut, kamu harus yakin…ini yang kedua kalinya setelah pernah gagal. Tekadmu sudah bulat!” Aku keluar dengan wajah disetel sebiasa mungkin. Sementara hatiku dag dig dug berdoa agar tak ada komentar yang keluar dari mulut Ayah atau Mamak. Alhamdulillah, untuk beberapa menit hening, namun tidak pada menit berikutnya. “Nyapu aja pake dandan segalaa…Cut…Cut!” Mamak bersuara dari dalam. “Ohh, No! Bukan dandan, Mamak!” But, okelah! Apapun itu. Aku tak menjawab. Kulanjutkan pekerjaanku. Seiring tekadku yang semakin bulat. Telingaku sudah cukup sering mendengar tausiah tentang kewajiban menutup aurat di ROHIS. Sepasang mata ini nyaris setiap hari menatap teman akhwat HIPISA yang satu persatu menutup auratnya. Dan, hatiku, sudah lelah untuk selalu berkata ”Aku akan seperti itu, suatu saat nanti”. Dan mulutku telah berbuih untuk terus bermunajat kepada Allah, namun kewajiban yang sangat besar justru kuabaikan, lebih tepatnya kutunda selalu. Aku malu.

***
“Jangan mendekati zina!”
Kak Yusridha dengan ditemani Kak Yulvianda menegur Irham dengan tegas. Seorang anggota HIPISA baru. Ia baru-baru ini memang sering memberi sinyal kepadaku. Dan ternyata sinyal itu terlalu kuat sehingga aku tak mampu menanggung sendiri. Aku mengungkapkannya pada kedua seniorku itu. Hingga terjadilah  peritiwa peneguran hari ini. Aku bersyukur untuk itu. Karena, jika aku tak mengungkapnya, entah apa yang terjadi selanjutnya antara aku dan lelaki yang baru dilantik sebagai ketua Patroli Keamanan Sekolah itu. Syukur, dia bisa menerima dengan sikap dewasa. Tak lama setelah kejadian itu kami disidang dan ia mengundurkan diri. Aku tak tahu hakikat apa yang kurasakan, hanya sedikit merasa kehilangan, namun lebih banyak merasa menemukan. Menemukan saudara. Kukira saudara sendiri belum tentu mau begitu perhatian tentang keselamatan masa depanku, lah ini? Terima kasih, untuk Kak Yus dan Kak Yul, replika HIPISA selanjutnya yang membuatku jatuh. Jatuh hati pada HIPISA. “Cut! Icuttttttttt!” Aku terkesiap. “Absenn, absen…” Ujar Manda. “Ehmm…hadirr Buk!” Sesaat kurasakan angin lembut membelai sukma hingga membuat nafasku terasa segar kembali. Allah…, aku terlanjur jatuh…di singgasana-Mu.




Sabtu, 28 Juni 2014

Misteri Gubuk Petir

Senja melambai belahan bumi, pesisir yang masih menyatu dengan tubuh Serambi Mekkah itu masih saja indah seperti pertama kali kupijak tanahnya. Arah pukul sembilan dari tempatku duduk terdapat sebuah gubuk yang terlihat lumayan seram,  pandanganku dari  luar. Gubuk itu. Ah, ada nyeri di ulu hati acapkali aku melihatnya. Trauma itu ternyata  masih membekas di jiwaku.

Siang itu, kala mentari perlahan berpamitan. Aku yang masih kelas lima sekolah dasar belum juga pulang ke rumah. Aku sedang asyik bermain tanpa sadar hari telah uzur, azan menyadarkan aku dan teman-teman. Lantas aku panik. Orangtuaku tentu akan memarahiku, jika aku telat pulang. Apalagi setelah ayah tak berhasil menemukanku di sekitar rumah. Karena aku bermain di kampung sebelah. Hari ini, pertandingan bola antara tim terbaik kampungku dan kampung tetanggaku. Pun kegelisahanku kian bertambah tatkala petir tanpa diundang tiba-tiba saja datang. Lalu disusul air yang tumpah dari langit.
”MasyaAllah,” ringisku.
Petir pertama dan kedua kulewati. Pada petir berikutnya aku sungguh tak dapat berkutik. Kondisi hujan dan petir membuat suasana langit menjadi gelap. Hanya petir yang sesekali memberi penerangan jalan.
”Oh, bagaimana ini?”.
Tanpa pikir panjang, aku berhenti dan berteduh di sebuah gubuk reot yang dihuni oleh seorang nenek tua.
”Mari, cu, berteduhlah di dalam?,” sahutnya dengan logat daerah yang masih kental.
”Oh, tak usah nek. Aku di sini saja,” tanganku mendekap tubuh kuyup, tak berhasil menutupi getaran tubuh yang menggigir dipagut dingin.
”Tuh, kau bisa-bisa masuk angin dan sakit. Ayo masuk. Jangan takut,”
Kakiku melangkah masuk dan cahaya dari dalam perlahan menerangi pandanganku. Cahaya  teplok dari arah kamar nenek tua itu. Tanpa dipersilahkan, aku segera duduk di lantai tanah beralaskan tikar lusuh di ruang sempit itu. Tak lama ia pun kembali sembari membawa segelas teh hangat serta teplok yang seperti hanya itu miliknya. Meski merasa canggung, teh hangat itu perlahan habis aku seruput. Lantas hujan kian deras terdengar dari luar. Aku dan nenek tua ramah itu berbincang ringan.

Sekitar satu jam lebih aku bernaung di gubuk itu. Namun, hujan tak kunjung reda. Pun kesunyian kian meraja. Keresahan yang sempat tertunda karena perbincangan hangat antara aku dan nenek tua kembali melanda.
”Kau pulang setelah hujan reda saja”
”Tapi, sepertinya hujannya masih sangat lama reda, nek”
”Yasudah, kau pulang besok saja”
”Oh, tak mungkin nek. Aku takut orang tuaku marah.”
”Tak mengapa”
“Nanti biar nenek yang menjelaskan pada mereka.”
Setelah itu aku tak berkata-kata lagi. Diam. Pasrah. Sembari dalam hati berdoa agar langit berbaik hati padaku agar hujan segera berlalu. Dan petir pun lenyap, kendati sebentar saja.

Ternyata doaku belum terkabulkan. Atau memang ada hal lain di balik semua itu. Hujan masih saja turun dengan gairahnya. Hanya petir sesekali baru menyala. Namun begitu pepohonan masih meliuk, membungkuk, nyaris mencium tanah tertiup angin yang kencang. Nenek tua kembali dari kamar lalu memegang tanganku tanpa suara. Kupikir itu merupakan isyarat untukku supaya segera tidur. Anehnya, aku seperti tengah bersama nenekku sendiri. Jadilah aku tidur bersamanya di kamar yang begitu sempit. Di atas kasur usang yang terhampar di tanah.

Mataku perlahan terbuka, kurasakan jantungku berdegub kencang tak karuan. Ada yang aneh. Tubuhku seperti dikerubungi laba-laba. Serasa geli, kubuka perlahan mataku. Dan, sial! Menyadari hal yang tak wajar hendak terjadi. Aku segera berlari menerobos kegelapan. Kudobrak pintu berbahan nipah hingga rusak sebagian sisinya. Tak perduli, berlari menembus rinai hujan yang kian menipis. Antara petir yang masih menyisakan suara-suara menggelegar. Aku berlari sekuat tenaga. Setengah sadar, setiba di rumah tubuhku ambruk, Lalu gelap. Esoknya, gubuk nenek tua itu ramai dikunjungi pelayat. Kabarnya ia mati tersambar petir. Hingga kini gubuk itu dibiarkan begitu saja. Sesekali bila malam minggu tiba anak muda berkumpul dan menghabiskan malam di sana.
”Gluduk”

”Astaghfirullah”


Kutatap langit, bagai suatu jaringan yang di dalamnya terdapat urat-urat yang terungkap secara tak teratur. Dan urat-urat itu memancarkan kilatan cahaya yang sampai ke bumi. Tak lama berselang. ”Byuurr,” aku beranjak dari ambal pasir putih lalu berlari pulang. Tepat, kala tubuhku bersisian dengan gubuk tua itu, kilatan cahaya menyorot ke bumi. Sedetik, sosok nenek tua tersenyum di pintu rumahnya dan hilang bersama gelap yang kembali. Kupercepat langkah, entah seberapa cepat.


Banda Aceh, 2012

Senin, 09 Juni 2014

Elegi Dua Purnama



google.co.id

Lagi. Malam mengintip di balik jubah hitamnya. Malam yang tampak bertuah bagi suatu kondisi, dingin dan penuh angin. Di balik dinding rumah, badai mengamuk. Hujan ditumpahkan dari langit begitu deras, dan untuk sekejap saja raungan senjata tinggal jadi kenangan.
Di satu sudut terpacak sebuah rumah. Aku tinggal di sini bersama orangtuaku. Sementara Ayah menghabiskan waktu demi waktu dengan teman perwira-perwiranya di ruang tamu, Aku dan Ibu mendengarkan dentuman-dentuman longsong peluru di kejauhan di dalam rumah. Aku sungguh lebih suka mendengar kicauan burung saat ini sebab kecamuk perang sangat mengganggu.
Itu dulu. Beberapa waktu lalu. Tepatnya beberapa tahun yang lalu manakala aku tengah duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu untuk terakhir kali sebelum damai berkumandang di daerah ini, aku ingat Ayah dengan langkah seribunya berjalan tanpa menjawab pertanyaanku. Esoknya baru kutahu bahwa semalam Ayah berhasil menangkap tujuh anggota pemberontak. Wajah Ayah siang itu tampak cerah kendati dalam kondisi lelah. Sebenarnya aku tak begitu paham terkait bentrok yang terjadi antara golongan Ayah dan golongan pemberontak. Aku hanya tahu bahwa mereka selalu berselisih. Berbeda dengan saat ini. Aku di usia dewasa ini. Semuanya terpaksa terungkap. Ya. Terungkap dengan sendirinya. Terungkap oleh keadaan.
Dan saat ini. Aku sungguh mengerti. Ternyata keindahan yang telah kualami selama beberapa bulan ini harus berhenti. Mimpi telah berakhir. Dan aku terpaksa bangun, bangkit dari pembaringan ini. Ya. Aku pun akhirnya bangun dan.. ''Khadijah, bangun!'' Kukira ini panggilannya setelah beberapa panggilan sebelumnya. Ah, Ibu! Maafkan aku. ''Hoamm! Ehm!'' Ibu lantas seperti biasa menarik selimutku. Seperti biasa bila aku terlambat bangun. ''Khadijah, mengapa matamu bengkak? Menangis lagi?'' Tuduhnya padaku. ''Hmm. Mungkin Bu. Dijah lupa. Entah menangis dalam nyata atau mimpi. Ah. Mungkin saja mimpi.'' Ia tertegun sejenak. ''Hm. Yasudah. Bangunlah, subuh hampir habis.'' Aku bergegas bangun meninggalkannya yang masih termangu. Berharap ia akan bercerita tentang ini pada Ayah. Ya. Supaya Ayah tahu bahwa aku begitu menderita karena egonya.

***
Aku melihat awan menyebar di langit pucat Serambi Mekah. Aku terlalu lemah untuk mengakui langit itu cerah saat ini. Mungkin karena mataku yang telah memburam. Atau virus yang menggerogot hatiku telah menyebar hingga saraf otak. Dan akhirnya semua menjadi kacau. Au! Hahaha! Ahhhhh! Jeritan batin. Percuma. Tak ada labirin yang menangkap. Kecuali satu. Tuhan. ''Tidiiiitt!'' Ponselku menjerit.
''Dijah, tolong angkat teleponku!'' Kualihkan pandangan ke cermin mungil di jariku. Kudapati diriku tengah berharap mencintai seorang lelaki yang memujaku selama bertahun-tahun. Aku bimbang. Kenangan itu terlalu menyakitkan. Lidahnya kerap membuatku tersenyum, terkecuali hari ini. ''Kriiiing!'' Ponsel itu berderit lagi. Kali ini kutolak. Lalu segera mematikan benda kecil itu. Berharap tak terusik lagi olehnya. Karena, aku selalu lemah bila sekali saja mendengar suaranya.
***
Senyumnya mengembang, lalu pupus oleh sekelebat suara yang membisik di telingaku. ''Aku ingin kau jujur sekarang. Apa yang terjadi?'' Tanya Zulfan dengan sorot mata penuh.
''Aku bosan.''
''Bohong.''
''Terserah. Aku ingin kita berpisah. Mungkin hanya takdir yang dapat menyatukan kita lagi suatu saat. Mengertilah!''
''Tidak! Tak mudah aku medapatkanmu. Jadi, tak mudah pula aku melepasmu.''
''Oya? Yasudah kalau begitu. Terserah Kamu. Aku mau pulang.''
''Silahkan.''
Dan senja menjadi saksi perpisahan sepasang merpati. Sepasang merpati yang harus terpisah karena kematian salah satunya. Mati akibat ditembak oleh seorang purnawirawan. Ditembak tepat di hatinya. Au!
***
''Ayah ingin kau menjauhinya. Ayah membenci pemberontak. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Mengerti?'' Rangkaian kalimat yang menohok. Rangkaian kalimat yang serupa belati menancap di ulu hati. Bengis. Di satu sisi Ayahlah yang telah memberi segenap cintanya, hidupnya untukku. Anak satu-satunya. Namun, di sisi lain Zulfan. Lelaki yang dengan segenap keberaniannya mencintaiku. Memilihku sebagai penghuni hatinya. Kendati butuh banyak kendala. Kendati begitu sulit ia meluluhkan pertahananku. Dan kini, setelah aku jatuh di singgasananya, lalu merasa nyaman, bahkan “terlalu” hingga aku merasa berat untuk beranjak darinya, semua justru harus luluh lantah. Semua harus berakhir dengan keputusan yang harus kutelan sendiri. Seorang diri. Karena, meski Zulfan merasa hancur. Setidaknya tak seberapa dibanding diriku yang harus mati-matian menjaga perasaan kedua orang yang kucintai dengan mengorbankan perasaan sendiri.
Zulfan memang pernah bercerita tentang satu rahasia besar hidupnya. Tentang Ayahnya yang dahulu ialah seorang pemberontak. Sempat mengalami penahanan. Miris. Salah satu dari perwira yang menangkap tak lain adalah Ayahku. Maka, tak heran jika kali pertama Ayah dan Zulfan bersua menjadi kali terakhir pula. Mungkin semua telah terencana oleh-Nya. Namun, siapa yang dapat menerima kenyataan pahit terkait hati dalam tempo yang begitu singkat dan mendadak? Hanya waktu yang dapat menjawab. Benarkah? Entahlah. Lihat saja nanti. Aku hanya ingin menangis tiap malam. Dan berharap Zulfan berhenti mempertanyakan. Karena, selamanya aku tak mampu menjawab.
***
Pagi kembali. Kulihat Ayah begitu cekatan dari biasa. Serupa beberapa tahun silam, Ayah dengan langkah seribunya berjalan tanpa menjawab pertanyaanku. Aku tahu ia telah setahun menjadi purnawirawan. Aku tahu pula bahwa hal itu hanya sedikit mengurangi kelincahannya. ''Ayah mau pergi kemana Bu?'' Bisikku. Ibu hanya menggeleng. Aku mendesah. Dan petangnya kutangkap aura lelah di wajahnya. Ah, tidak. Aku tak tahu bagaimana cara melukiskan kondisinya. Mungkin lebih dari itu. Namun, aku dan Ibu tak berani bertanya. Sepatah pun.
''Tidiiiiit'' Satu sms masuk. Segera kubaca. Berharap itu Zulfan. Maklum. Sesekali rindu ini kerap mendera, tapi gengsi untuk mengadu. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Benarlah ini SMS darinya. Tapi, tunggu! SMS-nya membuyarkan gejolak hati.
''Assalamu'alaikum. Aku sudah tahu semuanya. Pagi tadi aku menemui ayahmu. Ah! Mengapa kau tak katakan langsung padaku. Ini sungguh lebih mengecewakan. Tapi, yasudahlah! Aku takkan berhenti. Karena, jodoh bukan di tanganku, Kau, atau ayahmu. Tapi, di tangan Tuhan. Mungkin ayahmu membenci pemberontak. Tapi, ayahku bukan pemberontak Tuhan. Ia hanya membenci penghianat. Bagiku ia pahlawan. Ayahmu terlalu skeptis melihat semua itu. Tapi, aku maklum. Jangan takut. Aku masih dan akan selalu mencintaimu, sayang. Assalamu'alaikum.''
Jilbabku tidak terlalu tebal dan panjang, tapi terasa berat seketika. Perutku mual. Aku ingin pingsan, namun kenyataannya tidak. Dalam pada itu aku hanya dapat terduduk lemas. Masih tak percaya terhadap kenyataan yang baru saja terjadi.
***

Senja kala. Samar-samar kucium aroma kopi. Kopi. Ah, pada akhirnya aku dan Zulfan dapat saling bicara namun tanpa kata. Kami tetap dapat merindu tanpa batas waktu. Dan, itu terus terjadi. Hingga pada suatu petang. ''Dorrrr!'' Sebuah tembakan terdengar keras dari arah yang tak sempat kutangkap. Kegelapan seketika mengikutiku seperti sebuah bayangan. Sebuah bunyi terdengar lagi. Ibu berteriak. Aku melompat dari tempat dudukku dan berlari menuju sumber suara. Rasanya air mataku tak mau mampat ketika aku terisak dan memeluk Ayah. Kudekap tubuhnya yang ringkih. Dengan suara serak aku menuntunnya mengucap tahlil. ''Laa ilaa ha illallaaah.'' Ia menutup mata di pangkuanku. Saat itu Ibu terlambat menyusulku.

DeTaK, 2013

Suara-Suara Angin (Episode 3: Hijrah)


Hijrah


                Malam ini seolah bertuah bagi Mala. Betapa tidak, suasana hujan tentu akan memaksa penduduk sekitar untuk berdiam diri di dalam rumah. Ah, lebih tepat lagi menikmati suasana hujan, dingin berangin di dalam kamar. Sama halnya dengan kedua orang tua Mala. Keduanya telah lelap sejak sejam yang lalu. Mala menatap jarum jam di lengannya. Pukul 01.35 wib. Hujan memang begitu lebat, tapi tanpa kilat. Lamat-lamat Mala melangkah keluar rumah. Kunci rumah di lempar kembali lewat celah pintu bagian bawah. Setelah payung terkembang, ia pun mulai menyusuri hujan. Setapak demi setapak. Hanya gelap, gemericik hujan, dan  suara tapak kaki yang beradu dengan aspal yang menemani hingga tiba di jalan besar.

            Mala mulai menggigil. Jaket jeans-nya tak mempan terhadap dinginnya hujan. Kakinya mulai gemetaran. Entah telah berapa kilometer jalan ditempuh oleh Mala. Suasana malam yang basah membuat jalanan kosong oleh kendaraan. Mala tak perduli, tujuannya satu, terminal. Dan, lantas ia pun terus berjalan seiring langit memudar. Dan hujan menghindar. Saat itu, ia telah sampai di terminal.

Pukul 06.15 wib.  Mala tak lupa menunaikan subuhnya di masjid yang terpajang di terminal. Usai itu ia segera menuju kantin. Syukurlah, saat itu beberapa kantin mulai membuka warungnya. Mala mengisi perut di salah satunnya. “Mau sarapan apa, Kak? Lontong atau nasi?” Tanya perempuan berparas Aceh campuran india arab. Aku asal menebak, karena raut wajahnya begitu khas.
“Ehm, lontong aja, Kak.”
“Minumnya?”
“Teh manis hangat, Kak”
“Bentar ya Kak”
Aku duduk di salah satu kursi menghadap ke jalan. Selang beberapa menit perempuan berparas india campur arab itu datang membawa pesanan. Tak butuh waktu lama untukku mengosongkan piring dan gelas itu. Selain lapar, aku doyan juga.

***

Bus melaju dengan pelan melewati pintu keluar terminal. Mala memilih bus paling pagi. Dan pukul 09.00 wib adalah keberangkatan paling awal. Dialihkan pandangannya ke jendela kamar. Mereka masih melewati kawasan berpenduduk. Ada sekelompok ibu-ibu yang berkerumun di warung penjual sayur mayur. Ada lelaki tua yang mengayuh sepeda di pinggir jalan. Diam-diam Mala menebak ia hendak pergi ke ladang. Ups, terlihat pula bocah laki-laki berusia kira-kira sepuluh tahun berjalan di antara kendaraan yang berhenti karena lampu merah. Bocah itu menggendong setumpuk koran. Dalam hati Mala bergumam, “Apa dia tidak sekolah? Ah, mungkin dia mendapat jatah sekolah sift siang hingga sore,” jawabnya dalam hati, menghibur diri. Ditariknya nafas dalam-dalam lalu segera menghembuskannya lagi. Mala merasakan nafasnya bercampur dengan udara pagi yang basah. Tiba-tiba aku teringat Ayah dan Ibu. Diintipnya ponsel mungil yang kerap menemaninya itu di saku tas, tergeletak tanpa nyawa.

Perjalanan telah berlalu sekitar dua jam. Mala melirik kursi sebelah yang masih kosong. Untuk sesaat kondisi ini membuatnya nyaman. Namun, tidak pada saat selanjutnya. Karena, bus tiba-tiba berhenti di salah satu halte di daerah perbatasan Aceh-Medan. Dan, duduklah seorang ibu-ibu bersama seorang bocah perempuan di gendongannya. Mala kira wanita itu seusia dengan adik mama, tante Reni. Sedang anaknya, tentu masih sekitaran dua tahun. “Tante, tante, kenapa liatin dedek telus? Dedek antik yah?” Lamunan Mala terpecah. Mala terperangah. Takjub. “Haa? Eh, iya! Tante suka liat dedek, karena cantik,” jawabnya dengan spontan. Mala menangkap ibunya tersenyum mendengar percakapan kami.  Dalam sekejap, Mala dan ibu beranak itu menjadi akrab. Terakhir Mala tahu, wanita itu ternyata adalah seorang janda. Ia dan suaminya menikah empat tahun lalu. Selang dua bulan setelah kelahiran sang buah hati, suaminya memutuskan untuk merantau ke Medan dengan berbagai pertimbangan. Awalnya Marni keberatan, tapi demi si buah hati, ia pun rela. Tak disangka, komunikasi terputus setelah setahun kepergian suami. Padahal, sejak pertama kali merantau, suami Marni baru sekali pulang. Saat ini, Marni tak mampu lagi menahan gejolak rindu. Bukan hanya itu, ia juga tahu, sang putri tentu diam-diam merindukan sosok seorang ayah. Marni sering memergoki Dedek tengah memperhatikan anak-anak tetangga yang sedang asyik bercanda dengan ayah mereka. Bahkan, tak jarang pula, Dedek mengigau menyebut-nyebut nama ayahnya. Padahal, sejak ia menatap dunia, hanya sebentar ia melihat ayahnya. Namun, mengapa terlihat begitu dalam tali ikatan batin yang bersarang di jiwanya? Entahlah.  Barangkali, Rizal juga menyimpan rasa yang sama.

Bukannya Marni tak pernah mengadu pada polisi. Lebih dari itu, Marni dan keluarga telah menghubungi wartawan harian lokal maupun nasional untuk memasang pengumuman, menyebar dan menempel selebaran di sepanjang kota Medan dan Aceh. Terakhir, membuat acara kirim doa selama tiga hari berturut-turut. Memohon bantuan sang Maha Tahu. Berharap Rizal akan kembali baik dalam keadaan hidup maupun sebaliknya. Marni dan keluarga telah pasrah. Jujur, aku begitu tersentuh dengan kisah ini. Mala yang mempunyai keluarga lengkap dan begitu menyayangiku justru memilih pergi hanya gara-gara seseorang yang bahkan belum tentu memikirkan nasibku sekarang. Bocah ini? Hmm… Diam-diam aku meneteskan air mata. Dalam hati aku memohon ampun pada Allah swt. agar senantiasa menjaga dan melindungi ibu dan ayah. “Aku hanya pergi ‘tuk sementara…,” alunan lagu Pasto mengalun indah. Membuai sukma para penumpang hingga terlelap dalam mimpi sepanjang perjalanan memasuki Medan.


Jarum jam menunjuk angka 09.35 wib. saat bus tiba di terminal Kota Medan. Seluruh penumpang turun dari bus bagai semut yang keluar dari sarangnya. Sesaat Mala merasa bingung. Pasalnya ini kali pertama aku menginjak tanah ini sendiri. Mala buta akan wilayah ini. Tanpa berpikir lama, Mala melangkahkan kaki menuju salah satu rumah makan yang kupastikan berlebel halal. Rumah makan “Rahmat” khas Minang.

Terminal masih ramai. Banyak calon penumpang, supir, kernet, pedagang asongan, atau penduduk setempat yang lalu lalang melewati terminal untuk berbagai tujuan. Kutatap piring nasi telah bersih. Gelas berisi teh hangat pun kosong. Mala tiba-tiba teringat Ibu dan Ayah. Mala kangen. Mala merasa berdosa. Tapi, manakala Mala berniat menghidupkan ponselnya untuk menelpon orangtua, bayangan ketakutan muncul kembali. Mala khawatir jika ia menghubungi orangtuanya sekarang, maka rencananya untuk pergi jauh akan terhambat atau bahkan batal. Kini, Mala semakin yakin untuk hijrah. Mala ingin pergi ke suatu tempat yang jauh. Jauh dari kesedihan, ketakutan, kesunyian, kerinduan yang tak ada ujung. Walau demikian, Mala tetap akan kembali. Tapi, nanti. Ketika ia telah terobati. Ketika ia telah benar-benar pulih.

Mala menatap musalla dengan perasaan campuraduk. Memang di saat-saat sulit manusia cenderung merasa lemah tak berdaya. Hingga kemudian merasa tak ada yang mampu menolong kecuali Dia, Allah sang Maha Penyayang. Mala merasa selama ini ibadahnya telah menurun. Ia telah sebulan tidak menyentuh Al-Quran. Shalat hanya wajib saja yang dikerjakan. Sekadar memenuhi kewajiban tanpa melaksanakan yang sunnah. Padahal, sebulan itu Mala juga merasa sulit, namun mengapa ia seakan tak peka? Mungkin saat ini Mala benar-benar merasa sendiri. Tak ada orang tua. Tak ada teman. Tak ada siapapun, kecuali Ia. Allah sang Maha Penyayang. Mungkin saat itu Mala merasa bahwa ia diciptakan sebagai manusia yang paling menderita. Kesedihan membuatnya lebih mendengar bisikan kemalasan, ketimbang pendekatan diri pada Allah. Ditatapnya mobil bus dan L300 masih berjajar rapi di lapangan terminal. Sedangkan supir dan kernet masih sibuk memburu penumpang. Sesaat kemudian, Mala mengalihkan pandangannya kembali pada mushalla. Lebih dalam, lebih mantap.

Wajah Mala terlihat lebih cerah usai melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Senyumnya semakin merekah manakala ia mendapati seorang supir tengah melambaikan tangan ke arahnya. “Jakarta, waiting for me!” Mala berucap dengan pasti. “Mau ke Jakarta, Mbak?” Tanya supir ketika Mala mendekati bus. “Iya, Bang!” Setengah jam kemudian, bus melaju dengan mulus. Semulus rencana Mala. Rencana yang penuh dengan misteri. Karena, Mala sendiri belum tau pasti apa yang akan ia lakukan nanti di ibu kota pertiwi.

Bersambung...